
Menunggu waktu seminggu itu terasa sangat lama. Setiap hari aku menghitung berapa lama lagi menunggu hari Sabtu, hari di mana aku dan Aqila melangsungkan pernikahan.
Kali ini aku menurut, tanpa pesta yang mewah. Jangankan menyewa gedung, acaranya saja hanya di rumah saja.
Wanita itu memang berbeda. Saat para wanita di luaran sana suka dengan hal - hal mewah, Aqila malah tidak mau.
Sudahlah. Aku menurut saja, yang penting kami menikah. Me - ni - kah titik.
Urusan pakaian dan segala pernak perniknya bagian Mama yang menyiapkan. Wanita yang telah melahirkan diriku itu memang paling heboh menyambut acara ini.
Akhirnya, hari itu datang juga. Aku telah bersiap dengan pakaian serba putih. ini adalah pernikahan keduaku, tetapi rasanya seperti yang pertama.
jika dulu debarannya karena ijab yang salah alamat. sekarang, benar - benar sangat mendebarkan.
aku dan Aqila duduk berdampingan. dia tampak cantik sekali dengan kebayanya. kami sama mengenakan pakaian yang serba putih.
ijab dilaksanakan dengan lancar tanpa hambatan. jangan lupakan Adrian yang duduk tidak jauh dariku. sahabatku itu memberikan semangat dan senyum terkembang.
akhirnya, aku sudah memiliki istri. status duda kini tak lagi tersemat padaku.
ucapan selamat aku dapatkan dari tamu undangan. rasanya sudah tak sabar menunggu malam. ck.
"Om Avid, selamat yaaa," ucap Putri yang langsung menghambur di pelukanku.
"Terim kasih, sayang," balasku lalu mencium pipi gembil itu bertubi - tubi. gemas.
"selamat, bro," ujar Adrian lalu memelukku.
"thanks." aku menjawab singkat saja.
kemudian berlanjut dengan mantan istriku yang memberikan ucapan.
tentu saja aku deg - degan melirik bagaimana reaksi Aqila di sampingku. untunglah dia bisa menempatkan diri, wajahnya biasa saja tidak menunjukkan ekspresi yang aneh - aneh.
setelah keluarga itu pergi,. aku berbisik kepada istriku, "pegel enggak?"
"enggak," balasnya ketus.
__ADS_1
"kalau pegel nanti aku pijitin deh," godaku.
"ih, apaan sih?" balas Aqila malu - malu
wow. aku takjub dengan pipinya yang merah. Karen gemas, aku pun mencium pipi yang merona itu. ini kali kedua aku menciumnya setelah kami sah menjadi sepasang suami istri.
"Abang, apaan sih?" Aqila menunduk, bibirnya terangkat menyunggingkan senyum.
dari samping saja sudah terlihat sangat cantik, lantas jari telunjuknya mengelus pipi yang tadi ku cium.
"aku semakin tidak sabar untuk masuk kamar," bisikku lagi.
aqila semakin menunduk dalam dan terlihat oleng. mungkin dia sempoyongan karena capek.
aku pun mengajak Aqila duduk. meraih tangannya yang terasa dingin, menggenggamnya untuk menghangatkan lalu sedikit menarik mengajaknya duduk.
tuh kan, wajahnya bersemu merah lagi. Aqila yang sekarang sangat berbeda dengan Aqila yang biasanya. wow, apa ini efek dari pengantin baru.
aku mengulum senyum. gadis ini jinak rupanya.
saat aku sedang asyik memperhatikan wajah cantik pengantin wanitaku, saat tiba - tiba terjadi kehebohan di depan sana.
"Abang ... Abang! aku calon istri Abang, kenapa malah berganti dia." seseorang menjerit - jerit di sana yang kemudian menjadi pusat perhatian.
aku dan Aqila saling pandang, lalu sama - sama mengangkat bahu tanda tak mengerti.
"abang! Abang!" jerit wanita itu lagi. lantas berlari mendekati kursi pelaminan. namun, tertahan oleh tangan - tangan kekar para security.
aku terpaku di tempat menyaksikan pemandangan itu. antara tidak percaya dan juga shock. bukankah wanita itu ada di rumah sakit? kenapa dia di sini?
setelah sekian tahun mungkinkah Alina telah sembuh? lalu kini kembali ke dunia nyata. nahasnya, dia datang kemari merusak acara resepsi ini.
aku mengacak rambut gusar, melihat Alina digotong keluar sedangkan tubuhnya meronta - ronta. sungguh malang nasibmu Alina.
"ada apa, bang?" tanya wanita yang duduk di samping ku itu dengan suara lirih.
aku menoleh membalas tatapan Aqila yang penuh tanya.
__ADS_1
"enggak kenal," jawabku berlagak santai.
iya aku memang tidak terlalu mengenal wajah itu, di telah berubah tidak seperti beberapa tahun lalu. semuanya kini telah berubah, aku suami Aqila.
***
untunglah acara ini akhirnya selesai juga. aku langsung memboyong Aqila ke apartemen. menolak permintaan Mama untuk tinggal sementara.
aku mau apa - apa nanti Aqila malah sungkan. enggak bebas di sana.
"bang, enggak enak lho sama mama," ujar aqila. Seperi dia merasa tidak enak dengan mama.
"enakin aja lah. nanti kita sering main," balasku dengan mengedipkan mata ke arahnya.
"mau ngapain juga sih ke apartemen langsung. rumah mama langsung sepi setelah pesta," ucap Aqila lagi.
wah. dia benar - benar. juteknya keluar.
"tadi aja di sana malu - malu. sekarang keluar cerewet plus juteknya. suami ini dimarahin." aku berdecak pura - pura kesal.
mobil terus melaju membelah jalanan padat. aku sudah tidak sabar untuk sampai ke kamar.
"cepetan, pak!" seruku agar si sopir mempercepat laju kendaraan.
"macet, bos," jawab si sopir pelan.
aku berdecak kesal. "emang enggak ada jalan lain?" ketusku.
"enggak ada, ini yang paling cepet," balas lelaki itu.
aku menyugar rambut.
"sabar, bang. ngapain juga buru - buru?" sahut aqila dengan suara lirih.
"kamu ini kayak engga tahu aja. jangan pura - pura awas kamu," balasku kesal.
rasanya mepalaku sudah mendidih.
__ADS_1