
Tuan Rukus membuka matanya, badannya sulit untuk di gerakan dan terasa sakit semua, ternyata badannya penuh dengan ikatan tali yang sangat kuat.
Di lihatnya pak pluto masih menjadi patung batu sedangkan Tuan saida sama dengannya terikat penuh di sekujur tubuhnya hanya saja Tuan saida masih belum sadarkan diri. Tuan Rukus berusaha untuk mendekati Tuan saida dan menyadarkan nya, tapi dia tidak bisa bergerak sedikitpun akibat Tali yang mengikat tubuhnya.
samar-samar terdengar orang yang sedang berbicara, suaranya seperti tidak asing baginya.
"apa yang akan kita lakukan pada kedua orang itu, sedangkan yang satu sudah menjadi patung."
"Kita tunggu saja mereka sampai bangun, kalau mereka tidak ada yang mau menjadi budak ku. akan ku sihir menjadi seekor nyamuk hahahaha....untuk patung itu, bagaimana kalau kita letakan di dekat pintu masuk, akan terlihat indah." piter tertawa begitu lepas.
"piter...!! piter...!! itukah kau ..!! tolong aku..!!" Ada harapan di diri Tuan Rukus ketika mendengar suara muridnya, dia bisa terbebas dari ruang bawah yang sangat enggap dan bau.
suara teriakan Tuan Rukus membuat piter dan outdir berhenti berbicara. Mereka berdua mendekat di dalam ruangan yang mengurung Tuan Rukus dan lainnya.
"piter...jangan dekat-dekat dengan outdir dia sangat berbahaya...di adalah...."
"seorang kurcaci.."
"Bagaimana kau tau, jangan-jangan kau di tangkap juga dengannya. cepat lari piter..!!" piter menatap Tuan Rukus dan tertawa.
"Kenapa kau tertawa seperti itu, sadar piter..!! kau dalam bahaya." ucapan Tuan Rukus tidak di tanggapi sama sekali, piter sampai memegang perutnya menahan sakit akibat tertawa.
"jangan... jangan....kamu dan outdir....?"
"ya bener sekali Tuan, aku dan outdir bekerja sama untuk menghancurkan sekolah penyihir dan rencana ku berhasil hahaha..."
"apa..!! jadi semua kehancuran dan teror-teror itu dari kamu..? aku tidak menyangka kau akan sekejam itu piter, aku sangat menyayangimu...Murid tidak tau diri...!!" Ada rasa kekecewaan yang besar terpancar dari kedua bola mata Tuan Rukus.
"Satu pelajaran untukmu, jangan pernah percaya kepada siapapun Tuan Rukus..."
Piter tersenyum sinis dan langsung pergi begitu saja. Dia keluar hendak mencari angin segar dan merasakan kemenangan akan pertempuran tadi. Dirinya sangat puas bisa menghancurkan sekolah sihir dan orang-orang yang telah menghina dan merendahkan nya.
***
"Lihat itu..? kenapa Ada Naga hitam di bawah, apa mereka ada di sana..?" seru Almira sambil melihat kebawah.
" Bagaimana kalau kita selidiki dulu"
__ADS_1
Naga berkepala tiga mendarat di tempat aman, Seyna langsung berlari begitu saja meninggalkan Almira.
"Sey...tunggu...!!' Almira hendak mengejar seyna tapi di cegah oleh Naga berkepala tiga.
"Almira hati-hati, jangan mudah percaya dengan semua orang. karena kaum kurcaci di kenal dengan kelicikannya. apa kau paham."
Almira mengangguk pelan, Bunny tidak ikut Almira, dia akan pergi ke rumah Guru Li untuk mengecek keadaan di sana.
Seyna berlari begitu saja, tanpa melihat keadaan di sekelilingnya, saat Naga hitam ada di depannya dia berjalan pelan, berharap Hewan besar itu tidak melihat kehadirannya.
Tidak jauh dari pohon besar, Seyna melihat Piter tepat di depan pohon besar.
"Piter...!! Piter..!! Di sini...!!" seyna melambai-lambai tangannya, berharap piter mengetahui keberadaan nya. Seyna semakin mendekati Piter dan memegang pundaknya.
"Piter...!!"
mendengar namanya di sebut dia langsung melonjak terkejut, dan bersiap mengambil tongkat sihirnya.
"kenapa kamu di sini..? aku baru sampai di sekolah kastil, tapi sekolah sihir hancur lebur tidak ada apapun, aku takut terjadi sesuatu kepada pak pluto dan yang lainnya. aku senang bisa menemukan mu di sini.."
"Benarkah..? kamu dari mana saja..? sampai tidak mengetahui kondisi sekolah sihir." tanya Piter penuh selidik, karena selama ada huru hara di sekolah sihir dia tidak melihat keberadaan Almira dan seyna.
Piter mengerutkan ke dua alisnya, dia memasukan kembali tongkat sihirnya ke dalam jubahnya kembali.
"apakah seyna benar-benar tidak tau sama sekali..? kalau memang dia tidak tau, akan aku manfaatkan dia hehehehe.." Batin piter.
"Hei malah melamun.." Piter hanya membalas dengan senyum yang di paksakan.
Almira memperhatikan percakapan keduanya dari jauh, dia melihat gerak gerik Piter yang mencurigakan. Dia akan datang bila seyna benar-benar membutuhkan bantuannya.
"Kamu ke sini dengan siapa..?"
"Astaga aku lupa, tadi aku meninggalkan Almira. pasti dia sedang mencari ku."
"Dia akan baik-baik saja, Almira gadis yang cerdas. Ayo ikut aku...ada tuan pluto, Tuan Rukus dan yang lainnya di dalam."
****
__ADS_1
piter dan seyna masuk ke dalam, dia berjanji akan mempertemukan seyna dengan Tuan Rukus dan lainnya. Seyna menatap tajam ke segala penjuru ruang bawah tanah yang penuh dengan para kurcaci.
kurcaci menatap seyna dengan penuh kebencian dan amarah. terlihat jelas dari sorot matanya dan itu bisa di rasakan oleh gadis berambut keriting itu.
"Pi...Piter.." seyna menggoyangkan jubah piter yang berjalan di depannya.
"ehm...ada apa..?"
"Di sini banyak sekali kurcaci..apa di sini aman..?"
"Tentu, ayo ikut aku jangan banyak bicara." Bicara Piter begitu dingin. Dia menatap ke depan tanpa menoleh ke belakang sama sekali. Seyna merasakan ada keganjilan pada temannya itu. Apalagi sekumpulan kurcaci itu memandang seyna dengan tatapan yang semakin mengerikan.
"Kita sudah sampai..."
seyna melihat Tuan Rukus dan Tuan saida yang terikat. dia menajamkan indra penglihatannya.
"a...apa itu Tuan pluto,..? kenapa bisa menjadi patung dan kenapa mereka berdua di ikat dan di tutup mulutnya."
Badan Tuan Rukus dan Tuan saida menggeliat-geliat seperti ulet bulu, mereka hendak memberitahu kepada seyna untuk berhati-hati terhadap piter.
"Mereka terkena penyakit yang menular, kau harus hati-hati." dusta Piter
"Tapi piter..mereka seperti nya ingin mengatakan sesuatu."
Piter membukakan pintu tahanan itu, dan menyuruh Seyna untuk mengecek kondisi dan keadaan Tuan Rukus dan Tuan saida. Saat seyna sudah masuk, piter langsung menutup pintu dan menyegel pintu agar mereka tidak bisa keluar.
prak...prak...prak...
Seyna memukul pintu itu dengan sepotong kayu yang membuat kebisingan.
"Piter...!! apa yang kamu lakukan...tolong bukaan pintu ini..!! aku takut....!!
Tuan Rukus dan Tuan saida berusaha berkomunikasi dengan seyna tapi tidak berhasil, muridnya itu menangis histeris ketakutan. akhirnya penyumbat mulut Tuan Rukus terlepas.
"huff...akhirnya...sey...seyna...jangan takut, kami tidak berbahaya. ini semua adalah sandiwara Piter. tolong bukaan ikatan ini..?"
"Apa bener Tuan Rukus tidak akan menyerang ku..?" seyna mengusap air matanya. Tuan Rukus menggeleng pelan sambil tersenyum.
__ADS_1
Bersambung....
(hallo kk terimakasih sudah mampir, bila suka dengan ceritanya tolong tingglkan like, komentar dan subscribe ya.... terimakasih🥰😉)