
"Al..." seyna membulatkan matanya ketika melihat temannya sudah ada di depan tempat mereka di sekap. Almira memberi isyarat supaya Seyna diam, agar tidak di ketahui oleh piter dan para kurcaci.
"Bra..alakadabra...terbuka.." Almira mengarahkan tongkat sihirnya ke arah pintu, sehingga bisa terbuka dengan sangat mudah.
"Bagaimana bisa..? dari tadi kami berusaha untuk membuka pintu ini tapi tidak berhasil."
"Nanti aku jelaskan. Kita tidak punya waktu, sebelum piter dan lainnya kembali."
semua keluar dari ruangan itu, Tuan Rukus membawa patung pak pluto. Ternyata secara diam-diam, Almira belajar sihir dari buku milik mamanya tanpa sepengetahuan yang lain. sehingga ilmu sihirny semakin meningkat.
Ketika kaki mereka hendak melangkah keluar, Piter dan para kurcaci sudah menunggu di pintu depan.
prok..prok..prok..
Suara tepuk tangan terdengar dengan jelas, membuat rombongan Almira menghentikan langkahnya dan mencari sumber dari suara itu.
"wah...wah...penyelamat sudah datang...hebat sekali bisa masuk tanpa di ketahui oleh orang lain." ejek piter, Almira hanya tersenyum kecut. Almira masuk mengikuti Piter dengan menggunakan jubah transfarannya sehingga musuh tidak bisa melihatnya.
"Dasar...musuh dalam selimut..!! kalau berani ayo kita selesaikan semuanya di luar." seyna tersulut emosi ketika melihat Piter, karena dirinya merasa di bodohi oleh Piter. Saat seyna mengarahkan tongkat sihirnya kepada Piter, seorang kurcaci meramalkan sebuah mantra dengan tatapan tajam. Membuat tongkat yang ada di tangan seyna terlepas begitu saja.
"auuu...tanganku...!!" Seyna mengibaskan tangannya yang terasa terbakar.
"Kalian tidak akan pernah bisa mengalahkan kami hahahaha...bergabunglah dengan kami untuk menguasai dunia sihir ini."
"Kita lihat saja nanti...jangan terlalu percaya diri." ucap seyna dengan santai
Para kurcaci maju dan langsung menyerang..Tuan Rukus meletakkan patung pak pluto dengan sangat hati-hati. kemudian membantu Almira dan yang lainnya berkelahi dengan para kurcaci.
"Sey..apa kau bisa mengatasi mereka, aku akan memberi sedikit pelajaran yang tidak akan pernah di lupakan Piter."
__ADS_1
"serahkan padaku Al..."
Almira lari keluar mengejar Piter. Kurcaci yang ada di bawah tanah keluar semua dan mengepung Seyna, Tuan Rukus dan Tuan saida, mereka bertiga saling memunggungi ketika para kurcaci membuat lingkaran mengepung mereka.
"ingat kalian harus waspada, para kurcaci sangat pintar dan licik." Lirih Tuan Rakus yang suaranya masih terdengar.
Para kurcaci maju dan menyerang mereka bertiga, dengan cepat seyna menendang kurcaci yang mendekatinya hingga orang kerdil itu terpental dan mengenai temannya. Merasa ada yang tersakiti sepuluh kurcaci langsung maju menyerang seyna kembali, Gadis berambut keriting itu langsung terbang menggunakan sapunya dan menggeluarkan benda andalannya. ya...apa lagi kalau bukan tongkat sihirnya.
"Bra..alakadabra...!!' Dari atas seyna mengikat segerombolan kurcaci yang ada di bawah, tidak lupa seyna memantrai ikatannya itu agar tidak mudah terlepas begitu mudah.
Tuan Rukus tersenyum, saat melihat perkembangan muridnya itu. kini dia tidak begitu mengkuatirkan seyna karena bisa melindungi dirinya sendiri. Semua kurcaci sudah berhasil di lumpuhkan. tinggal outdir seorang diri.
"Biar aku yang melawan murid penghianat ini." Seru Tuan Rukus penuh dengan rasa kecewa. Tuan Rukus sudah mewanti-wanti Seyna dan Tuan saida tidak ikut melawan.
Melihat para kurcaci di lumpuhkan semua dan hanya tinggal dirinya saja. Outdir berlari dan berlutut di kaki Tuan Rukus, dia menangis.
"Tuan...jangan percaya dengan penghianat itu...!! Tuan sendiri bukan yang mengatakan untuk berhati-hati dengan kaum kurcaci, karena mereka licik dan penuh tipu daya..!!"
Seyna berusaha meyakinkan gurunya, tapi Tuan Rukus Merasa iba dengan penyesalan outdir, sehingga dia sama sekali tidak menghiraukan perkataan seyna. jelas-jelas tadi dia yang mengatakan untuk berhati-hati dengan kaum kurcaci. Tatapan mata outdir membuat hatinya luluh dan mempercayai muridnya itu. Tuan Rukus menyuruhnya untuk berdiri. Dia memberikan tangannya untuk membantu outdir berdiri. orang bertubuh pendek itu tersenyum miring, saat tangannya menyentuh tangan Tuan Rukus... Pria tinggi itu seperti mengalami kejang-kejang.
"Tuan Rukus...!!" seyna dan Tuan saida spontan berteriak begitu keras, kuatir saat melihat Tuan Rukus yang menggeliat seperti cacing yang kepanasan.
Tubuh Tuan Rukus langsung lemas dan menundukkan kepalanya, Matanya berubah menjadi putih total, tatapannya menatap ke depan dengan tatapan yang kosong. dan saat tersenyum, memperlihatkan Giginya yang tiba-tiba berubah menjadi panjang dan bertaring.
"hahaha habisi mereka semua..!!" seru oudir dengan penuh semangat.
"Dasar orang kerdil, beraninya kau membohongi kami, aku kira kamu menyesal atas semua perbuatanmu ternyata..." Seyna berlari hendak menendang outdir, tapi kakinya berhasil di pegang oleh Tuan Rukus, Tubuh ramping seyna di putar-putar seperti gangsing kemudian di lemparkan begitu saja, sampai membentur sebuah pohon.
"ouuu...." Gadis berambut keriting itu memegang bagian perutnya, menahan sakit yang luar biasa, darah segar mengalir dari mulut dan hidungnya begitu saja. Outdir tersenyum sinis melihat kondisi Seyna yang memperhatikan.
__ADS_1
Tuan Rukus kini berhadapan dengan Tuan saida, pertarungan sengit tidak bisa di hindari lagi, tendangan dan pukulan bertubi-tubi mendarat ke tubuh Tuan Rukus, tapi pria itu baik-baik saja.
"Tuan Rukus sadarlah...!!" Teriak Tuan saida
Tapi pria tinggi itu semakin menyeringai, dan mencekik Tuan saida sehingga sulit untuk bernafas. Seyna dengan sekuat tenaga mengambil tongkat sihirnya..
"Bra..alakadabra..." Sebuah Tali menjalar ke tubuh Tuan Rukus dan melilit setengah bagian tubuhnya, tak hanya itu saja tiba-tiba sekumpulan lebah menyerbu Tuan Rukus hingga dia melepaskan tangannya dari leher Tuan saida.
"uhk...uhk...uhk..." Tuan saida memegang leher nya yang terasa perih, dia menghirup udara dengan sangat rakus.
"aaaaaaaaaaa...." gigitan-gigitan lebah memenui muka Tuan Rukus, membuat nya berteriak. Dia mengeluarkan tenaga dalam membuat para lebah jatuh ke tanah.
Di tatapnya seyna dengan penuh kebencian, dia mendekat. Gadis berambut keriting itu sangat lemah, untuk bangun saja dia tidak kuat. Hanya pasrah itu yang dia lakukan sekarang.
"Seyna...dalam bahaya." Sebelum Tuan Rukus berhasil menyentuh tubuh seyna, tiba-tiba tubuh gadis itu melayang dan menjauh ternyata itu berkat sihir dari Tuan saida untuk menjauhkan seyna dari bahaya.
Tuan Rukus berhasil memegang kaki seyna dan melemparnya kembali seperti sampah.
lagi-lagi darah segar mengalir begitu deras
Outdir tertawa lepas melihat perkelahian guru dan murid.
Bug...
Tiba-tiba tubuh outdir tumbang ke tanah, ada seseorang yang memukulnya dari belakang. kesadaran Tuan Rukus kembali pulih.
"Seyna... kamu kenapa...?"
Bersambung....
__ADS_1