Duda Keren Cari Jodoh

Duda Keren Cari Jodoh
Bab. 11


__ADS_3

Aku sering heran dengan yang namanya wanita. Iya, apalagi dengan mamaku.


Tubuhnya ringkih, lemah, lesu, lunglai karena memang sedang sakit. Makan aja susah, ngomong apalagi.


Semuanya serba dilayani di ranjang.


Entah pembawaan umur, atau karena sakit manja. Uups.


Aku menepuk kepala. Bisa - bisanya ngatain orang tua sendiri. Fix. Kata durhaka cocok tersemat untukku.


Ya itu, herannya saat ngomel. Kok ya, kuat yaa. Suaranya melengking memekakkan telinga. Sampai panas mendengarkannya.


Padahal melakukan apa saja dibantu pembantu. Dibantu.


Oke. Lupakan sejenak soal Mama. Aku telah kehabisan akal merayunya yang tengah merajuk karena aku yang tidak menemui anak temannya.


Mengingat itu, aku segera meraih ponsel. Membuka layar, mengecek pesan WA satu per satu. Bukan hanya sekali dua kali, melainkan berkali - kali. Sialnya, pesan yang aku cari tetap tidak aku dapatkan.


Benar - benar menyebalkan.


Mendadak sekelebat bayangan senyum manis Qila menari - nari di pelupuk mata. Apa aku telah terpesona oleh senyuman itu?


Suara ketukan di pintu membuyarkan kepingan wajah Qila yang masih melekat di pelupuk mata.


"Masuk!"


Sekretarisku dengan langkah anggun berjalan menuju meja. Tidak lupa, dalam dekapan tangannya terselip map - map yang siap aku periksa.


Terus, ngapain juga aku pake acara mengomentari langkahnya. ck. Dasar.


"Ini, Boss. Dibaca dan langsung ditandatangani , ya ... ditunggu Pak Adrian juga soalnya. Nanti setelah dari sini mau diantarkan segera ke kantor beliau," jelas wanita itu.


"Oke," balasku singkat. Lantas tatapan mataku fokus pada lembaran berkas yang berada di atas meja. Membukanya lembar demi lembar jangan sampai ada yang terlewat.


Lantas aku pun menyadari sesuatu. "Lho, kenapa kamu masih di sini?" tanyaku heran pada sekretarisku itu.


"Iya, saya sengaja menunggumu, Boss," jawabnya malu - malu. Kedua pipinya tampak merah merona dengan seulas senyum yang terkulum.


Aku mengernyitkan dahi, mendongak menatap matanya yang sebenarnya aku bingung mengartikan tatapan itu.


"Apa?" tanyaku.


"Hmm, Boss David nanti siang mau makan bareng gak?" tanyanya masih dengan pipi merona. Namun, kali ini wajahnya tertunduk dalam. Menyembunyikan malunya, mungkin.


"Apa ada jadwal ketemu klien?" tanyaku dengan mata menyipit. Aku yakin, kerutan di keningku sudah semakin banyak.


"Sebenarnya, enggak ada. Hanya ...."


Aku menatap tajam wanita itu, dia tampak salah tingkah.


"Jika berkenan, saya ingin makan berdua dengan Boss David," ujarnya lirih.


"Jadi, kamu mengajakku makna berdua gitu?"

__ADS_1


Dia mengangguk.


"Arsita, dengar. Sebenarnya aku mau ...."


"Benarkah?" Arsita mendongak dengan binar mata yang aku yakin bintang - bintang di malam hari bisa saja malam ini tidak akan berkelip. Sebab telah berpindah tempat ke mata itu.


"Gini, maksud aku. Sebenarnya aku mau makan berdua denganmu. Hanya saja, aku siang ini sudah ada janji. Mungkin kita bisa makan lain kali. Bagaimana?"


Tiba - tiba, binar seterang bintang itu meredup. Seperti pekatnya malam yang tiada bintang.


Ck.


aku berdecak kesal. Berhubungan dengan makhluk bernama wanita sering membuatku pusing.


Akan lebih mudah berhadapan dengan tumpukan pekerjaan, ketimbang berurusan dengan mereka itu.


Ah, sepertinya aku butuh Adrian.


Dia memang ahli dalam segala bidang.


"Oke, sorri. Aku ...." Lha, kenapa aku harus jadi bingung begini.


Lagian enggak ada larangan, 'kan? aku menolak ajakan dia.


Benar - benar menyebalkan.


"Eng ... enggak apa - apa, Bos. Saya mengerti kok. Kalau begitu saya permisi." Setelah mengucapkan kalimat itu, Arista pergi dengan langkah tergesa gesa.


Sedangkan aku, menatap kepergiannya dengan wajah frustrasi.


***


"Hai!" setelah menunggu beberapa menit, akhirnya pintu itu terbuka.


"Lho, Bang David?" tanya wanita itu dengan wajah terkejut.


"Boleh numpang makan siang enggak?"


Bodoh dah, kalau dikira aku gak punya modal. Yang penting bisa makan di sini, lihat dia. Itu sudah cukup.


"Sendirian, Bang?" tanyanya.


"Ya. Belum punya pasangan, sih," balasku cuek. "Jadi, boleh enggak?"


"Oh, iya. Silakan masuk. Gak sopan juga kalau aku usir, 'kan?" dia meringis.


"Hai, Putri. Tambah cantik aja," sapaku kepada Putri yang tengah asyik bermain dengan pengasuhnya.


"*#*#*#*#" Aku garuk - garuk kepala mendengar ocehannya yang tidak aku mengerti.


"Dia lagu merajuk, Bang." Sang mama mencoba menjelaskan.


"Oh, pantes." Aku mengangguk - angguk. "Mau es krim enggak?" tawarku dengan senyum terkembang.

__ADS_1


Putri mengangguk - angguk. Apa semua anak emang suka es krim ya? Wajah juteknya mendadak berubah manis sekali. Duh, gemas. Boleh enggak ya, cubit kedua pipi mamanya?


Mataku melirik ke arah Anna yang sontak mendapat delikan mata.


Wah, cewek kalau udah jadi ibu - ibu kenapa kalau marah sangat menyeramkan ya?


Aku jadi ingat mama.


Aku meringis, membayangkan tanduk keluar dari kepala Anna.


"Putri enggak boleh ya, makan es krim Om David ngakaknya untuk besok - besok, kalau Putri enggak batuk lagi. Terus, enggak rewel kalau minum obat," terang Anna kepada Putri yang dibalas dengan raungan tangis.


"Abang, tuh, cari perkara aja. Udah dari tadi dia tuh minta es krim. Eh, malah ditawarin," omel Anna.


"Sorri ... sorri ... aku enggak tahu kalau Putri batuk," ucapku tulus.


Aku menyesal karena memang tidak tahu keadaan Putri yang sebenarnya.


"Ya udah, makan sana!" Anna berujar sembari melangkah menuju meja makan. Menata piring di meja , tidak lupa mengisi piring dengan nasi.


Duh, dia kenapa selalu baik begini, sih? Makin enggak bisa move on hati aku.


Aku menikmati santapan siang dengan lahap. Ditemani Anna seperti ini rasanya tidak ingin nasiku cepat - cepat habis. Namun, gerakanku tidak mencerminkan keinginanku untuk berlama - lama di sini.


Pasalnya, sedari tadi aku tidak berhenti menyendok dan mengunyah.


Rasanya sudah lama sekali aku enggak makan makanan seenak ini. Senikmat ini. Selezat ini.


Habis satu piring, tambah satu piring lagi. Wah, ini lapar apa rakus?


"Kamu kok enggak makan?" tanyaku dengan mulut penuh.


"Iya, nanti. Nunggu suami pulang," ucap Anna.


Seketika aku tersedak. Detik itu juga aku pun tersadar. Jika hubungan kami sudah sangat jauh terpisah. Andai Anna berlaku baik padaku, itu karena aku dan suaminya adalah teman baik. Tidak lebih.


Apakah jika aku dan Adrian tidak dekat? Kamu masih bersedia menerimaku masuk ke rumah ini, Anna?


Ya Tuhan! Apa yang aku pikirkan.


"Duh, hati - hati, dong, Bang." Anna membantuku minum, sembari menepuk - nepuk punggungku. Saat bertepatan dengan terdengarnya suara dehaman dari arah belakang kami.


"Mas Adrian," panggil Anna lirih.


Mata Adrian berkilat tajam. Apa dia cemburu?


Entah mengapa, aku senang melihat reaksi wajahnya. Menikmati setiap gurat kemarahan yang lelaki itu tampilkan.


Apa yang kau harapkan, David.


Otakku kembali bersuara. Sayangnya, kali ini perasaanku sedang melambung tinggi.


Aku tersenyum kepada Anna yang tampak salah tingkah. Memegang tangannya yang masih berada di punggungku.

__ADS_1


"Terimakasih," ujarku dengan ringisan penuh arti.


__ADS_2