Dunia Sihir Itu Ada

Dunia Sihir Itu Ada
Bab. 52


__ADS_3

 Aroma makanan yang tersaji membuat cacing di perut berdemo untuk segera minta di isi. Banyak sekali jenis makan yang ada di meja, dari rusa panggang, buah-buahan, ayam bakar dan masih banyak lagi.


Dengan lahapnya semua menikmati makan siang tanpa bersuara, rasa lelah mengerjakan pekerjaan hari ini seperti terbayar dengan menikmati rusa panggang.


"Guru... besok aku akan menemui nenek.."


"Ehm..."


"Apa aku boleh ikut...?" secara serempak seyna, boba, patrun dan jonas berkata bersama.


Tuan Rukus, pak pluto dan Tuan saida menatap ke arah murid-muridnya, kemudian mereka tertawa bersama.


"apa asiknya dunia manusia, masih enak dunia sihir tinggal mengajukan tongkat maka semua sudah siap."


"Guru Li sudah pernah ke dunia manusia...?"


"ehm...itu sudah lama sekali, lupakan saja."


Mata Almira berbinar-binar begitu bahagia saat portal dunia sihir terbuka, mereka semua saling bergandengan tangan. Saat mereka melangkah masuk ke dalam dunia manusia ada sepasang mata yang melihat dan tersenyum sinis.


seperti biasa mereka akan keluar di dalam kamar milik Almira. semua bernafas lega karena sudah sampai tujuan dengan selamat.


"seperti nya ada tamu...? kalian tunggu dulu di sini, nanti akan ku bawakan banyak makanan."


"Benerkah...asik..pas sekali aku lapar." jonas mengelus perutnya yang agak membuncit.


****


"masuklah...akan ku buatkan minum untukmu."


"Terimakasih ibu, maafkan aku. seandainya aku dulu mendengarkan kata-kata ibu."


"Sudahlah...tidak usah di pikirkan yang sudah-sudah, aku sudah melupakannya. Bagaimana keadaan Nita..?"


"Suatu hari akan ku kenalkan anak itu kepada ibu, semenjak ibunya sudah tidak ada. Dia butuh seseorang untuk memperhatikannya. bagaimana ke adaan Alkila bu..?"


Nenek Almira tersenyum kecut, di tatapnya anak lelakinya itu dengan tatapan yang sulit di artikan.


"kau baru menanyakan kabar adikmu sekarang...? selama ini kemana saja kamu...?" Nenek Almira hanya menarik nafas panjang.


"Kau terlalu sibuk dengan dunia kerjamu, sampai kau lupa akan keberadaan anak, adik dan orang tuamu."


"maafkan aku ibu.."

__ADS_1


"ibu...? maksud om ini apa nek...?"


"Almira...? sejak kapan kau berada di sini."


Almira sudah berada di belakang kursi makan, semenjak tadi dia mendengar kan perbincangan keduanya, sedangkan teman-teman nya, menunggu di kamar.


"kenapa menyebut nama mama sebagai adik om ini..? apakah dia....?" Almira menggantungkan pertanyaan nya, berharap neneknya menjelaskan semuanya. Karena selama ini yang Amira tau, dia hanya mempunyai nenek dan kakeknya yang sudah membesar kan dan menyekolahkan nya.


"Dia adalah kakak dari mamamu..."


"apa..?"


Almira begitu terkejut dengan kenyataan yang sebenarnya, di lihatnya pria paruh baya itu dengan seksama, mulai dari penampilan dan gaya.


"Bu...bukannya om ini...ayahnya Nita..? donatur tetap di sekolah...?"


"Kau mengenal Nita...?"


Almira hanya tersenyum getir bila mengingat nama itu di sebut. Bagaimana tidak hampir tiga tahun dia menjadi boneka mainan di sekolah.


"Ti...tidak...!! aku tidak mengenal sama sekali orang yang anda sebutkan."


ayah Nita menatap ke arah Almira, dia tersenyum melihat paras cantik yang mirip dengan Alkila adiknya.


Gadis itu hanya menatap nenek dan kakeknya yang dari tadi terdiam dan menunduk. Entah sebuah kebetulan atau keberuntungan karena rumah yang di tempati nenek dan kakek akan di sita bank.


kakek sudah menggadaikan surat rumah dan tanah untuk kebutuhan sehari-hari dan keperluan sekolah Almira, walupun Almira mendapat beasiswa masuk di sekolah ternama, tapi untuk buku dan lainnya dia harus merogoh kantong sendiri. kakek berjualan koran setiap hari tidaklah cukup kadang nenek menjual kue di bantu Almira.


Tiga puluh menit sebelumnya.


Saat keributan terjadi di depan rumah nenek. antara pihak bank dan kakek Almira, tidak sengaja Ayah Nita lewat tepat di depan rumah tanpa sengaja.


Seorang kakek dan nenek di dorong begitu keras oleh seorang pria dengan tubuh yang kekar, hingga tersungkur di tanah. ayah Nita langsung berlari dan membantu membangun nenek.


" jangan berlaku kasar dengan orang tua...!!" ayah Nita naik pitam melihat perlakuan kasar dari lelaki yang membawa stiker.


mereka menempel sebuah stiker di depan pintu dengan tulisan "rumah di sita bank "


"aku kasih waktu kamu selama dua hari untuk mengemasi semua baju-baju mu."


Kedua pasangan kakek dan nenek itu hanya bisa berpelukan dan saling menangis satu sama lain.


"ibu...?" sebuah air mata bening lolos dari sudut mata membasahi pipi yang di penuhi dengan bulu.

__ADS_1


"Ar...arman...? sedang apa kau di sini...?" selidik kakek yang tak percaya bahwa anak pertama ada di hadapannya. sudah berpuluh-puluh tahun mencari keberadaan orang tuanya baru kali ini dia bisa bertemu. Tapi pertemuannya sungguh tidak tepat waktu, karena orang tuanya di usir dari rumahnya sendiri.


"sebenernya apa yang terjadi bu...?"


mereka menceritakan apa yang terjadi dengan kehidupan nya dan harus menggadaikan surat tanah miliknya. Arman begitu menyesal karena tidak bisa membahagiakan kedua orang tuanya, bahkan selama ini dia hidup selalu dalam kecukupan tapi kenyataannya orang tuanya harus banting tulang untuk memenuhi keseharian.


***


"Apa kamu masih dengan bisnis harammu itu...?" celutuk nenek.


Ayah Nita hanya tertunduk lesu mendengar perkataan dari ibunya, Almira hanya mendengar kan dengan seksama.


"Sebenarnya...masih bu...tapi..."


"Tapi apa...?"


"setengah dari perusahaan ku sudah di ambil oleh orang, bisa di bilang teman sendiri karena aku terlalu percaya dengannya."


Nenek menatap lekat Arman dan menghembuskan nafas kasar.


"bisnismu adalah bisnis haram, sadarlah... kalau ibu sarankan lepaskan bisnis itu kalau perlu kasih saja semua perusahaan mu itu kepada temanmu itu."


"Nanti aku pikirkan bu..."


"Hem... sayang...kapan kau kembali..?" Nenek mengelus rambut Almira dengan sangat lembut.


"ehm...barusan nek. Ada temen-temen Almira juga."


"Almira...dari mana..?"


"ehm...itu...dari tempat temen om. pulangnya lewat pintu belakang." dusta Almira. Dengan cekatan di ambilnya beberapa buah yang ada di atas meja dan kue buatan nenek, yang tidak pernah absen setiap hari. Almira berlalu dan masuk ke kamarnya.


"wah...buah...apa itu Al..?" tanya patrun.


"ini namanya kue, enak sekali. buatan nenek Almira, pasti kalian suka."


"Aku tanya Almira bukan kamu."


"sudah-sudah jangan ribut. Tidak enak di dengar kakek dan neneknya Almira. lihat tuh..." Boba menatap Almira yang sejak tadi masuk kamar hanya diam tanpa ekspresi. Mendapat kode dari Boba temennya yang lainpun melihat Almira dengan penuh tanda tanya.


"al...al...hello...??" seyna melambaikan tangannya di depan muka Almira tapi gadis itu tetep diam.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2