
Matahari semakin naik ke atas, membuat siang ini begitu panas menyengat kulit, semangat untuk mendapatkan sebuah bendera dan keluar dari labirin secepatnya menepis rasa lelah dan haus yang mendera Almira dan teman-teman nya.
"Bagaimana ini..? kita belum mendapatkan sebuah bendera." keluh Jonas.
mereka memutuskan untuk beristirahat sebentar di dekat patung berbentuk burung merpati, ada sebuah air manjur yang keluar dari paruh burung. patung itu ada di tengah-tengah labirin. Almira menyenderkan tubuh rampingnya di sebuah batu yang menampung air yang keluar dari paruh burung itu. Sesekali mereka mengelap keringat yang ada dahinya.
"kenapa ada patung di tengah-tengah Labirin seperti ini ya..?"
"pertanyaan yang aneh..mungkin buat tempat orang istirahat seperti kita, atau bisa jadi agar yang masuk ke dalam labirin tidak bosan jadi menikmati pemandangan patung yang cantik ini.." celoteh Jonas
Almira hanya mendengar kan keduanya berdebat tentang patung yang ada di tengah-tengah labirin.
"Nah itu...?" seru Almira sambil berdiri dari tempat duduknya, membuat Jonas dan seyna menatap heran kepada teman satu timnya itu. Almira memasukan kepalanya di dalam genangan air yang terlihat jernih dan segar. di dasar air banyak bebatuan yang warna warni menambah keindahan tempat menampung air. Seyna dan Jonas terkejut bukan main melihat tingkah temennya yang sepontan.
"Hai.. apa-apa sih kamu, kalau sudah menyerah jangan seperti itu, nanti tidak bisa bernafas. Kamu mau bunuh diri." geram Seyna sambil menarik tubuh Almira menjauh dari air. Almira memutar bola matanya dengan malas.
"sebentar..aku harus memastikan sesuatu." walaupun mereka tidak tau apa yang di katakan oleh Almira, kedua temannya hanya mengangguk dan memperhatikan tingkah Almira.
Di masukan kembali kepalanya di dalam air, benar saja apa yang di cari ada di bawah air di sembunyikan di bawah patung burung merpati. Tangannya di masukan ke dalam air, di raihnya bendera itu tapi tidak berhasil. di ambil tongkat sihirnya kemudian di arahkan di bawah patung burung.
"Bra..alakadabra..terbang..." patung itu langsung melayang ke udara.
"Cepat ambil bendera yang di bawah." Seru Almira, dengan cepat seyna memasukan tangannya ke dalam air dan di ambil sebuah bendera. Almira menurunkan patung burung dengan sangat pelan-pelan agar tidak rusak.
"Huff...akhirnya." Almira menghembuskan nafas kasar.
"Bagaimana kau tau ada bendera di bawah patung ini..?" tanya Jonas penuh dengan selidik.
__ADS_1
"itu karena..." sebelum Almira menyelesaikan ucapannya, bendera yang ada di tangan seyna terbang begitu saja, dan mendarat di tangan piter dengan sangat mulus.
"Hahahaha...akhirnya kita dapat. kita pemenangnya." Teriak Piter yang merebut bendera dari tangan seyna menggunakan tongkat sihirnya.
"Hai... kembalikan bendera kami."
"jangan mimpi." seru Piter dengan senyum sinisnya pergi meninggalkan tim Almira.
"Bra...ada kadabra.." Almira mengarahkan tongkatnya di sebuah tembok labirin, tembok itu mengeluarkan daun rambat yang menjalar dengan sangat panjang kemudian mengejar Piter dan timnya yang berjalan mulai menjauh. semakin dekat daun rambat itu mengikat kedua kaki Piter dan kaki teman-teman nya. membuat mereka susah berjalan.
"a...apa ini...?" Piter begitu panik saat sebuah daun rambat mengikat kedua kakinya.
Merasa terancam pria berbadan tinggi itu mengeluarkan tongkat sihirnya dan berusaha melepaskan daun rambat yang mengikat kakinya. Bukannya malah terlepas, daun rambat itu makin menjalar ke seluruh tubuh dan mengikat semua badannya.
Bibir Almira masih komat- kamit membaca sebuah mantra, entah mantra apa yang dia baca. sehingga daun rambat itu bisa mengikat kencang tubuh Piter dan timnya.
"kami sudah susah payah untuk mendapatkan bendera ini, tapi kamu dengan mudahnya merampas bendera kami. Ini balasan untuk orang yang berlaku curang." seru seyna sambil menepuk pipi piter sambil meledeknya.
"Lepaskan aku, kalau berani ayo kita bertarung dengan secara adil. satu lawan satu."
"Bertarung dengan adil..? yakin..? sekarang saja kamu curang."
"Hai...gendut, kau sudah berani denganku. Awas saja kalau sampai aku terlepas dari sini. Akan ku buat perhitungan kepadamu." Jonas langsung sembunyi di belakang tubuh Almira.
"Ayo tinggalkan mereka, ya...mungkin kalau mereka tinggal di sini akan menjadi santapan hewan berkepala harimau tadi." Goda Almira, berhasil membuat Piter, Boba dan patrun bergidik ngeri mendengar hewan yang berkepala harimau di sebut.
"Tolong...jangan tinggalkan kami di sini..? kami janji akan mengakui kesalahan kami dan mengakui perbuatan curang kami kepada tuan Rukus." seru Piter dengan perasaan campur aduk, Dia berharap ada belas kasihan dari Almira.
__ADS_1
"Bagimana Al..?" tanya seyna melihat temannya itu.
Almira menarik nafas panjang, di tatapannya piter dan teman-temannya dengan sangat malas.
"Kalian jalan dulu, lurus saja ke depan. Biar ketiga orang ini yang menjadi urusanku."
Jonas dan seyna berjalan terlebih dahulu, Almira membaca mantra kembali terlihat bibirnya komat kamit tapi tak terdengar suaranya.
"bra ...alakadabra..terangkat..!!" Tongkat sihirnya di arahkan kepada tubuh piter dan teman-teman nya yang masih terikat daun rambat. Tubuh mereka melayang di udara. Almira sengaja tidak membuka ikatan karena takut mereka ingkar akan janjinya.
piter dan teman-teman nya, sedikit ngeri saat tubuhnya terangkat ke udara, sesekali matanya menatap Almira yang ada di belakang mereka. Ada perasaan ingin tahu yang besar kepada gadis yang berambut coklat itu, kenapa dia bisa mempunyai banyak ilmu dan matra padahal dia termasuk siswi baru di sekolah sihir.
pak pluto yang ada di atas menara melihat kemampuan Almira yang terpendam tersenyum bangga kepada gadis itu.
"Anak yang hebat, lanjutkan Almira. Bapak ingin melihat sampai mana kekuatan yang tersembunyi di dalam dirimu."
"Al...jalan buntu bagaimana ini. sedangkan waktu tinggal lima belas menit lagi." Seyna begitu kwatir bila mereka tidak bisa keluar dari labirin padahal bendera sudah ada di tangan mereka. Tinggal satu langkah lagi mereka menang.
Almira melihat sebuah jembatan melayang di atas yang menghubungkan ke jalan keluar labirin, tapi jembatan itu terputus, di tengah. Almira menurunkan piter dan timnya ke bawah. raungan harimau terdengar jelas dari belakang.
"Al...suara itu..?" seyna sedikit merinding.
"Seperti nya hewan itu masih dendam dengan kita. buktinya dia mengikuti. secapatnya kita harus keluar sebelum hewan itu sampai di sini."
Hujan tiba-tiba turun begitu deras, padahal tadi matahari bersinar dengan sangat terik. tubuh mereka basah. Almira melihat jembatan yang melayang itu sedikit aneh, karena bagian bawah jemapatan yang terputus tanahnya kering tidak terkena air hujan sama sekali.
akankah Almira dan timnya bisa keluar dari labirin..?
__ADS_1
Bersambung...