
Almira melihat sekeliling rumah neneknya, dia bingung harus berlatih pedang Api di mana.
"Tapi..di mana..? kalau kita berlatih di rumah nenek sangat sempit dan akan menjadi perhatian para tetangga di sini." seru Almira
"Berlatihlah di gudang, tapi kita bersihkan gudang dulu." kata nenek sambil beranjak pergi keluar dari kamar.
"uhk...uhk..uhk..."
Mereka semua terbatuk-batuk saat pintu gudang di buka lebar, Debu berterbangan di mana-mana
"Al..gudang ini sangat kotor dan berdebu, apa nenekmu tidak pernah membersihkan gudang ini.."
Almira langsung menatap tajam temannya itu, membuat seyna susah untuk menelan selvina.
"aku dengar itu..!!" seru nenek sambil mencari saklar lampu, seyna dan Almira hanya terkekeh kecil.
"Bra..Alakadbra...bersihkan...!!" Seyna mengajukan tongkat sihirnya ke arah sapu, pengki, kain lap, pel. peralatan itu bekerja sendiri.
"sey..jangan gunakan sihirmu di sini..!!" Protes Almira, saat mengetahui seyna memakai sihirnya, tapi Seyna beralasan akan memakan waktu lama membersihkan gudang bila membersihkan secara manual. Akhirnya Almira mengalah.
***
kondisi di sekolah sihir kini semakin membaik, karena Naga hitam tidak bisa memasuki kastil dengan mudah, berkat pelindung dari Guru Li. Setiap hewan besar itu akan memasuki kastil maka dia akan terpental.
"Sia* aku tidak bisa masuk ke dalam kastil." orang yang memakai pakaian serba hitam dan juga topeng itu sangat kesal dan marah. Dia kembali ke hutan, tanpa di sadari ada yang mengikuti dari belakang.
Hewan besar itu mendarat tepat di tengah-tengah hutan, Naga hitam membaringkan badannya dekat pohon besar. orang yang memakai serba hitam seperti meraba-raba pohon besar, tiba-tiba sebuah pintu tersembunyi muncul begitu saja.
" apa kita harus mengikuti nya..?"
"ya..tapi kita tetap berhati-hati, takut membangunkan naga itu."
Dengan sangat pelan, mereka berjalan dengan jinjit dan masuk ke dalam pintu rahasia yang berada di batang pohon, sebelum pintu tertutup kembali.
__ADS_1
sebuah ruang bawah tanah yang sangat luas, di dalam ruang bawah tanah itu terdapat banyak rumah-rumah kecil berada. sekelompok orang dengan tubuh yang kerdil, tinggal di sana. Terlihat saat mereka melakukan aktivitas nya. mereka adalah sekumpulan kurcaci. Ternyata keberadaan kurcaci salama ini benar-benar ada, hanya saja mereka menyembunyikan diri dari dunia sihir.
orang yang berpakaian serba hitam membuka topengnya, sayang sekali posisinya membelakangi Guru Li dan Tiga penyihir muda yang mengikuti sejak dari awal. hingga tidak terlihat jelas mukanya.
Jonas menajamkan indra penglihatan dan indra pendengar nya saat melihat outdir ada di antara kurcaci dan orang yang berpakaian hitam.
"Bagaimana tugasmu..?"
"ehm..tugas..kau pikir aku anak buahmu..? seenak sendirinya bilang tugas..! Aku melakukan ini untuk membalas rasa sakit hatiku bukan untuk menjalankan perintahmu, dengar itu..!!'
"Hei...kamu lupa, jika bukan karena kami, kamu hanya sebuah sampah, bukan siapa-siapa...dan karena kami juga Naga hitam itu bangkit dari tidurnya."
"cih..Naga tidak berguna..!! hanya menembus pagar gaib saja dia tidak sanggup."
Para kurcaci dan outdir begitu kesal dengan sikap Piter yang sombong. outdir menginjak kaki pria yang lebih tinggi darinya, membuat Piter meringis menahan sakit.
Ketiga penyihir muda itu sangat terkejut saat di lihat orang yang berpakaian hitam dan membuat keonaran adalah temannya sendiri yaitu Piter.
"pantas dia tidak pernah terlihat di kastil, dan setiap kejadian hanya dia yang tidak nampak. Lihat saja, akan ku buat perhitungan nanti." Gerutu Boba, jonas berusaha menenangkan temannya itu
***
"ini akan membuat kita aman untuk seketika, tapi ingat kalian jangan pernah bicara dan harus menahan nafas saat berada di dekat mereka."
mereka bertiga mengangguk tanda mengerti. Guru Li mendekati piter dan para kurcaci yang sedang berbicara, sedangkan ke tiga penyihir muda di suruh menunggu di luar pintu, bila terjadi sesuatu mereka bisa cepat menyelamatkan diri. Walaupun ilmu sihir kurcaci tidak begitu tinggi, tapi bila banyak kurcaci yang bergabung untuk melakukan serangan maka mereka semua dalam bahaya.
Para kurcaci membahas bagaimana bisa masuk dan merusak perlindungan yang ada di kastil, bahkan mereka membaca banyak buku yang ada di perpustakaan. untuk mendapatkan kan informasi lebih banyak tentang berbagai macam ilmu sihir
outdir merasakan kehadiran seseorang berada di belakangnya, dia langsung membalikan badannya. merasakan hembusan nafas dari hidung yang tidak sengaja mengenai leher belakanganya.
"Siapa itu...katakan, jangan berani bersembunyi, tunjukan keberadaan mu sekarang juga." outdir mengayunkan pedang yang dia bawa, di ayunkan ke sembarang tempat.
"Ada apa..?" tanya piter, karena melihat outdir yang tiba-tiba membalikan badannya dan menatap tajam ke belakang. Guru Li langsung menahan nafas dan mundur dengan pelan saat pedang berayun tepat di depannya. kemudian Guru Li berlari ke luar, Di luar ketiga penyihir sedang menatap Naga yang tertidur pulas.
__ADS_1
"Ayo cepat pergi dari sini, keberadaan kita sudah tercium." Teriak Guru Li sambil menarik tangan jonas, Boba dan patrun mengikuti dari belang.
"Sia* mereka kabur." Gerutu outdir saat menemukan jejak kaki yang tertinggal.
"Kenapa aku bisa seceroboh ini, seharusnya aku tidak menganggap remeh penyihir putih. aku yakin ini jejak kaki mereka."
"Ada apa..?"
"apa kamu ke sini tadi tidak melihat orang mengikuti mu,..?"
piter hanya menggeleng pelan.
"Dasar bodo* seharusnya kamu lebih waspada lagi. Mereka sudah mencium rencana kita, bisa-bisa berantakan semua rencana yang telah kita buat."
"hahaha kamu mengkuatirkan itu, kau terlalu pengecut, penyihir putih sekarang sudah bercerai berai, dan hanya ada guru dan tiga anak ingusan itu, kau masih takut...?
Mereka dengan mudah bisa kita kalahkan dengan Naga hitam ini. kenapa masih takut juga." Piter melirik hewan Besar itu yang masih tertidur lelap dan tersenyum sinis ke arah outdir.
"Semoga saja perkataan mu benar..kita lihat saja nanti." outdir melangkah masuk dengan hati kesal.
Guru Li berhenti, mengatur kembali nafas yang tidak beraturan itu. Di senderkan tubuhnya ke pohon yang ada di belakangnya kemudian menoleh ke belakang.
"Aman... seperti nya mereka tidak mengejar kita."
"Guru.. kenapa kita tidak melawannya.....?apakah guru takut..? auuuuu sakit guru..."
Guru Li menggetok kepala Boba.
"Dasar bodo* aku sama sekali tidak takut dengan mereka, tapi aku tidak mau tergesa-gesa, kita harus mengatur strategi untuk melawan kurcaci dan teman kalian yang penghianat itu. Jangan pernah gegabah dalam melakukan apapun, karena hasilnya tidak akan bagus. apa kalian mengerti..!!'
"mengerti guru..maafkan kami.,,"
Guru Li masih menoleh ke belakang, takutnya ada yang mengikuti mereka secara diam-diam.
__ADS_1
Bersambung....
(hai kk, terimakasih sudah mampir di karyaku,silahkan tinggalkan like, komentar, subscribe nya ya...di tunggu😉 .)