
Tongkat sihir itu melayang-layang di depan Almira, pemilik toko sangat heran dengan kejadian di depan matanya.
"Baru kali ini ada tongkat sihir yang mencari tuannya sendiri. Hanya orang-orang terpilihlah yang seperti ini." Tatapan pemilik toko begitu tajam ke arah Almira.
"Hahahaha...tidak mungkin, dia gadis biasa yang baru akan masuk ke sekolah penyihir jangan terlalu berlebihan." Seru Guru Li, agar pemilik toko tidak begitu curiga. Benar apa yang di katakan pemilik toko, Hanya orang pilihan saja yang di pilih oleh tongkat sihir.
Guru Li langsung mengeluarkan sebuah kantong yang begitu usang, di dalamnya terdapat benda bulat dan pipih dan memberikan itu kepada pemilik toko. itu adalah uang di dunia sihir. Mereka langsung bergegas meninggalkan toko, agar tidak di tanya-tanya lagi.
"Jangan sampai bicara kalau kau adalah putri dari Alkila..apa kau paham.."
"Baik guru..."
walaupun Almira tidak tau apa sebabnya, tapi dia tetap menurut saja. Apa yang di katakan oleh pria berbadan gendut di sampingnya itu.
"Aku hanya bisa mengantar mu sampai di sini, jaga dirimu dengan baik."
"Apa Bunny tidak ikut denganku...kalau terjadi sesuatu denganku bagaimana..? aku takut.." kepala gadis itu tertunduk, ada perasaan sedih dan takut.
"Tenang saja, pak pluto akan mengawasi mu, guru-guru di sini tidak akan membiarkan siswanya celaka, di sini sangat aman. Tenangkan dirimu."
Guru Li dan Bunny hanya mengantar Sampai gerbang kastil, kemudian dia pulang ke rumah. Almira tidak begitu yakin dia bisa menjalani hari-harinya di dunia sihir dengan seorang diri. Apalagi dunia sihir baru dia datangi untuk pertama kalinya.
***
Hari pertama masuk di sekolah sihir membuat Almira tegang, banyak siswa di sana yang belum dia kenal. ruang kelas sihir berbeda dengan ruangan kelas seperti biasanya. ruangan yang besar, tinggi banyak lentera di setiap pojok ruangan. semua siswa menggunakan baju berwarna hitam dan sebuah jubah. saat seorang guru Sihir masuk semua siswa berdiri dan memberikan hormat dengan cara membungkukkan badannya.
"Hari ini adalah hari pertama kalian masuk di sekolah sihir, Setalah liburan. kita akan belajar menggunakan tongkat sihir.
semua siswa mengeluarkan tongkat sihirnya, mereka di suruh mengangkat buku yang ada di meja. semua siswa melakukan tapi semua belum berhasil, karena salah mengucapkan mantra ada yang hasilnya membolak balik buku, yang lebih parah lagi adalah salah mengucap mantra membuat buku terbakar begitu saja.
__ADS_1
"aaaaa...tolong pak..!!" seorang siswa terbang ke sana ke sini membentur tembok. pak Pluto mengarahkan tongkatnya ke siswa yang terbang tidak lama siswa itu turun.
"ingat..!! konsentrasi dan ramalkan mantra yang benar..!!" seru pak Pluto sambil melihat kekacauan di kelas.
almira menarik nafas panjang, matanya di pejamkan dia berusaha konsentrasi, kemudian di tatapnya buku dengan sangat tajam,mulutnya meramalkan sebuah mantra yang telah di ajarkan.
"bra...kadabra...terangkat sekarang...!!!" seru Almira dengan sangat lantang, Tongkat di arahkan ke buku, lama-lama buku itu terangkat dengan sangat ringan. Semua siswa menatap ke arah Almira dan memberi tepuk tangan. pak pluto tersenyum melihat Almira.
Seyna juga bisa melakukan seperti Almira, itu semua berkat dia berlatih sepanjang hari kemarin. Latihannya tidak sia-sia. Seyna tersenyum puas, dia melirik ke arah Almira dan melambaikan tangannya. Seyna adalah gadis yang sangat ceria dan riang. Dia mudah beradaptasi dan akrab dengan semua teman-teman barunya.
"bra...kadabra...terbang...!!" suara sangat nyaring keluar dari pria bertubuh gembul. dia adalah Jonas, salah satu siswa di sekolah penyihir juga.
saat buku yang Jonas sihir terbang, tiba-tiba ada buku lain yang menabrak buku milik Jonas, membuat bukunya terjatuh ke lantai. Buku yang menabrak adalah buku yang di kendalikan Piter, siswa yang terkenal dengan kenakalannya dan anti penolakan.
Piter tersenyum sinis saat melihat buku Jonas jatuh. Almira dan Seyna mendekati Jonas dan mengambilkan buku miliknya. walaupun badannya gembul, Jonas adalah siswa yang penakut dan kurang percaya diri.
***
"Kenapa hanya di lihat saja, di makan. Ini adalah makan terenak di sini. lihatlah Jonas begitu menikmatinya."
Di ambilnya roti itu dan di masukan ke dalam mulutnya.
"lumayan..." seru Almira sambil melihat roti yang ada di tangannya dan membolak-balik roti itu. seyna hanya tersenyum melihat kelakuan Almira yang menurut nya sangat aneh.
"Minggir-minggir..Piter mau duduk di sini..!!' seru pria yang bersama Piter. mereka mengusir beberapa siswa yang sedang duduk dan makan di sana. Tanpa berpikir panjang mereka langsung pergi karena tidak mau berurusan dengan Piter. Almira hanya melirik sebentar kemudian melanjutkan makannya.
" hem...Nita ke dua.."
"maksudmu Nita siapa..?" selidik seyna
__ADS_1
"bu..bukan apa-apa, dia adalah teman ku. ada seseorang yang mengingatkanku dengan Nita. sangat mirip sekali dengan sifatnya."
"Benarkah...?" Sebelum Seyna bertanya lagi. Almira segera menyuapi temannya itu dengan roti miliknya kemudian dia tersenyum.
"Siapa gadis yang ada di sebrang sana bersama Seyna...?"
"Itu adalah Almira, siswa baru di sini.."
Piter menatap tajam ke arah Almira, karena hanya gadis itu yang bersikap biasa dan tidak takut dengannya. padahal semua siswa segan dengannya.
***
Almira satu kamar dengan Seyna, mereka berbincang sebelum tidur malam. Bercerita dan bersanda gurau
teng...teng...
Terdengar suara lonceng begitu keras memenuhi ruangan kastil yang ada. Tandanya semua siswa harus masuk ke kamar dan segera tidur. bila ada yang melanggar maka mereka akan terkena sangsi. semua pintu kasti tertutup semua begitu saja. Salah satu guru melakukan patroli di kastil memastikan semua siswa sudah masuk ke kamar. guru itu menggunakan lentera untuk memerangi jalannya. karena di dunia sihir tidak ada listrik yang ada lampu obor dan lentera.
seyna memberi isyarat di bibirnya menggunakan telunjuk tangan, agar Almira diam dan menutup tubuhnya menggunakan selimut karena sebentar lagi guru akan mengecek kamarnya. Benar saja selang lima menit ada yang membuka pintu kemudian menutup nya kembali.
"Di sini sangat ketat peraturan nya jadi kalau sampai kita melanggar maka kita akan kena hukumannya." seru seyna
Almira bangun dari tempat tidurnya dan mengambil tongkat sihirnya, dia belajar dengan menggunakan tongkat itu . Seyna hanya membuang nafas kasar melihat temannya berlatih. sepertinya kata-kata nya tidak di dengar oleh Almira.
"Al...ayolah kita tidur, kalau sampai pak pluto tau, kita bisa di hukum." Bisik seyna. Almira hanya tersenyum di letakan tongkat tersebut di sebelahnya tidurnya.
Bersambung...
****
__ADS_1
(hallo kakak2 terimakasih sudah mampir di karyaku...bila suka silahkan tinggalakan like dan komentar yang membangun. komentar kalian sangat di nanti😉 agar penulis semakin semangat untuk menulis kembali)