
Sejak obrolan serius dengan Mama aku mulai melancarkan strategi untuk segera menemukan si wanita dari kahyangan itu.
Aqila, di mana kau berada?
Sudah cukup aku merasakan kehampaan dan permainannya oleh wanita. Tolong! Untuk kali ini saja, biarkan aku menemukan jodohku.
Sepulang kantor, aku kembali mencari jejak keberadaan wanita bernama Aqila itu.
Tidak hanya diriku yang mencarinya, tetapi aku telah mengerahkan beberapa orang terpercaya untuk membantuku.
Aku harap, hari ini adalah hari terakhir pencarian kami.
Aku harap, hari ini semua lelahku menemukan hasilnya.
Aku pulang ke apartemen. Memeriksa berkas yang harus segera diperiksa.
Di antaranya, berbagai laporan perkembangan hasil pencarian selama sepekan oleh timku.
Ada beberapa pose wajah dan bayangan yang sempat tertangkap kamera. Aku merasakan jika ada titik terang dalam pencarian ini.
Akan tetapi, pada ujungnya, lagi - lagi alamat Aqila belum bisa ditemukan. Sebab wanita itu memang tinggal secara berpindah -pindah.
Apa Aqila sejenis kucing beranak? Yang sewaktu - waktu akan mencari tempat tinggal baru.
Aku berdecak kesal. Membayangkan apa yang akan aku lakukan jika telah menemukannya?
Sejujurnya, aku sendiri bingung. Apa alasanku sebenarnya mencari keberadaan wanita itu?
Bisa saja, 'kan, aku melupakan wujudnya begitu saja. Kemudian mencari wanita lain lagi.
Hei, apa dia kira wanita di dunia ini hanya dia seorang saja.
Dasar si David bego.
Kantuk pun mulai menyerang, membuatku menguap berulang kali. Namun, tubuhku belum bisa menemukan tempat istirahatnya sebab pikiranku masih terus mengembara mencari jawaban.
Suara demo cacing di perut mau tak mau memaksaku untuk menghentikan segala aktivitas.
Aku meraih ponsel, mencari aplikasi tempat di mana berbagai macam makanan dan minuman terpajang di sana. Setelah bertransaksi selesai. Aku dengan tidak sabar menunggu kurir pengantar makanan datang.
Aku memilih menunggu makanan dengan duduk di sofa ruang tamu. Menyandarkan punggung dan kepala di sandaran sofa. Tidak membutuhkan waktu lama, kantuk itu benar - benar menyerangku. Aku terlelap.
Aku pikir, aku sedang menikmati senyuman Aqila entah di belahan bumi sebelah mana, yang tiba - tiba menghilang karena suara ketukan.
Saat aku membuka mata, ternyata tubuhku masih duduk terlelap di sofa. Sedangkan, di luar suara ketukan disertai bel bergantian berbunyi memanggil - manggil.
__ADS_1
Aku mengucek mata, agar kantuk ini segera menghilang. Tanpa berniat mencuci wajah terlebih dahulu, aku segera menuju pintu lalu membukanya lebar bahkan tanpa mengintip siapa si tamu di luar sana.
Ah, ternyata si kurir pengantar makanan. Wanita berkacamata, memakai masker sehingga menutupi wajahnya. Aku tidak bisa mengenali siaap wanita itu.
Setelah mengambil pesananku dari tangannya, aku pun segera berbalik hendak kembali masuk. Akan tetapi, pergerakan kakiku terhenti saat otakku menyadari sesuatu.
Aku segera berbalik, tidak lupa meletakkan bungkusan kantong plastik ke dekat pintu. Lantas segera berlari mengejar langkah wanita tadi.
"Tunggu dulu!" seruku dengan napas tersengal.
Wanita itu berhenti. Bisa kulihat dengan jelas bagaimana rambut hitam kuncir ekor kuda itu bergerak. Seakan waktu berhenti seketika, membuat pergerakan wanita itu melambat.
"Iya, Pak. Apa ada yang terlupakan?" tanyanya cemas.
Tubuhnya menegang seiring langkah lebarku mendekat padanya.
Perlahan, langkah wanita itu mundur selangkah demi selangkah. Kentara sekali jika dia tengah menghindariku.
"Ya, ada yang kamu lupakan," ucapku demi mencegah pergerakan kakinya.
"Ap-apa itu?" tanya wanita itu terbata.
Aku yakin, dia sedang gugup sekarang. Apalagi dengan jarak kami yang hanya tinggal sejengkal ini.
"A-apa yang Bapak lakukan?" tanyanya cemas.
"Sudah kubilang, ada yang kamu lupakan," balasku dengan tatapan tajam menghunus tepat di manik hitamnya.
Wanita itu tampak ketakutan. Sedangkan aku menyeringai licik melihat kabut di kedua matanya.
"Apa itu? Apa yang saya lupakan?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Kamu telah mencuri sesuatu dariku," sinisku. Jemariku erat mencengkeram lengannya yang berusaha menepis cekalan tanganku.
"Apa itu?" Kedua wanita itu menitikkan air mata.
Ah, apa aku semenakutkan itu?
Apa aku sekejam itu pada wanita sehingga membuatnya menangis?
Aku mendekatkan wajah padanya, mengunci tatapannya, membuat matanya tak mampu bergerak ke sana kemari melainkan hanya fokus menatap mataku. Hanya pada mataku.
"Kamu telah mencuri waktuku juga perhatian dariku," bisikku tepat di telinganya.
Wanita itu menoleh, lalu berucap lirih, "Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Kamu tahu, 'kan, aku mencari - cari keberadaanmu sampai ke rumah semut. Tapi, kamu seperti kucing beranakan yang pindah ke sana kemari, Aqila," sahutku sinis.
Tidak pernah terpikirkan olehku jika Aqila akan membalas ucapanku dengan kekehan geli yang terdengar sangat menyebalkan.
Aku sampai meraih dagunya untuk menghentikan ledekan sialan itu.
Aqila mendesis tajam. Aku benar - benar tidak menyangka jika dia akan bertingkah berani seperti itu.
Tanpa ada sangkalan darinya sudah cukup membuktikan jika dia adalah Aqila yang aku cari.
Merasa gemas dan tertantang dengan tingkah lakunya yang sangat berani tersebut. Satu tanganku bergerak cepat untuk melepaskan masker yang menutupi wajahnya itu.
Aku ingin melihat bagaimana ekspresi wajah wanita itu saat dalam mode menantang seperti sekarang.
Sejenak, aku hanya terpana menikmati keindahan penciptaan di hadapanku ini.
Melihat wajahnya yang memerah, membuatku ingin sekali melakukan sesuatu yang tidak bisa kutahan lagi.
Dengan gerakan cepat, aku pun mengambil napas Aqila. Menghirupnya sekuat tenaga. Awalnya penolakan yang aku dapatkan, sampai dia tidak melakukan perlawanan maupun penolakan, tetapi tidak juga membalas apa yang aku lakukan.
Aku seperti tengah mencium sebatang pohon tak berperasaan. Benar - benar sial.
"Jangan harap aku akan membalas apa yang kamu lakukan David. Tidak akan," ucapnya sinis.
Aku menyeringai licik, tersenyum miring. "Aku tidak akan melakukan apa - apa lagi padamu. Kamulah yang akan melakukannya padaku."
Aku kembali merampas napas Aqila, menghirupnya sekuat yang aku bisa. Sejenak aku terpaku saat kurasakan ada balasan dari wanita itu. Walaupun hanya sebentar saja.
"Oke. Kita impas. Sekarang lebih baik, kita kembali ke apartemenku," tegasku.
"Aku bukan anak buahmu yang harus nurut pada apa yang kamu inginkan," ketusnya.
"Kamu memang bukan anak buahku, tetapi calon istriku. Dan calon istri harus menurut pada calon suami. Mengerti?" sahutku tak kalah tajam.
"Heh. Sejak kapan?" protesnya.
Aku tidak langsung menanggapi aksi protes Aqila, melainkan langsung mengangkat tubuhnya naik ke pundakku. Dengan terpaksa aku menggendongnya seperti membawa pikulan beras melangkah lebar kembali ke apartemen.
"Sejak kita bertemu di Kafe itu, dan kamu tidak mengakui jika aku salah orang," ucapku dengan suara berat.
Aku meletakkan Aqila dengan sedikit kasar di atas sofa.
"Kamu saja yang terlalu percaya diri," sinisnya.
Aku tidak menanggapi, lebih memilih mengambil air minum dalam kulkas. Meneguknya sampai setengah botol.
__ADS_1