
Almira, jonas, Boba dan Patrun saling berpandangan satu sama lain kemudian mengangguk pelan. Tatapan tajam mata mereka menggambarkan sudah siap untuk perjalanan yang akan mereka lakukan.
"Kami pamit dulu Guru." Seru Almira dengan tegas.
"Berhati-hatilah di jalan, ingat kataku. kalian pergi ber empat dan pulang harus dengan jumlah yang sama. apapun yang terjadi."
"Baik guru.."
Almira dan ke tiga penyihir muda melangkahkan kakinya menuju timur.
"Apa kau yakin mereka mampu...?"
"Aku percaya dengan Almira, kau tidak perlu meragukan anak itu saida, karena dia bukan anak sembarangan."
"Mereka anak kemarin sore, kalau mereka mampu....kenapa mereka harus di masukan ke sekolah sihir untuk belajar ilmu sihir dari dasar."
Tuan Rukus dan pak Pluto hanya mendengar perdebatan antara Guru Li dan Tuan saida. Guru Li meninggalkan saida dan mengecek kondisi seyna, akan membuang-buang waktu bila berdebat dengan orang yang keras kepala seperti Tuan Saida.
Guru Li menatap ke adaan seyna yang semakin parah, dia menyuruh bunny untuk mencari Tanaman herbal di hutan agar seyna bisa bertahan sampai Almira kembali dengan bunga gold.
Almira dan ketiga penyihir muda sudah mulai memasuki hutan dan melewati sungai, pemandangan yang begitu indah di sepanjang jalan. Gadis berambut coklat itu terus menatap tajam ke segala penjuru, dia sama sekali tidak mau lengah.
saat keluar dari hutan, mereka di sambut dengan pemandangan luas penuh dengan bebatuan. Almira menaikan tangannya ke atas menandakan untuk berhenti.
"Ada apa..?" Tanya jonas.
"Di depan banyak bebatuan, kau ingat kata Guru Li, kita akan berhadapan dengan raksasa batu, kalau kita menemukan raksasa itu tandanya jalan kita menuju ke bunga gold bener."
Patrun bersembunyi di belakang Boba, dia sangat gemetar dan takut. mendengar kata raksasa batu saja sudah membuat Patrun merinding bagaimana kalau bertemu langsung.
"Dari tadi kita berjalan, bagaimana kalau kita istirahat di bebatuan itu." Tunjuk jonas, semuanya pun setuju, karena kaki mereka sangat kaku dan pegal-pegal. Patrun melihat sekeliling dengan penuh kewaspadaan.
"katanya ada raksasa batu, tapi di sini hanya terlihat batu-batu besar saja. apakah Guru Li hanya bercanda..?"
"benar juga ya...apakah kita salah dalam berjalan..? Bagaimana kalau kita makan dulu, kita tidak bisa membuang-buang waktu sedetik saja, karena seyna dalam bahaya." Mereka langsung membuka bekal dan menyantapnya.
"Kitakan seorang penyihir, kenapa kita tidak menggunakan sapu terbang. agar perjalanan semakin cepat dan kita tidak lelah." seru Boba sambil mengunyah makannya.
__ADS_1
"Astaga...aku sampai lupa kalau kita penyihir.. kenapa kau tidak bilang dari tadi boba..?' seru Almira sambil menepuk jidatnya.
Semua temannya tertawa melihat tingkah gadis berambut coklat itu, walaupun Almira pinter dan keras kepala, tapi dia mempunyai sifat yang ceroboh dan tidak pernah berfikir panjang.
Di sela-sela makan siangnya, Batu yang mereka duduki tiba-tiba bergetar begitu hebat.
"apakah ada gempa..?" seru jonas dengan raut muka panik, dia berpegangan di batu besar tempat dia duduk.
"Iya seperti nya ini gempa.."
semakin lama batu yang mereka duduki semakin meninggi. Almira dan ketiga penyihir muda langsung melompat ke bawah.
"Seperti ada yang tidak beres, tanah yang kita pijak tidak terjadi apa-apa,lihatlah batu itu..!!"
ternyata batu yang di duduki mereka itu semakin naik ke atas dan terlihat sebuah wujud raksasa yang besar, Almira dan yang lainnya langsung mundur ke belakang.
"Siapa...yang membuat keributan di kawasanku...?" suara besar dan serak terdengar jelas di telinga, ketiga penyihir muda sembunyi di belakang tubuh ramping Almira.
"ma...maaf tuan Raksasa, kami hanya mampir untuk istirahat saja. kami tidak bermaksud untuk membuat keributan di kawasan ini."
Boba, Jonas dan patrun saling berpandangan. mereka melihat ke arah Almira, mereka tau apa yang akan di katakan gadis itu dengan cepat menutup mulut Almira.
"Al...jangan bilang kau mau, kalau sampai salah, kita bisa jadi budaknya. kami tidak mau, apakah kau mengerti..?"
Almira hanya mengangguk, ketiga penyihir muda itu bernafas lega dan melepaskan tangannya dari mulut Almira.
"Kami akan..." sebelum jonas selesai berbicara, sudah di potong oleh Almira.
"Kami akan menjawabnya..!!" seru Almira dengan bibir mengembang
"Al...!!" ketikanya sontak berteriak dan menarik almira.
"Ma...maaf, tuan raksasa...kami akan pulang saja, teman kami hanya bercanda. ya kan Al...?'
Almira menggeleng kepalanya, dia tidak bisa menjawab, sebab mulutnya kembali di tutup menggunakan kain.
"Maaf sekali, berhubungan teman kalian sudah setuju maka aku tetep memberi pertanyaan."
__ADS_1
"huff...Al... kenapa kamu bikin repot saja..!!"
"pertanyaannya adalah...bila di dalam ruangan ada tujuh obor yang menyala. dan satu obor di matikan. tinggal berapa obor yang tersisa...? aku akan memberi tiga kali kesempatan. Bila salah kita akan sesuai dengan kesepakatan awal kita."
krik...krik...krik..
semua hening sunyi tidak ada suara, semua berfikir di kepala masing-masing..
"Hem...hem...hem..." Almira berusaha berbicara tapi tidak dapat, karena mulut di tutup menggunakan kain.
"Aku tau...tinggal enam sisanya, karena satu padam berarti masih ada enam yang menyala. benarkan jawaban ku." Seru jonas dengan percaya diri
"salah...!! kalian masih mempunyai ke sempatkan ke dua."
"jonas...di pikir benar-benar...!!" seru boba kesal.
"Satu...!!" seru Almira tiba-tiba karena penutup mulutnya berhasil di lepasnya.
"astaga anak ini..matilah kita kalau sampai salah."
" ya...benar....!!" seru raksasa batu.
"Bagaimana bisa...?"
"aku ulang pertanyaannya. bila di dalam ruangan ada tujuh obor yang menyala. dan satu obor di matikan. tinggal berapa obor yang tersisa...? jawabannya satu. karena enam obor yang menyala di ambil dari ruangan itu sebagai penerang ruangan yang gelap dan hanya tersisa satu obor yang mati. Dan jawabannya sisa obor tinggal satu."
"wah kamu pintar almira..." seru teman-teman.
"Baiklah, kalian telah berhasil menjawab pertanyaan ku, silahkan melanjutkan perjalanan kalian."
****
Piter yang terluka memasuki ke dalam hutan larangan, dia tidak tau akan bahaya yang ada di depannya. banyak mata yang memperhatikan Piter saat tertatih memasuki hutan itu.
Merasa semakin masuk ke dalam hutan larangan, ke adaannya semakin berbeda. dia baru merasakan keganjalan yang terjadi, tidak ada suara hewan sama sekali, burung-burung yang biasanya berterbangan satupun tidak ada. Dan tumbuhan di hutan itu sangat kering sekali. banyak binatang aneh yang piter jumpai, dan baru kali ini dia melihat bintang-bintang aneh.
Bersambung...
__ADS_1