
Nita membanting tubuhnya di kasur yang empuk, kesal, marah, kecewa kini jadi satu. ingin rasanya dirinya berteriak sekencang-kencangnya untuk meluapkan semuanya.
"kenapa harus anak cupu itu yang menjadi saudara ku..aaaaaa.... !!" Di pukulnya bantal itu berulang-ulang untuk melampiaskan semuanya.
kamar Almira terletak di samping kamar Nita, gadis berambut coklat itu bisa mendengar dengan jelas, apa yang di ucapkan oleh Nita walaupun di batasi oleh tembok. Almira hanya tersenyum-senyum sendiri. seyna menempelkan punggung tangannya di dahi temennya itu.
"enggak panas, enggak sakit...?"
"apa-apaan sih kamu seyna..? menggangu kesenangan orang saja."
"lagian kamu dari tadi senyum-senyum sendiri. aku takut kamu sakit.." sambil memiringkan telunjuknya di dahinya sendiri.
"apa...? kau kira aku gila..? enak saja kalau ngomong. Nita sangat kesal karena kita berada di rumahnya apalagi tau kalau aku saudaranya hahahaha, seperti nya belum bisa terima apa yang terjadi."
seyna hanya membalas dengan tertawa. Di kamar bawah, Boba dan yang lainnya sedang menikmati kamarnya, mereka sangat bahagia menikmati fasilitas kamar yang begitu lengkap.
***
pagi hari semua berada di meja makan yang sama, tidak seperti biasanya kalau pagi hanya ada Nita di meja makan, sarapan sebelum berangkat sekolah itupun di temani oleh bi wiwi saja. sedangkan ayahnya sibuk bekerja, untuk makan bersama pun tidak pernah ada waktu.
"Tumben sekali, ayah sarapan pagi. Biasanya aku ajak tidak pernah ada waktu. Dan aku tidak terbiasa dengan banyak orang di rumah ini."
semua orang hanya terdiam saja, kakek dan nenek merasa tidak enak dengan perkataan cucunya itu. walaupun baru pertama bertemu dengan Nita, tapi sifatnya sangatlah beda dengan sifat Almira. kedua cucunya seperti langit dan bumi. yang satu sombong dan angkuh. sedangkan Almira suka merendah.
"Mulai saat ini ayah akan meluangkan banyak waktu untuk keluarga kita."
"Keluarga...? maksud ayah keluarga yang mana...?"
"Nita...!!! sudah cukup. jangan membuat ulah di pagi hari. atau uang jajanmu selama satu bulan akan ayah stop."
Nita mendengus kesal, Tidak lama bi Wiwi membawa nasi goreng, telur mata sapi dan ayam goreng untuk sarapan.
"Hem...enak sekali...nasi ini..?" jonas tampak memperhatikan nasi yang ada di piringnya itu dengan sangat seksama.
__ADS_1
"Bagaimana cara membuat nasi seenak ini. Di dunia... auuuu.... sakit tau...!!"
sebelum sempat melanjutkan kata-katanya seyna menginjak kaki jonas. Nita menatap tajam ke arah pria di seberang nya itu.
"maaf, maksud jonas, ini nasi goreng terenak yang dia makan selama ini. karena selama dia makan belum pernah makan nasi goreng seenak ini." Dusta seyna.
Ayah Nita terkekeh kecil, dia berjanji akan menyediakan nasi goreng setiap pagi. Bi wiwi sampai terharu, karena baru kali ini dia mendapat pujian dari makanan yang di masaknya. Nita yang jarang sekali melihat ayahnya tersenyum sangat heran. Bahkan dia menduga bahwa Almira telah mengguna-guna ayahnya. karena yang Nita tau, ayahnya jarang tersenyum ataupun tertawa. Hanya bisa marah-marah saja dan menampilkan muka yang tidak bersahabat kepada siapa saja.
"aku akan mencari tau, kenapa ayah bisa berubah seperti ini...? jangan-jangan ini semua ulah Almira yang ingin hidup kaya. secara dia dari keluarga miskin. pasti anak cupu itu melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia mau." Batin Nita.
"Kalian tidak pergi sekolah...?"tanya ayah Nita kepada ketiga penyihir pria itu. karena mereka masih memakai jubah.
" Tidak tuan, kami sudah sekolah di kampung halaman kami. karena lagi libur jadi kami menginap di rumah Almira."
"O... seperti itu, kampung kalian di mana..? dan kenapa bisa kenal dengan Almira...?"
"Sudahlah ayah...untuk apa harus tahu di mana kampung merek. Buang-buang waktu saja. Aku mau berangkat saja." Gerutu Nita sambil berdiri dari tempat duduknya dan langsung pergi begitu saja. tanpa pamitan kepada ayahnya. Boba dan yang lainnya bernafas lega, saat Nita menjawab pertanyaan ayahnya.
"kalau begitu aku juga mau kesekolah dulu om" Almira mencium punggung tangan ayah Nita, kakek dan neneknya. seyna juga melakukan hal yang sama. Ayah nita sampai terharu karena pertama kali tangannya ada yang mencium.
"O...begitu, baiklah kalau begitu, saya akan bekerja. tolong jaga ibu dan ayah saya di sini ya nak boba. Almira mau bareng om ke sekolahnya atau bareng Nita...? Dia membawa mobil sendiri."
"Baik tuan." jawab boba sambil membungkuk badannya.
"Tidak om, kami akan jalan kaki seperti biasanya, sekalian olahraga hehehhe.."
"oke kalau begitu, om tidak bisa memaksa."
****
Di sekolah Almira masih menjadi bintang utamanya. Dan menjadi pusat perhatian di sekolah karena kecantikan wajah dan hatinya.
Dari jauh Nita menatap tajam sambil menyilang kan kedua tangannya di depan dada.
__ADS_1
"Semua yang aku punya secara perlahan-lahan di ambilnya, dari kepopuleran di sekolah, ayah sampai sekarang tinggal di rumah."
"jadi Almira sekarang tinggal di rumahmu...?" selidik klara
Nita hanya membuang nafas kasar, kemudian dia menceritakan semuanya yang terjadi. Klara dan Lula hanya mengangguk pelan saat mendengar cerita.
"Wah senengnya... berarti kamu tidak kesepian lagi, bayangin aja kalau ada Pr bisa ngerjain bareng, make up bareng-bareng dan masih banyak lagi." pandangan Lula masih melihat Almira di lantai bawah yang di rebutkan banyak pria.
"lihat...lihat...itu bukannya prima ya...? wah...cowok yang kamu taksir membawa apa itu nit."
Nita langsung melihat ke bawah, Nita dan gengnya sekarang ada di lantai dua, gadis itu menatap prima membawa sebuah kotak yang di sembunyikan di belakang tubuhnya. Nita menajamkan penglihatan nya. prima memberikan kotak berwarna hitam itu ke Almira.
"Astaga...itu bukannya coklat dari luar Negeri, soalnya mama prima kemarin telpon katanya baru pulang dari luar negri dan akan memberikan sebuah coklat dari sana." Nita menutup mulutnya dengan kedua tangannya, dia masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
***
"Hai Al..." prima mendekati gadis berambut coklat itu, sedangkan pria yang lain langsung menyingkirkan saat prima datang.
"Hei..." sahut Almira dengan datar.
"ini buatmu. kemarin mamaku pulang dari luar negri dan membawa oleh-oleh ini."
Almira menerima kotak hitam yang ada di tangan prima, tak lupa dia berterimakasih kepadanya.
"Al...nanti malam kita jalan yuk..!"
"ke mana...?"
"kamu siap-siap saja ya nanti malam aku jemput."
"Bagaimana ya...?" Almira masih berfikir.
"kamu katakan saja di mana alamatmu."
__ADS_1
Bersambung.....