
Aku tak ingat kapan merasa malu sampai ingin menenggelamkan diri ke dalam bumi. Aku juga tak ingat kapan merasa salah tingkah karena terpergok telah melakukan sesuatu. Semua hal memalukan itu terjadi sekarang.
Aku sampai menahan napas dengan tubuh menegang di sana sini. Kontan saja, aku langsung mendorong bahu Aqilla dengan tangan, sebelum wanita itu semakin mendapati diriku yang salah tingkah ini.
"Ah," gumam Aqilla dengan suara tertahan.
Dasar lebay. Aku bahkan tak menggunakan kekuatan penuh saat mendorongnya.
Seketika, aku beranjak duduk. Mengacak rambut dengan kasar yang semakin membuat rambutku berantakan.
Tak ingin bertatap wajah dengan wanita itu, aku pun bergegas turun dari ranjang. Menuju kamar mandi. Menyembunyikan diri selama mungkin.
Aku memejamkan mata, menggerutu dengan perasaan kesal sendiri. Bisa-bisanya melakukan hal yang melakukan. Dan, kenapa pula posisi tidur kami tak berubah semalaman? Apa wanita itu merasa nyaman karena tidur dalam pelukanku? Heh.
Tanganku bahkan sampai merasakan pegal karena semalaman dijadikan bantal oleh Aqilla.
Aku menggerakkan tangan berulang kali untuk mengurangi rasa pegal yang menjalar di sana. Aku melirik, mendapati seseorang yang ada di dalam cermin yang tak lain adalah diriku sendiri.
Aku menyunggingkan senyum miring. Entah untuk alasan apa. Yang jelas, pagi ini tubuhku terasa lebih segar dari hari sebelumnya. Ampuh juga tidur dengan memeluk Aqilla. Bisa memberikan efek nyenyak seperti semalam.
Aku segera melepaskan pakaian yang melekat di badan, kemudian mandi di bawah kucuran shower. Mataku merapat sempurna. Namun segera terbuka lebar, kala bayangan seorang wanita yang tak lain adalah Aqilla berkelebatan di mata. Dengan cepat, aku menyudahi acara mandiku dan melilitkan handuk sebatas pinggang.
Aku keluar dari kamar mandi dengan aroma sabun bercampur sampo menguar di udara. Di sudut ranjang, Aqilla menoleh lalu buru-buru menunduk. Dia tengah melipat selimut kami.
"Baju kerjaku mana?" tanyaku jutek. Mataku menatap lurus pada Aqilla. Lekat. Tak sedetik pun aku biarkan wanita itu menghilang dari pandangan. Setiap pergerakan yang dia lakukan tak luput dari perhatian, terekam dalam ingatanku.
Bagaimana dia bergegas meletakkan selimut di tangannya itu ke atas ranjang. Kemudian melangkah menuju lemari pakaian. Dia begitu fokus menatap baju -baju yang tersimpan di sana. Mengambil secara penuh kehati-hatian. Kemudian meletakkan pakaian kerjaku secara berurutan.
Jas kerja, berlanjut celana bahan berwarna hitam. Kemudian baju kemeja lengan panjang berwarna putih. Ha?
"Kau kira aku anak magang, pakai stelan baju hitam putih?" protesku tak terima.
Aku ini pemimpin perusahaan. Bukan anak magang yang bekerja untuk mendapatkan pengalaman sebagai syarat kelulusan dan mendapatkan ijazah. Enak saja.
"Oh iya, maaf, Abang." Aqilla menyahut dengan suara sangat lirih. Dia menganggukkan kepalanya berulang kali dengan wajah yang berubah warna menjadi kemerahan. Senyum tipis terukir di bibirnya yang tipis itu.
Melihat itu, aku jadi ingin menciumnya. Eh.
__ADS_1
Namun, benar. Aku sungguh ingin mencicipi rasa manis di bibirnya itu. Jika di pagi hari begini, aku rasa manisnya sangat terasa di lidah. Oh, gosh!
Aqilla telah membalikkan tubuh, memunggungiku. Dia mencari baju yang mungkin akan cocok aku kenakan pagi ini. Dia lama sekali.
Aku berjalan mendekatinya dengan langkah lebar. Mengulurkan kedua tangan, meraih pinggangnya dan menarik merapat ke dada.
"Bang ...." Aqila bergumam lirih.
Akan tetapi, aku tak peduli. Aku ingin menikmati pagi dengan menyecap rasa manis itu.
Aku membalik tubuh Aqilla, memangkas jarak di antara kami. Bibirku begitu saja tersenyum saat dia menyambut rasa seperti nyanyian yang mengalun merdu di pagi hari, mengantarkan gelenyar yang menghangatkan hati.
Aku membuat jarak saat kami kehabisan napas. Kemudian berlalu begitu saja, bergerak ke ranjang untuk mengenakan pakaian.
"Cepat bajunya! Mau aku pakai," kataku tegas saat mendapati Aqilla yang masih berdiri kaku di sana.
"Oh, iya." Dia tampak gelagapan. Kemudian dengan cepat membalikkan tubuh memunggungiku.
Kemeja berwarna abu muda bergaris-garis tipis menjadi pilihannya. Aku tak masalah, yang penting jangan warna putih polos saja.
Aqilla bergerak cekatan memasangkan pakaian di badanku. Tanpa mengeluarkan suara, wanita itu memasukkan kancing ke dalam lubang satu persatu.
Kenapa dia? Malu?
Kenapa harus malu segala? Tak ada yang harus dia tutupi dariku. Aku sudah melihat semua tubuhnya.
Haish. Pikiranku ini.
"Kenapa? Enggak bisa?"
Di bagian kancing teratas. Aqilla tampak kesulitan memasangkan kancingnya. Berulang kali dia salah.
"Keras banget lubangnya." Aqilla berujar lirih.
"Ini bukan yang baru kan. Yang baru pertama kali masuk ke lubang. Ini sudah berulang kali di masukkan ke lubangnya. Kok, masih susah," gerutuku.
"Apa maksud, Abang?"
__ADS_1
Aqilla mendongak. Dia menatapku dengan bibir yang terbuka. Wajahnya merah padam.
"Baju ini lah. Emang apa lagi?" Aku menepis kedua tangan Aqilla yang masih bertahan di kancing baju teratasku. "Biar aku pasang sendiri. Ambil dasi," ujarku kemudian fokus pada lubang kancing yang memang keras.
Keras, sih, tapi bukan berarti tak bisa dimasukkan kancingnya ke lubang.
Dasarnya dia aja yang lebay.
Aku terus saja menggerutu sampai mendapati Aqilla yang kembali mendekat, membawakan dasi dan langsung dipasangkan ya ke leherku.
Dia tampak begitu telaten membuat simpul. Matanya begitu fokus pada apa yang dikerjakan.
Sepertinya, Aqilla memang orang yang sungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu. Dia fokus dan serius
Apakah dia juga menjalani pernikahan ini dengan sungguh-sungguh?
Satu pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul di kepala. Aku sampai dibuat penasaran. Sangat penasaran.
"Apa kamu serius menjalani pernikahan kita ini?" tanyaku begitu saja.
Aqilla mendongak. Dia tercenung sesaat sebelum akhirnya mengeluarkan suara lirih.
"Apa maksud, Abang?" tanyanya lalu kembali fokus pada simpul dasi. Merapikan simpul itu lalu membentang jarak di antara kami.
Aku berdecak kesal. Selalu saja dia bertanya apa maksud dari pertanyaan ku.
Apa dia tidak bisa langsung menjawab saja? Tanpa perlu balik mengajukan tanya seperti itu.
Malas menjawab pertanyaan Aqilla, aku segera menyambar jas di atas ranjang. Kemudian melangkah keluar kamar yang berpamitan. Melangkah menuju ruang kerja, mengambil tas kerjaku lalu keluar.
"Abang!"
Langkahku terhenti ketika mendengar seruan itu.
"Apa?" tanyaku ketus.
"Hp sama dompet Abang ketinggalan," kata Aqilla. Berjalan mendekat sembari menganggukkan dua benda keramat itu.
__ADS_1
Rupanya, aku mulai ketergantungan dengan Aqilla.