Duda Keren Cari Jodoh

Duda Keren Cari Jodoh
Bab. 54


__ADS_3

"Bang." Suara panggilan Aqilla mengentak kesadaranku.


"Oh, iya, apa?" tanyaku gugup.


"Kak Anna tadi ke mana? Aku tadi enggak Sampat menyapa soalnya, keburu mau ke toilet," terang Aqilla sambil tersenyum dengan wajah pucatnya.


"Dia sana keluarganya. Aku enggak kepikiran apa-apa lagi selain kamu tadi, jadi aku enggak tahu mereka di mana," ungkapku jujur.


Aku belum jadi melangkah mencari es krim pesanan Aqilla. Lebih memilih kembali mendekatinya, kemudian berjongkok di hadapan istriku itu. Tanganku menggenggam tangannya yang berada di pangkuan.


"Boleh aku jujur mengatakan sesuatu," kataku lembut. Lantas, melihat sekitar yang tampak sepi. "Aku tahu, mungkin di sini bukan tempat yang tepat. Tapi aku tidak bisa menahan diriku untuk mengatakannya," ungkapku.


Aku menatap lekat. Sesaat, kami diam dengan mata saling bertemu, mengunci di udara.

__ADS_1


Mata Aqilla mengerjap pelan, menunggu apa yang akan aku utarakan kepadanya.


"Maafkan aku ya ... tadi saat aku bertemu Anna, aku begitu saja menyapa dia. Kemudian mendekati Anna, tanpa menarik tanganmu. Dan saat sadar bahwa kamu enggak ada, aku begitu kebingungan. Khawatir, cemas sekaligus takut menghantuiku beberapa saat tadi."


Aku menjeda kalimatku, menarik napas sebanyak-banyaknya. Sesak itu kembali datang. Jika ingat bagaimana keteledoranku tadi, ingin sekali tanganku ini memukul kepala sendiri agar sadar diri.


"Saat mencari keberadaannya tadi, aku enggak ingat apa pun. Saat itu pula aku berjanji enggak akan mengalihkan tatapanku terhadapmu."


Aku menunduk, mengangkat tangan Aqilla dalam genggaman dan mencium punggung tangan itu penuh perasaan. Dan, ketika aku kembali mendongak tampak jelas mata wanita itu memburam oleh air mata.


"Sejujurnya ...." Aqilla menghapus titik bening yang mengalir ke pipinya menggunakan satu tangannya yang bebas. "Aku tadi sempat kecewa saat Abang begitu saja meninggalkan aku. Tapi, saat mengetahui Abang yang menyusulku ke toilet, rasa kecewa itu entah mengapa tiba-tiba menguap begitu saja. Aku senang, Abang masih peduli padaku tadi. Terima kasih, Abang."


Detik ini juga aku langsung mendekap Aqilla penuh perasaan dan banyak janji yang terucap di kepala. Aku tidak akan meninggalkan Aqilla lagi, tidak akan pernah.

__ADS_1


"Maafkan aku," ucapku lirih dan bisa kurasakan anggukan kepala Aqilla di dadaku. Serta merta, aku kecupi pucuk kepala wanitaku ini. Inilah wanita kesayanganku.


"Aku ikut aja deh beli es krimnya, nanti sekalian makan. Tapi, kita bayar belanjaan dulu ya," kata Aqilla saat pelukan kami terurai.


"Iya, Sayang." Aku tersenyum dan mengelus kepala Aqilla dengan sayang.


Setelah membayar belanjaan dan memilih restoran yang sesuai selera Aqilla, aku pun bergegas menyimpan semua belanjaan ini ke mobil. Tidak masalah jika harus bolak balik, yang penting istriku itu tidak kerepotan.


Setelah pekerjaan ini selesai, aku pun segera menghubungi Adrian. Menanyakan keberadaan mereka.


"Aku ada di restoran lantai dua. Makan bareng aja yuk!" ajakku yang langsung disetujui Adrian.


Aku memasukkan ponsel ke kantong celana, lalu melangkah menuju lift untuk kembali ke lantai dua. Menunggu antrean sebentar karena banyak pengunjung yang menggunakan lift itu.

__ADS_1


Setelah dapat giliran, barulah aku bisa masuk ke kotak besi itu. Tidak sabar untuk bisa melihat Aqilla. Namun, aku teringat sesuatu. Aku harus membeli sesuatu untuk memastikan kondisi Aqilla. Maka, aku pun mengirimkan pesan kepada Aqilla agar mau menunggu kedatanganku sedikit lebih lama.


Tidak ingin membuang waktu, aku bergegas ke apotek yang lokasinya ada di luar gedung mal ini. Membeli alat tes kehamilan. Senyumku mengembang sempurna ketika membayangkan apa yang ada di kepalaku ini menjadi kenyataan. Ada David junior di dalam perut Aqilla. Ah sungguh menyenangkan. Aku sudah tidak sabar menunggu kabar bahagia itu.


__ADS_2