Duda Keren Cari Jodoh

Duda Keren Cari Jodoh
Bab 27 (Aqila)


__ADS_3

Aku tidak menyangka jika Bang David akan sekhawatir ini melihat keadaanku.


Aku sih, ceroboh.


Ah, itu juga gara - gara dia, kan. Selama berhari - hari kami seperti orang asing. Mungkin lebih tepat nya aku yang menghindar dari obrolan dengan lelaki itu.


Bagaimana tidak. Kejadian malam pengantin kami sangat membuatku malu.


Namun, ada sesuatu yang tidak dia tahu. Bahwa setiap malam aku kesulitan tidur karena memikirkan pernikahan kami.


Melewati malam - malam panjang dengan gelisah, mungkin terlelap di saat hari menjelang pagi. Sesaat saja, sebab di pagi hari aku harus bersiap - siap membereskan pekerjaan yang harus segera terselesaikan. Terutama menyiapkan sarapan.


Aku memang sempat kecewa karena keinginan untuk bisa kerja di luar tidak diizinkan. Akan tetapi, mau bagaimana pun kerasanya aku mencoba jika lelaki itu tidak mengizinkan maka aku tidak akan berani melanggar.


Maka, biarkan diri ku lelah dengan pekerjaan rumah yang tiada habisnya. Lebih tepatnya, aku yang berusaha agar pekerjaan itu tidak - habis.


Ada saja yang aku kerjakan, walau sekadar mengulang - ulang apa yang telah aku bersihkan.


Jik dihitung, untuk mengepel lantai saja bisa sampai tiga sampai lima kali dalam sehari.


Begitu pun untuk area kamar mandi. Di pagi hari, lantai telah ku sikat bersih. Lantas aku ulang di siang hari. Siapa yang menyangka jika nasib buruk menimpaku. Aku terpeleset di lantai kamar mandi yang bahkan lantai tersebut baru selesai aku bersihkan.


Rasa kantuk lah yang menyerangku secara membabi buta. Pikiran yang yang berkecamuk tidak mengurungkan badan yang meminta diperhatikan.


Tubuh ini tetap akan berada dalam kondisi yang kelelahan. Aku tidak pernah berpikir untuk mengistirahatkan diri barang sejenak yang justru berimbas pada tejengkngnya tubuhku di kamar mandi itu.


Hal buruk tidak selamnya menghasilkan keburukan pula. Ada kalanya, peristiwa buruk berdampak pada kebaikan diri. Tahu siap yang peduli misalnya.


Aku terenyuh saat Bang David tiba tiba hadir menjadi pahlawan.


Seorang pangeran yang datang menolong putrinya yang terjatuh di kamar mandi. Ah, dongeng macam apa itu.


Karena kejadian konyol itu pula lah hubungan kami membaik. Walau pun belum sampai kepada tahap yang intim, setidaknya kami telah saling berbagi napas

__ADS_1


Bang David, tidak kah kau tahu. Kamu adalah orang pertama yang melakukan itu dengan ku dengan perasaan cinta yang membuncah dalam dada dariku untukmu.


Uh, bagaiman sih mengibaratkannya. Aku belum pernah jatuh cinta. Aku juga belum pernah berserah diri dengan suka rela kepada seorang lelaki.


Lupakan kejadian menyakitkan itu. Aku tidak ingin mengingatnya.


"Apa sudah tidak apa apa?" Suara Bang David memecah kesunyian kami.


Aku tergagap lalu mendongak membalas tatapan matanya.


Duh, betapa sendu nan menghanyutkan tatapan itu. Seakan diriku ingin terus menyelam ke dalam sana.


Namun, diri ini belum kuasa berlama - lama berbalas tatap. Akhirnya, aku memilih menunduk.


Bang David menyentuh daguku lembut dengan jari telunjuknya. Memaksaku untuk membalas tatapan teduh itu.


Riuh dalam dada semakin menggedor sekuat tenaga. Aku yakin, jika kami semakin mengikis jarak, lelaki itu akan menutup kedua telinganya karena suara berisik ini.


"Kenapa enggak jawab, hm? Masih sakit?" tanyanya dengan suara lembut.


Aku menggeleng lemah, merasakan kedua pipi yang mulai memanas.


Jantungku semakin berdegup kencang saat merasakan usapan lembut di pipi kananku. Seutas senyum tipis tersungging di wajah Bang David.


"Bener - bener bikin khawatir." Selanjutnya, adegan manis tadi berubah menjadi adegan kekerasan dalam rumah tangga. karena setelah itu Bang David menarik kedua pipiku dengan gemas.


"Aw! Sakit, Bang," pekikku menahan sakit.


"Siapa suruh ceroboh. Kebiasaan kamu itu ya?" omelnya.


Aku masih mengelus - elus pipi yang terasa panas. Benar - benar terasa sangat sakit.


"Bang, maaf untuk kejadian malam itu," ucapku lirih dengan perasaan takut - takut.

__ADS_1


"Kejadian apa?" tanya Bang David sok cuek.


Dasar.


"Kejadian di malam pengantin kita," sahutku dengan suara timbul tenggelam.


"Enggak usah dibahas," selanya cepat.


"Tapi beneran ... aku tidak memiliki siapa pun selain Abang. Aku enggak dekat dengan lelaki mana pun. Semua kejadian itu di luar kendali ku." Aku mencoba untuk menjelaskan dan memberi pengertian kepada Bang David.


semoga dia bisa mengerti tanpa diri ku harus menceritakan kisah menyedihkan itu.


"Apa masalahnya?" tanyanya dengan suara tegas.


Aku menggeleng lagi, kini dengan gerakan yang lebih kuat diiringi deraian air mata.


Bang David mendengus kasar lalu secepat kilat tangannya menarik tubuhku dalam dekapannya.


Aku tak kuasa menahan diribubtuk tidak menumpahkan tangis di dada bidang itu. Ingin rasanya diriku melebur dalam raganya, melupakan semua duka yang pernah terlewati. Sayangnya, semakin teringat sakit itu semakin nyata menghujam di dada.


Entah berapa lama aku terisak di sana, membasahi pakaian kerja miliknya. Tangan Bang David terasa sangat lembut membelai kepalaku sampai ke punggung. Menyalurkan rasa nyaman sekaligus menenangkan. Untuk sesat diriku merasa terlindungi, merasa disayangi dan merasa memiliki tempat pulang.


"Baiklah, jangan ceritakan sekarang kalau kau belum sanggup," ucap nya pelan. "Tapi, jika ada yang mengganjal hati dan pikiran, aku harus menjadi orang pertama untukmu mengadu. mengerti?"


Aku mengangguk, menyetujui setiap kalimatnya dan berjanji akan melakukan apa yang dia minta.


"Aku suamimu, tanggung jawabku ada padaku," ucapnya tegas.


Aku mengeratkan pelukan lalu kembali mengangguk berulang - ulang.


Aku tahu, masa lalu itu tak mungkin bisa diubah. Namun, aku juga tahu. Diriku pasti akan aman bersama lelaki itu. Lelaki yang telah mengambil tanggung jawab atas diriku


Lelaki yang telah menjadi suamiku.

__ADS_1


"Terima kasih," ucapku tulus.


__ADS_2