
Sore ini, aku melangkah lesu menuju restoran yang disebutkan Mama.
Mencari seseorang yang disebutkan ciri-cirinya. Mataku berkeliling, tidak kutemukan. Akhirnya aku memutuskan untuk duduk di salah satu bangku kosong di sudut ruangan.
"Halo, Ma. Kayaknya ceweknya belum datang. David duduk di meja no tujuh di sudut ruangan ya."
"Ya. Tunggu aja orangnya pasti datang. Udah janjian sama Mama," balas Mama dari seberang sana.
"Makasih, Ma," jawabku pelan. Kemudian mematikan sambungan, menyimpan ponsel di saku celana.
Tanganku saking bertautan di meja, dengan kedua jari telunjuk yang saling bergerak.
Seorang pelayan restoran datang memberikan menu. Aku memilih meminum capuccino, tanpa makan.
Tidak lama kemudian, pelayan tadi kembali membawakan pesanan aku.
Menikmati capuccino sendirian itu aneh. Apalagi aku dalam posisi menunggu. Bisa dibilang ini menyebalkan, tetapi juga tidak bisa menghindar apalagi sudah menjadi titah sang ratu.
Aku mengecek ponsel, memeriksa pesan maupun email yang mungkin saja terlewatkan.
Benar saja, beberapa pekerjaan yang tertunda menunggu diperiksa.
Lantas, fikiran dan mataku fokus pada layar ponsel. Tidak menyadari jika ada seseorang yang telah berdiri di hadapan.
"Hai!" Sapaan lembut menghentikan aktivitasku. Aku mendongak menatap siapa yang datang.
Melihat seorang wanita yang berdiri di hadapanku dengan pakaian yang seksi membuatku terbelalak kaget, terlebih wanita itu sudah sangat aku kenali.
"Kamu, kenapa di sini?" Aku menunjuk tepat di hadapannya dengan jari telunjuk.
Wanita itu tampak santai, tersenyum manis lalu duduk di kursi seberang mejaku.
Meletakkan tas di kursi sampingnya dengan anggun. Kemudian menatap wajahku dengan penuh kelembutan.
"Apa kabar, David?" tanyanya dengan suara manja. Dia tetap seperti biasanya, cantik dan memesona. Ah, sekarang terlihat tambah cantik dan seksi saja.
"Ba-baik. Kamu apa kabar?" tanyaku. Sialnya, tiba-tiba lidahku kelu sekadar bertanya dengan santai aku malah gugup bukan main.
Berkali-kali aku berdehem menetralkan deru napas yang memburu. Menelan ludah dengan kasar membasahi kerongkongan yang terasa kering.
"Aku baik juga," jawabnya santai dengan suara yang seperti tadi. Manja.
__ADS_1
"Kamu ada janji dengan siapa, Marisa?" tanyaku setenang mungkin. Berusaha keras mengendalikan ekspresi wajah agar terlihat setenang mungkin.
Jangan bilang kalau dia wanita yang memiliki janji dengan Mama bertemu denganku.
"Sama kamu. Maaf ya, aku telat." Suara lembutnya mendayu-dayu di telingaku. Apa dia sedang berusaha merayuku sekarang?
Hah, sialan memang!
Aku mengumpat kasat, menggerutu kesal. Kenapa dari sekian banyaknya wanita di bumi ini, aku malah bertemu janji dengan dia. Apa Mama sudah kehabisan stok wanita?
"Apa alasanmu menerima janji Mama aku?" tanyaku sinis. Gila!
Benar-bena gila.
Setelah bersusah payah aku menghindari wanita ini, dia tiba-tiba berada di hadapanku. Duduk manis di sana seolah tidak ada salah dan tidak ada masalah sedikit pun.
"Tentu saja karena lelaki itu adalah kamu, David. Kita satu sama, 'kan? Kamu dudanya Anna, aku jandanya Adrian. Dan kita bersama. Tidak akan terpisahkan."
Heh. Seyakin itu dia pada hubungan ini.
"Apa kamu enggak pernah merasa bersalah sedikit pun?" tanyaku sarkastik
"Itu dulu, Marisa. Sekarang aku telah berubah. Cinta tidak bisa dipaksakan. Lagi pula kamu sudah menikah 'kan? Kenapa malah berada di sini. Mana suami kamu?"
"Kamu tahu sendiri, pernikahanku hanya sebagai tameng saja, sebagai status. Lagian suamiku enggak akan punya waktu mengurusi urusan kecil begini."
"Sekarang kamu tambah gila, ya?" ketusku.
"Kenapa aku yang gila?" protesnya tidak suka. "Aku datang ke sini memenuhi undangan perjodohan. Lalu aku datang dan bertemu si duda tampan kayak kamu. Tenang, aku enggak akan ngajak kamu nikah kok. Aku sadar diri telah menikah. Aku hanya ingin kita bekerjasama."
"Kerjasama untuk apa? Kamu enggak ada kapoknya ya?" tanyaku heran.
Setalah kegagalan Marisa waktu itu dan berujung dirinya dipermalukan oleh Adrian, wanita itu masih saja memiliki wajah tembok. Tidak malu sama sekali. Apa karena urat malunya sudah putus.
"Kerja sama kita yang pernah gagal lah? Lagi pula kamu sendiri masih jomblo aja, 'kan? Kenapa, susah ya cari cewek?" kekeh Marisa yang sukses menyulut emosiku.
"Aku bukan orang gampangan kayak kamu," celetukku.
"Hei, sabar dong Bang David. Kamu itu masih sama. Suka emosian," ejeknya.
"Kamu ya!" Aku berdiri, tetapi lenganku ditahan olehnya.
__ADS_1
"Tenang dong, David. Oke aku enggak akan ngajak macem-macem deh. Kalau kamu enggak mau bekerja sama ya ... udah, enggak usah dibikin pusing. Aku enggak akan maksa kamu." Marisa mengelus lembut lenganku.
Memasang senyum semanis mungkin. Aku yakin, orang yang tidak tahu siapa dia sebenarnya pasti akan tergoda bujuk rayunya. Akan tetapi, berbeda denganku yang sudah mengenal seluk beluk karakternya. Bukannya tergoda, aku malah jijik melihatnya.
Terlihat murahan dan merendahkan diri sendiri membuatku muak.
"Apa maumu?"
"Kita minum saja, sekedar reuni. Sudah lama kita enggak makan bareng. Udah, jangan gitu dong mandangnya. Aku janji enggak akan gangguin kamu. Lagian aku udah nikah. Udah nikah."
"Oke."
Aku kembali duduk di kursiku. Lalu menyesap minuman yang belum habis.
Sesuai janjinya, aku dan Marisa hanya mengobrol masa lalu saat kami masih sama-sama. Aku, Adrian dan dia saat masih jalan bertiga.
"Ah dulu ya, mungkin kalau aku sukanya sama kamu cerita kita akan berbeda."
Aku mendengus pelan menyadari jika aku pernah patah hati karena ulah mereka berdua.
"Tentu saja berbeda. Aku bukan lelaki lembut dan lemah seperti Adrian. Aku pastikan kamu akan membusuk di penjara karena mengkhianatiku. Bukan malah memaafkan seperti yang Adrian lakukan padamu."
Marisa tertawa sampai matanya menyipit lalu mengalirkan air mata.
"Ya ... ya ... kamu lelaki kasar dan angkuh. Sekarang telah berubah." Marisa mengusap lelehan air mata yang membasahi pipinya.
"Aku sempat kaget saat Mamau mencarikan jodoh. Mengatur pertemuan malah sampai menghubungi nomormu berkali-kali. sepertinya beliau frustrasi."
"Bukan urusanmu."
"Hahahaha. Aku enggak nyangka aja, Boss David yang keren ini dicarikan jodoh sama Mama nya dan enggak bisa menolak. Entah ke mana perginya pesona dan ketampanan yang dimilikinya?"
"Ke laut," jawabku asal.
Marisa malah semakin puas menertawakan aku. Ah, aku malah jadi bahan olokan buatnya. Sepertinya perjodohan yang Mama lakukan tidak pernah berhasil.
Malah, hidupku semakin kacau. .
Setiap waktu harus dirong-rong oleh telepon yang menggangguku. Mengganggu pekerjaanku.
Semoga saja ini yang terakhir kali. Please, Ma.
__ADS_1