Duda Keren Cari Jodoh

Duda Keren Cari Jodoh
Bab 19. (Aqila)


__ADS_3

Gila!


Ini rumah atau gedung pernikahan?


Eh, bukan. Maksudku. Haish, hanya gedung pernikahan yang bisa aku gambarkan untuk rumah semegah dan seluas ini.


Untuk pertama kalinya, aku merasakan tubuh gemetaran saat harus berhadapan dengan seseorang.


Mamanya David.


Ya Tuhan! Entah bagaimana rupa dan sifat beliau. Jika disuruh memilih, lebih baik aku berhadapan dengan para debt colector yang kala itu selalu mengejar diriku. Maka, dengan sangat lihai pula aku bersembunyi dari mereka.


Berbeda dengan sekarang, membayangkan bertemu dengan sosok wanita di dalam sana membuat tubuhku lemas serasa tak bertulang.


"Ayo!" ajak David seraya mengulurkan tangan. Sepertinya lelaki itu berniat membantuku turun dari mobil.


"Aku bisa jalan sendiri," tolakku dengan suara ketus.


"Ayo!" Lelaki itu tetap bergeming dengan tangan terulur, kini memegang lenganku.


Tampaknya dia tidak acuh pada penolakan. Lagi - lagi David mengabaikan ucapanku. Dasar David!


"Aku bisa turun sendiri. Awas!" Aku masih bertahan pada penolakanku. Rasanya risih sekali jika harus bergandengan masuk ke rumah besar itu.


Aku merasa bukan menjadi pasangan, malah seakan menjadi tahanan saja.


"Aku tidak ingin kamu kabut, Aqila," sahut David dengan suara tertahan penuh penekanan.


Tuh, 'kan, benar dugaanku. Aku seperti tahanan di mata lelaki itu.


"Ayo! Mama sudah menunggu. Lagian akan terasa aneh jika kita berjalan sendiri - sendiri," terang David dengan suara yang lebih lembut.


Mendengar suara lembutnya dan menerima tatapan yang berubah hangat itu, hatiku menghangat. Lantas, tubuh ini secara otomatis merespons sentuhannya dengan balasan yang sama.


Akhirnya, kami pun berjalan masuk ke rumah dengan bergandengan tangan.


Rupanya, benar apa yang dikatakan David. Mamanya telah menunggu di ruang tamu.


Aku bahkan tidak lagi sempat memperhatikan bagaimana interior ruangan ini karena terlalu fokus pada wanita paruh baya yang masih tampak cantik di usianya yang aku taksir telah masuk kepala lima.


"Hai! Kamu cantik sekali," sapa mama. Ah, aku tidak berlebihan, 'kan, jika langsung memanggil 'mama' pada pertemuan kami yang pertama ini.


Mama mendekatiku, lalu tanpa aba - aba beliau memelukku erat. Mau tak mau, aku pun menarik tanganku dari genggaman tangan lelaki tinggi di sebelahku. Membalas pelukan wanita yang telah melahirkan David.


Tanpa bisa dicegah, air mata ini menetes. Air mata haru sekaligus bahagia.

__ADS_1


Entah kapan terakhir aku merasakan pelukan dari seorang mama. Rasanya, aku pun lupa bagaimana hangat pelukan itu.


Merasakan pelukan Mama David sekarang, hatiku membuncah. Tak lagi mampu kugambarkan bagaimana kehangatan ini menjalar dalam setiap sendi tubuh.


Mama mengurai pelukannya, lalu menatapku dalam. Kedua tangannya bahkan merangkum kedua pipiku.


"Siapa namamu?" tanya Mama penuh kelembutan.


"A-Aqila, Ma," jawabku terbata.


Mama tersenyum cantik sekali lalu berujar penuh semangat, "Mama suka kamu memanggil Mama."


Aku tertawa lalu mengusap air mata yang berderai membasahi pipi.


Mama beralih menatap David, lalu memukul lelaki itu. "Kamu ini, enggak salah, 'kan, pilihan Mama," ucapnya terkekeh.


"Aw! Iya, Ma. Mama jago dalam memilih," sahut David sembari mengedipkan mata padaku.


Aku memutar bola malas, lalu tersenyum manis kepada mama.


"Udah, ayo! Kita makan dulu," ajak Mama kemudian menggandeng tanganku dan meninggalkan David.


Kami duduk di kursi makan. Sebenarnya, perutku masih terlalu kenyang karena tadi makan banyak di kantor David.


"Udah disiapkan," ujar Mama memberi alasan.


Walaupun dengan berat hati, tidak mungkin bisa menolak permintaan Mama. Akhirnya, kami pun makan bertiga di meja makan besar nan mewah dengan hidangan yang menggugah selera. Lupakan tentang takut gemuk atau apalah. Kenyataan bahwa aku bisa makan makanan seperti ini belum tentu seumur hidup sekali, sebisa mungkin kuhabiskan apa yang ada dihadapan.


Sayangnya, aku lupa jika tengah makan bersama calon suami dan calon mertua.


Ah, sendawaku besar sekali.


Aku meringis menahan malu. Bisa - bisanya aku lupa di mana diri ini sedang berada.


"Permisi, Ma. Saya numpang ke kamar kecil," pamitku dengan suara terbata.


"Kekenyangan kamu," celetuk David dengan tatapan tajam.


"Hus." Mama menepis udara menghentikan perkataan David. Lalu berujar pelan, "Iya, silakan. Biar diantar Bibik."


Aku mengelus perut yang terasa lega karena telah terbuang sampahnya, lalu berjalan pelan kembali ke ruang makan.


Tampak Mama dan David tengah bercengkerama, ada gurat kekesalan di wajah wanita itu kepada sang putra.


Sedangkan David hanya cengengesan menanggapi kejutekan wanita yang telah melahirkannya itu.

__ADS_1


Wajah kesal mama tiba - tiba berubah semringah saat seorang gadis kecil berlari ke arahnya.


"Oma!" seru gadis itu sembari berlari.


Mama merentangkan kedua tangan, turun dari kursi. Sepertinya beliau duduk di lantai demi menyambut kedatangan gadis kecil yang memanggilnya 'oma.'


Ha? Oma?


Tubuhku mematung di tempat. Otakku mulai bekerja memikirkan apa yang terjadi.


Di tempat duduknya, terdengar tawa riang dari David. Ah, aku tidak dapat melihat wajahnya secara langsung dari sini.


"Cucu Oma sudah bangun ya?" tanya Mama kepada gadis itu.


"Iya, cucu Oma pinter, 'kan?" balas gadis itu.


"Pinter banget, dong." Kali ini gantian David yang membalas ucapan si gadis kecil.


Mama menggendong gadis tersebut lalu kembali duduk di kursi makan. Tatapan kami pun bersirobok.


Tiba - tiba, jantungku berdebar kencang. Entah karena alasan apa aku bisa segugup ini, seperti saat pertama tadi datang kemari. Padahal, suasana canggung sudah mulai mencair di antara kami. Terutama pada diriku sendiri.


"Lho, Aqila sudah kembali. Sini!" Mama melambaikan tangan, perlahan aku berjalan kembali ke kursi yang tadi aku tempati dengan perasaan kikuk.


Sesekali mataku melirik kepada David yang menatapku dengan tatapan yang aneh. Lalu aku beralih pada gadis kecil di pangkuan Mama yang tengah menatapku dengan tatapan menelisik.


"Putri Sayang, kasih salam sama Tante Aqila," ujar Mama lembut.


Oh, namanya Putri. Secantik wajahnya.


"Halo, Tante Aqila. Aku Putri cucu Oma yang cantik," sapa Putri dengan suara riang.


"Halo, Putri," sahutku mencoba menyeimbangi suara riangnya. Tentu saja aku tidak mau jika gadis itu merasakan perasaan tidak enakku pada situasi ini.


"Aqila, aku bisa jelasin," ucap David lirih terdengar seperti gumaman di telingaku


"Enggak usah. Aku udah tahu semuanya. Enggak perlu kamu jelaskan lagi, David," sahutku tak kalah lirih dengan suara penuh penekanan. Mataku menatap tajam pada lelaki yang tampak salah tingkah itu.


"Oma, mau telepon Mama," rengek Putri kemudian yang langsung dibalas dengan anggukan setuju oleh Mama.


Mama dan Putri berdiri, sebelum melangkah pergi Mama berucap pelan, "Mama tinggal sebentar ya Aqila. Putri mau telepon Mamanya dulu." Lalu tatapan Mama beralih kepada David, "Ajak ngobrol dulu ya, David."


"Iya, Ma," sahut David.


"Dasar pembohong," desisiku tajam lalu segera berdiri dari kursi. Aku ingin segera meninggalkan rumah ini.

__ADS_1


__ADS_2