
Usai menyelesaikan pekerjaan kantor. Aku memenuhi undangan teman- teman semasa kuliah dulu untuk reuni dadakan. Kebetulan, Boy tengah merayakan ulang tahunnya.
Aku merasa agak lucu, sih, di usia yang tak lagi muda lelaki itu memilih untuk tetap merayakan hari kelahirannya. Mengundang teman -temannya yang lain di sebuah klub pula. Wah! Seperti anak baru gede saja yang masih suka berpesta pora.
Akan tetapi, kali ini aku juga ikut di dalam acara tersebut. Sama saja aku dengan yang lain bukan?
Aku punya alasan khusus kali ini. Mengingat Aqila yang mungkin saja masih di rumah Mama, aku memilih untuk menghabiskan waktu bersama teman temanku. Pasti akan lebih mengasyikkan dari pada harus berhadapan dengan si wanita ngambek. Lebih baik, aku menenangkan pikiran dulu sebelum bertemu dengan Aqila.
Aku laki -laki. Dan aku juga bisa marah.
Memangnya, wanita saja yang bisa marah.
Aku berangkat dengan penuh semangat. Mengabaikan telepon Aqila yang dilakukannya berulang kali. Punya urusan juga dia denganku setelah pergi ke rumah Mama tanpa izin dari aku, suaminya.
Nanti malam saja kita bertemu.
"Happy birthday, Boy!" Aku mengulurkan tangan. Memberikan ucapan selamat kepada si empunya acara.
Suasana di dalam sini tentu saja ramai. Aku harus bersuara keras agar apa yang aku ucapkan itu bisa terdengar oleh lawan bicara.
"Oh, David! Thank you!" Boy menyambut uluran tanganku lalu menarik tubuhku ke pelukannya.
__ADS_1
Oh. Oke. Aku akan memeluknya sebagai rasa bahagiaku. Aku menepuk bahu lelaki itu dua kali.
"Nikmati pestanya! Teman yang lain telah berkumpul. Kita bersenang senang malam ini!"
Kami mengurai pelukan lalu melangkah menuju meja bundar yang terdiri dari banyak kursi. Setiap kursinya telah diisi oleh teman yang lain.
"Wah! Kejutan! Boss besar kita sudah datang!" sambut beberapa orang sembari mengacungkan gelas mereka.
Aku mengambil satu gelas yang terhidang di meja. Kemudian ikut bersulang bersama dengan yang lain.
"Gimana bisnis kalian saat ini?" tanya seseorang yang tak aku ingat betul siapa namanya.
"Masih yang sama. Aku masih menjabat sebagai menejer. Hahahaha." Seseorang menjawab pertanyaan itu. Kemudian disambut dengan suara yang lain.
"Bisnis sekarang naik turun sekali. Aku sampai kualahan--"
"Ya, benar. Harga melonjak tinggi, sementara pendapatan banyak tak sebanding. Sehingga berpengaruh dengan keuntungan --"
"Cari keuntungan jangan banyak amat, Bro."
Aku hanya mendengarkan. Tak ingin ikut berbagi pengalaman cerita. Pergi ke acara ini dengan tujuan untuk mendapatkan kesenangan. Bukan malah cerita masalah pekerjaan. Sudah cukup di kantor saja aku memikirkan berkas yang tiada habisnya itu.
__ADS_1
"Coba tanyakan sama Boss besar. Dia pasti lebih paham cara menaikkan omset dan keuntungan bisnis. David adalah orang yang paling sukses di antara kita dalam hal apa pun. Bahkan soal percintaan pun, dia sudah menikah sampai dua kali."
Sialan!
Sepertinya, lelaki itu memang sedang cari masalah denganku. Aku masih acuh tak acuh. Memilih menikmati minumanku itu.
"David, bagaimana tanggapan kamu?"
Aku mendongak. Meninggalkan minuman di genggaman untuk menatap lelaki itu. Suasana di meja ini hening. Tak ada percakapan bahkan kegiatan lainnya. Rupanya, mereka tengah menunggu tanggapanku atas kalimat itu.
Mulutku terbuka, hendak menjawab pertanyaan tersebut saat secara bersamaan getar ponsel terasa di saku celanaku. Aku mengatupkan kembali kedua bibir lalu mengambil ponsel melihat siapa yang tengah menghubungi. Ternyata Aqila.
Ada apa dengan wanita itu? Bukankah dia sedang bersenang-senang bersama Mama. Bukan malah mengganggu kesenanganku saat ini.
Aku meletakkan benda pipih itu di atas meja dengan posisi terbalik. Agar nama pemanggil tak lagi terlihat olehku. Kemudian, aku menanggapi perkataan mereka dan tak ingin semua mata tertuju padaku.
"Sekarang bukan waktunya membahas pekerjaan. Kita datang untuk menghadiri undangan pesta si Boy. Alangkah baiknya jika kita bersenang-senang saja. Aku juga sedang pusing dengan pekerjaan yang tiada habisnya itu," ungkapku jujur.
"Benar juga ...."
"Oke, Bro. Lebih baik kita berpesta. Minum sepuas kalian!" seru si pemilik acara. Lantas, beberapa menit kemudian datang beberapa wanita penghibur. Membuat pesta ini semakin meriah.
__ADS_1