
Naga berkepala tiga itu memejamkan matamya, kemudian meniup ke arah tangga. Tiba-tiba pintu bawah kasti tertutup dan berubah menjadi tembok. sehingga orang yang berada di luar tidak akan mengetahui ada lantai bawah kastil.
"cepat masuk ke dalam pintu besi itu, sebelum terlambat. Agar aroma tubuh kalian tidak terendus dari luar."
Tanpa berfikir panjang lagi, ke lima penyihir itu masuk ke dalam pintu besi, Di mana ruangan itu pernah di masuki oleh Almira dan seyna.
"bra...alakadabra...Menyala.." sebuah lentera menerangi seisi ruangan yang penuh dengan buku dan benda-benda antik. Ruangan itu kini menjadi bersih dan tidak ada sarang laba-laba karena sudah di bersihkan oleh Almira.
"Ruangan apa ini..?" Tanya piter, mewakili pertanyaan yang lainnya.
"Ini dulunya perpustakaan, tapi sudah tidak di gunakan lagi. Karena berada di lantai bawah..."
"oh..." semua hanya ber o ria serempak.
"Naga itu...?"
"jangan tanyakan padaku, aku tidak tau." dusta Seyna, karena tidak mau banyak pertanyaan yang di lontarkan piter kepadanya.
"Apa yang kita akan lakukan di sini..?" Seru boba.
"Berlatihlah kalian di dalam, dengan buku sihir yang ada. karena kekuatan kalian nantinya akan di butuh oleh banyak orang." Suara naga berkepala tiga terdengar jelas di telinga mereka.
"latihan...? yang benar saja. aku tidak mau.!!" gumam Piter sambil berduduk santai di kursi.
"Itu urusanmu, kalau kau mati di medan peperangan jangan menyesal. karena kesempatan tidak datang untuk ke dua kalinya" Suara Naga berkepala tiga itu agak berat
Seyna melihat-lihat buku yang ada di rak, dia berniat mencari sebuah buku untuk menjadi pedoman dia melatih sihirnya agar semakin kuat. walau pun dia tidak tau apa yang akan terjadi, tapi dia menuruti perkataan Naga berkepala tiga. Karena selama ini apa yang di katakan hewan besar itu selalu benar dan tepat, tak salahnya dia menurut.
"Nah..ini sangat cocok buatku." di tiupnya buku yang berdebu itu, membuat semuanya menjadi terbatuk-batuk.
Saat buku dengan sampul coklat itu terbuka, terlihat gambar yang bergerak sendiri di setiap halamannya. Membuat seyna mudah untuk mengikuti setiap gerakan yang ada di dalam buku. Jonas tidak mau kalah, dia ikut berlatih dengan gadis berambut keriting itu.
"Kau akan menyesal dengan perkataan mu sendiri anak muda..!!" Suara naga berkepala tiga itu seperti sebuah ancaman.
__ADS_1
"Ah...kau hanya sedang mengancam ku, aku tidak takut sama sekali."
"Dasar kepala batu."
****
Di ruang guru, semua merasakan suasana yang berbeda. suasana seperti dua puluh lima tahun yang lalu. pak pluto dan Tuan rakus begitu kuwatir.
"jangan-jangan, Tuan Rukus...!! kumpulkan para siswa dan ungsikan mereka ke lantai bawah kastil. cepat...!!"
Tuan Rukus meniup terompet, mengumpulkan para muridnya yang baru. sedangkan murid-murid yang berilmu sihir tinggi di suruh bersiap-siap untuk kedatangan tamu yang tak di undang. Dengan tergesa-gesa Tuan Rukus akan ke lantai bawah kastil dengan murid-muridnya yang junior, sangat sekali, Dia tidak menemukan jalan menuju ke bawah kastil.
"Seperti Naga tua itu, sudah menutup jalan ke bawah. Dia sepertinya sudah tau apa yang akan terjadi. Kenapa kemarin dia tidak memberi tahukan apa-apa kepadaku, apa benar-benar ada yang di sembunyikan dia kepadaku." gumam Tuan Rukus.
"Bagaimana Tuan rukus...? sebenarnya apa yang akan terjadi..? dan kenapa kita ke sini..? sedangkan yang lain berada di lapangan."
"ya...apakah ada hal yang genting yang akan terjadi..?"
semua pertanyaan-pertanyaan siswanya membuatnya pusing. Dia mengambil nafas dalam-dalam.
"Kami bisa Tuan.."
"ya...benar, kami bisa melawan mereka."
" jangan remehkan kami Tuan, kami bisa."
"ya... benar-benar." semua siswa siswi junior itu langsung bubar meninggalkan Tuan Rukus begitu saja, membuatnya terheran-heran dengan tingkah siswanya.
"Kalian tidak tau, apa yang akan kalian lawan." Gumam Tuan Rukus, sambil melangkahkan kakinya dengan berat. Semua siswa sudah bersiap di lapangan. Pak pluto ada di atas kastil melihat keadaan, sedangkan para guru sihir yang lain berpencar di titik-titik yang sudah di tentukan.
***
Di tengah hutan, Almira bersama Bunny menuju ke rumah guru Li, mereka seperti tergesa-gesa agar cepat sampai di tempat yang mereka tuju. Saat Almira melihat ke atas awan hitam begitu tebal. seperti hujan akan turun.
__ADS_1
"Bunny, hujan akan turun begitu lebat seperti nya. Kita harus segera meneduh."
"coba kau rasakan benar-benar, itu bukan tanda hujan akan turun. Tapi pertanda buruk yang akan terjadi."
"apa maksudmu..,,,?"
"cepat sembunyi di balik pohon besar itu, dan tahan nafasmu."
tanpa banyak bertanya, almira mengikuti apa saran kelinci berbulu putih itu. Tidak lama setelah mereka sembunyi seorang pria dengan tubuh besar dan topi aneh di kepalanya memimpin paling depan. itu adalah panglima iblis. mereka berterbangan dengan pasukan yang banyak menuju kastil tempat sekolah sihir berada.
Almira membulatkan matanya dengan sangat sempurna, menyaksikan pemandangan yang menurutnya sangatlah mengerikan. karena baru kali ini melihat penampakan iblis yang sebenarnya. Mata merah menyala, ada yang di tumbuhi bulu seluruh badan, dan pasukan nenek-nenek dengan sapunya terbangnya. Setelah mereka semua lewat. Gadis berambut coklat itu bisa bernafas lega.
"Apakah itu pasukan iblis...?" Bunny hanya bisa menganguk dan melihat ke adaan sekitar berasa nyaman maka mereka melanjutkan perjalannya.
"itulah mengapa aku memilih jalan melalui hutan ini..? karena bila kita melewati jalan biasa kita akan terlihat jelas oleh mereka dan kita akan di tangkap."
"Kemana tujuan mereka..?"
"ke sekolah sihir."
"apa..? aku harus kembali dan menyelamatkan seyna dan yang lainnya."
"Tunggu...kamu mau mat* konyol..? apa kamu yakin bisa melawan mereka..?" kaki Almira terhenti seketika mendengar perkataan Bunny. dia tertunduk lesu.
"Benar apa yang kau katakan, apa yang harus aku lakukan untuk menolong mereka..?"
"Berlatih dengan giat dan lebih keras lagi. itulah tujuanku menjemput mu."
"Berarti kamu sudah tau apa yang akan terjadi..?"
Bunny tidak menjawab pertanyaan Almira, dia terus saja berjalan dan di ikuti oleh gadis berambut coklat. Bunny tidak mau membuang-buang waktu hanya untuk menjawab pertanyaan yang menurutnya tidaklah penting. Mereka sudah melewati sungai tandanya mereka akan sampai di rumah guru Li, masih banyak pertanyaan di kepala Almira, tapi dia simpan dan akan menanyakan langsung kepada guru Li.
Dari dalam hutan yang berada tepat di depan kastil, banyak kelelawar dan burung berhamburan keluar hutan. Kenyamanan mereka seperti ada yang mengusiknya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi..?
__ADS_1
Pertanda apa ini sebenarnya...?
Bersambung...