Duda Keren Cari Jodoh

Duda Keren Cari Jodoh
Bab 18


__ADS_3

Aku menyeringai saat mendengar perut Aqila berbunyi, ada kesempatan berduaan dengannya.


Mau bagaimana lagi, aku selalu ingin berdekatan dengannya. Entah karena alasan perasaan itu mampu mengungkungku. Padahal, Aqila adalah sosok yang biasa saja dari segi apa pun.


Wajahnya yang tanpa polesan make up sepertinya berhasil menghipnotis diriku.


Aku dan Aqila duduk bersisian di sofa, jangan harap dia bisa bergeser menjauh dariku.


Aku makan dengan lahap. Sejenak membiarkannya malu - malu menyuapkan makanan dalam mulutnya.


Dasar gadis.


Lambat laun, aku pun tak sabar melihatnya makan dengan ogah - ogahan seperti itu. Dengan cekatan, aku menyodorkan sendok kehadapannya.


Aqila ini tipe cewek pembangkang. Dia akan selalu siap menolak setiap niat baikku. Banyak sekali alasan yang bisa dia ucapkan.


Aku sampai geleng - geleng kepala menghadapinya.


"Makan, atau aku paksa," ancamku pada akhirnya.


Huh, butuh paksaan menaklukkannya.


Akhirnya, aku menyuap nasi ke mulutku sendiri dan ke mulut Aqila secara bergantian. Sampai makanan itu habis di hadapan kami.


Tidak banyak percakapan saat kami menyantap makan siang.


Usai membersihkan meja, aku segera melirik jam.


"Kita siap - siap berangkat," ucapku singkat.


Aqila sejenak melongo, melihatku dengan tatapan entah.


"Kita ke rumah mama," ujarku lagi.


"Tapi --" Aqila memindai penampilan dirinya sendiri.


Celana jins, kaus dengan penutup jaket khas ojek online yang masih melekat di badan. Jangan lupakan sendal jepit yang dijadikan sebagai alas kakinya berkeliling kota metropolitan.


Aku menghela napas panjang dan berat. Standard ku kali ini benar - benar berbeda.


Aku tidak mengatakan apa pun lagi, memilih membereskan meja kerjaku. Memasukkan berkas - berkas yang dibutuhkan untuk melanjutkan pekerjaan dari rumah.


Rupanya, Aqila masih bergeming di sofa. Seperti tangah berpikir keras.


"Jangan coba - coba kabur, Aqila," ucapku menegaskan padanya.


"Ti - tidak. Tapi ... aku malu bajuku tidak sesuai. Kita batalin saja ya hari ini," ucap Aqila ragu - ragu.


Aku berdecak kesal. Lalu berkata dengan nada yang lebih lembut, "Kamu tenang saja."


"Aku hanya --"

__ADS_1


"Ke mana perginya Aqila si pemberani," selaku cepat sebelum Aqila melanjutkan ucapannya.


"Ini berbeda, David. Kita akan bertemu mamamu. Orang tuamu. Tidak mungkin aku berani menampakkan diri dengan penampilan begini," terang Aqila dengan suara lebih tinggi.


"Bukankah itu memang dirimu, kenapa malu?" tanyaku ketus.


Aqila berdecak, lalu berujar tegas, "Aku bukan malu atas keadaan diriku sendiri. Aku hanya malu karena tidak memakai pakaian yang layak. Lagi pula, berpakaian yang rapi untuk menghormati orang lain tidak masalah, 'kan?"


"Iya, apalagi jika itu calon mertua. Iya, 'kan?" Aku mengedipkan mata berniat menggodanya.


Aqila mencebikkan bibir, tidak lagi menjawab perkataanku.


"Ayo! Apa perlu aku gendong?" tanyaku saat melihat Aqila yang belum juga beranjak dari sofa.


"Enggak perlu," ucapnya cepat lalu segera bangkit dari sofa.


Aqila mengikutiku, aku membiarkannya keluar terlebih dahulu dari ruangan kerjaku. Setelah itu barulah kututup pintu tinggi itu.


Setelah berpesan kepada wanita kepercayaan kantor, aku segera melangkah meninggalkan gedung ini. Beriringan dengan Aqila.


Awalnya Aqila menjaga jarak saat berjalan dengan ku, tetapi aku tidak sabar melihat tingkahnya yang terkesan menggemaskan buatku.


Aku pun menggandeng tangan Aqila yang ternyata dingin.


"Hei, apa kamu gugup?" tanyaku spontan.


Aqila memukul bahuku kencang.


"Makanya jangan sembarangan kali bicara," ketus Aqila galak.


Aku segera menarik tangannya agar segera ke mobil, lantas melajukan kendaraan roda empat itu menuju salon.


Penampilan Aqila harus sedikit dibenahi.


"Kenapa kita ke sini?" tanya Aqila bingung.


Aku tidak menjawab, memilih berbicara kepada karyawan mengatakan apa yang harus aku katakan. Setelah karyawan tersebut mengangguk mengerti, aku pun segera memintanya untuk membawa Aqila.


Terserah mau diapakan. Pokoknya harus terlihat cantik dan menawan.


Dering ponsel mengalihkan perhatianku yang tengah membaca - baca email yang masuk. Mama menghubungi.


"Iya, Ma?"


"Kamu di mana, jam berapa ke sini?" tanya Mama ketus.


"Iya, bentar lagi Mama Sayang" ucapku pelan nan lembut.


"Awas kalau enggak jadi," ancam Mama.


"Jadi, tenang saja," sahutku santai.

__ADS_1


"Oke. Mama tunggu ya," balas Mama lalu memutuskan panggilan.


Aku mengembuskan napas kasar, tidak bisa dielak. Kegagalanku dalam membina rumah tangga di masa lalu sangat berdampak bagi Mama. Wanita yang telah melahirkan diriku itu pun seakan selalu was - was jika di kemudian hari aku akan mengalami kegagalan yang sama.


satu jam menunggu akhirnya Aqila keluar juga dari ruang khusus.


Sesaat aku terpana melihat wanita di hadapan, bukan karena berubah menjadi makhluk luar angkasa atau sejenisnya, melainkan karena Aqila kini tampak anggun dan menawan. Dia tampak sempurna tanpa celah. Kecuali saat berjalan.


Aku terkikik geli melihat Aqila yang berjalan dengan langkah terpincang.


"Pakai sendal jepit saja, ya ...," ucapnya penuh permohonan.


Aku tertawa terbahak melihat wajahnya dengan ekspresi yang menggemaskan.


Aku melangkah lebar mendekati Aqila untuk memeluknya erat.


Bisa kurasakan tubuh Aqila menegang kaku.


"Malu, David," desis Aqila tajam.


Aku melepaskan pelukan karena tidak ingin membuat wanita cantik ini marah. Bisa - bisa, sia - sia saja waktu yang kugunakan untuk menunggunya tadi kalau sampai rusak dalam sekejap.


"Ini ketinggian, aku kesulitan berjalan, David," ujarnya lagi.


Aku memberikan kode kepada karyawan untuk mengganti sepatu Aqila.


Tidak perlu menunggu lama sampai saat karyawan itu memberikan apa yang aku minta.


Aku jongkok untuk mengganti sepatu Aqila.


"Oke. Cantik," pujiku tulus.


Bisa kulihat dengan jelas wajah Aqila bersemu merah, malu atau marah. Aku pilih reaksi malu - malu meong.


"Makasih," ucap Aqila lirih.


"Sama - sama," sahutku berbisik tepat di telinganya.


Tidak ingin membuat Mama semakin menunggu dengan perasaan khawatir di rumah, aku pun segara merangkul bahu Aqila mengajaknya keluar dari gedung ini.


"Ayo! kita sudah ditunggu mama," ajakku pelan yang dibalas anggukan lemah oleh wanita di sampingku ini.


Sebagai seorang ratu, aku membukakan pintu mobil untuknya. Tidak lupa memasangkan sabuk pengaman terlebih dahulu sebelum aku memutari bagian depan mobil untuk duduk di kursi balik kemudi.


Aku melirik sebentar ke arah Aqila barulah melajukan kendaraan ini melaju di jalanan menuju rumah. Dengan perasaan berdebar, tetapi menyenangkan aku mengemudi.


Sesekali tatapanku melirik ke samping guna memastikan keadaan Aqila. Dia terpaksa, gugup atau pasrah saja. Tidak ada pembicaraan di dalam mobil ini, hanya terdengar helaan napas berat di antara kami.


Aku terlalu memikirkan apa yang akan terjadi nanti sehingga lidahku kelu untuk sekadar berucap basa - basi guna meredakan ketegangan di antara kami.


Aqila terus saja memandang ke samping jendela, seperti sengaja menghindari tatapanku.

__ADS_1


Sampai mobil berhenti di halaman luas rumah mama.


__ADS_2