
Satu pesan masuk saat aku sedang memimpin rapat. Tanpa berpikir panjang, aku langsung membuka isi pesan itu. Senyumku terbit begitu saja membaca isinya.
Aqilla:
Abang, aku mau belanja. Kebutuhan pada habis.
Tak ingin membuang waktu, aku pun segera membalas pesan dari Aqilla.
David :
Nanti saja, tunggu aku pulang.
Saat aku hendak meletakkan benda pipih itu Kemabli ke atas meja dengan posisi terbalik. Rupanya, Aqilla sudah membalas pesanku.
Aqilla:
Baik, Abang.
"Bagus," celetukku begitu saja.
"Iya, Boss? Pilih yang mana?"
__ADS_1
Aku terkesiap kaget saat mendengar pertanyaan itu. Seketika tersadar kalau aku masih berada di ruang rapat bersama karyawan.
"Oh, yang mana tadi?" tanyaku sebisa mungkin menyembunyikan malu karena tak fokus pada penjelasan yang diberikan.
Selanjutnya, yang terdengar adalah penjelasan tentang kemasan produk baru yang akan segera diluncurkan.
Tiga puluh menit kemudian, rapat pun akhirnya selesai. Aku bergegas keluar dari ruangan dan diikuti oleh Andin. Wanita itu menjelaskan sesuatu yang aku simak dengan baik. Namun, entah di menit keberapa. Saat langkahku bahkan belum sampai ke pintu ruangan, otakku sibuk berpikir tentang barang- barang apa saja yang akan aku dan Aqilla beli nanti.
Aku tak lagi mendengar penjelasan Andin. Lantas saat langkah kakiku sudah sampai di pintu ruangan, aku pun segera mengulurkan tangan. Memutar handle lalu membuka pintu ruangan itu.
"Permisi, Pak."
Aku menoleh cepat saat mendengar suara pamit itu. Lagi-lagi, aku tak sadar jika sekarang ini sedang bersama orang lain.
Belum sampai aku ke kursi kebesaran. Aku memutuskan untuk menghubungi wanita yang bayangannya sejak tadi menggangguku. Sedang apa dia sekarang?
Panggilanku tidak langsung mendapatkan respons. Tak puas dengan satu panggilan, aku melakukannya lagi. Dua kali. Tak juga mendapatkan jawaban.
"Ke mana, sih, dia ini?" Aku mulai menggerutu kesal. Namun, tak juga menghentikan usaha. Penasaran dia sedang apa sekarang.
Sampai akhirnya, aku ingin sekali membanting benda pipih ini. Ponsel tak berguna.
__ADS_1
"Oke satu kali lagi." Aku berucap meyakinkan diri. Dan ini, sudah panggilan yang keenam setelah lima panggilan diabaikan begitu saja.
Begitu panggilanku dijawab, setelah mendengarkan sapaan dari seberang sana. Aku begitu saja mengomel, "Kamu ini lagi apa? Kalau suaminya menelepon itu jawab. Bukan malah mengabaikan begini. Buat orang khawatir saja. Kamu lagi apa?"
Jantungku berdentam tak keruan. Sementara kepalaku sampai terasa pusing memikirkan Aqilla. Wanita ini benar-benar ....
"Iya, maaf, Bang. Tadi aku bantuin bibik di bagian laundry karena sedang tidak enak badan. Setelah itu ... baru lanjut mengepel rumah--"
"Apa?!" Aku berseru marah. "Jadi untuk apa aku membayar pembantu kalau istriku sendiri masih turun tangan membersihkan rumah. Apa kurang jumlah pembantu di rumah kita, ha?!" tanyaku tak sabar.
Aku mengacak rambut frustrasi. "Dengar!" kataku memberi peringatan. "Tugasmu itu cuma melayaniku. Segera menjawab panggilan dariku. Aku enggak mau saat aku ingin menghubungi istri sendiri harus menunggu sampai entah berapa kali aku menghubungi," kataku tegas.
"Tapi Abang sendiri yang pernah bilang kalau aku harus membereskan rumah. Aku ... aku enggak mau kalau haru--"
"Aqilla," geramku menyela ucapannya.
Kenapa dia berani sekali mengingat yang sudah-sudah?
"Dengarkan saja apa perintahku. Lalu kerjakan sesuai yang aku inginkan. Mengerti?" kataku ketus.
"Iya." Aqilla menjawab singkat dengan suara lirih.
__ADS_1
"Ya sudah." Aku segera memutuskan panggilan. Tanpa menunggu balasannya lagi.