Dunia Sihir Itu Ada

Dunia Sihir Itu Ada
Bab 55. ikat sepatu


__ADS_3

Almira hanya diam saja, di pandangnya seyna di sebelahnya. Prima masih menunggu jawaban gadis berambut coklat itu, berharap tawarannya akan di terima, kedua alis prima naik turun.


"Ehm...apa boleh aku mengajak temen-temen ku...?


"Tentu...Tandanya kau menerima ajakanku bukan...?" Prima menjentikkan jarinya


"aku sekarang tinggal di rumah Nita, kamu bisa menjemput ku di sana pukul tujuh malam ini."


"oke..setuju." prima tersenyum kemudian pergi masuk ke dalam kelas.


Nita masih menatap ke bawah, dia sangat penasaran dengan percakapan yang di lakukan ke dua orang di lantai bawah itu.


"Apa yang menyebabkan prima begitu bahagia...? aku harus mencari tau." gumam Nita.


***


Di dapur nenek sedang membuat kue seperti biasanya, di bantu oleh bi Wiwi dan tiga penyihir muda. Bi wiwi begitu serius saat melihat tangan yang sudah keriput begitu cekatan membuat kue.


"Maaf nek, kenapa harus jualan kue...? Tuan sudah punya uang banyak. Nenek dan kakek tinggal menikmati masa tua dengan bahagia."


Nenek hanya tersenyum, dia masih sibuk dengan adonan terigu yang ada di depannya.


"Aku tidak mau merepotkan Arman, aku dan kakek masih kuat untuk mencari uang sendiri. Dan berharap bisa menebus kembali rumah yang di sita oleh pihak bank, untuk tempat tinggal Almira kelak."


Bi wiwi begitu terhenyuh hatinya mendengar kata-kata wanita yang sudah berumur itu, semangat yang tinggi, tidak mau merepotkan anak. Bi wiwi teringat akan kedua orang tuanya yang tinggal di kampung.


"Akhirnya sudah jadi. Tinggal kita kukus saja. Nak boba tolong hidupkan api kompornya."


Boba mendekati kompor, dia hanya berkeliling melihat kompor itu karena tidak tau cara menghidupkan nya. Bi Wiwi yang memperhatikan Boba sejak tadi hanya tersenyum kecil.


"Cara menghidupkan kompor seperti ini den.." seru Bi wiwi kepada boba.


"Astaga...ada api.." jonas dan patrun begitu terkejut, sampai-sampai mereka naik di dinding. untung Bi Wiwi tidak menyadari tingkah mereka. Boba menatap tajam ke arah ke dua temannya itu. dan langsung turun ke lantai.


"Maaf...kami benar-benar kaget, melihat api yang keluar dari benda aneh itu."


***


Hampir tiga puluh menit, kue yang sedang di kukus mengeluarkan aroma yang begitu wangi. memenuhi ruangan dapur, membuat orang yang mencium aroma kue itu ingin segera memakannya.

__ADS_1


"Astaga..aroma ini lezat sekali, siapa yang membuat kue ini...? apa bi wiwi...? Mungkin aku terlalu sibuk di kantor jadi tidak tau kalau asisten rumah tanggaku pinter membuat kue." Ayah Nita yang pulang dari kerja melihat kue brownis di atas meja, dengan pelan-pelan di makannya kue itu karena masih hangat.


satu suap, dua suap, tiga suap dan setalah bersuap-suap selanjutnya, tanpa di sadari kue telah habis di makan olehnya. Di senderkan tubuhnya ke kursi, perutnya terasa penuh. Bagaimana tidak penuh, bila satu kotak brownies habis tak tersisa.


"Astaga, apa yang tuan lakukan di sini...?"


"Bibi ini bagaimana...? inikan rumah saya." protes ayah Nita dengan kepala yang masih di senderkan.


"ma...maaf tuan bukan begitu...? biasanya tuan pulang lebih larut. ini masih pukul dua siang...dan kue yang di meja di sini...?"


"Aku yang memakannya semua bi, memang pinter sekali bibi wiwi membuatnya. Besok bikin lagi ya bi." Seru ayah Nita tanpa bersalah sama sekali.


"Tapi tuan...?"


"Tenang saja bi, besok saya kasih uang lebih untuk membeli bahan-bahan nya."


"Masalahnya..."


"Apa lagi bi..., banyak sekali alasannya."


"itu kue....buatan nenek...dan akan di jual sore ini.."


"Astaga...kenapa tidak bilang dari tadi. Ini uang, bilang saja tadi tetangga tiba-tiba datang dan membeli semua kue yang ada di atas meja ini."


Ayah Nita menyodorkan beberapa lembar uang merah kepada bi wiwi, wanita paruh baya itu menerimanya dan melakukan apa yang di perintahkan kepadanya.


Nenek Almira begitu senang menerima uang dari bi wiwi, setidaknya Almira hari ini menjual kue sedikit dan bisa pulang tanpa larut malam.


"Terimakasih banyak bi wiwi.."


"iya nek sama-sama."


"Badanku sangat pegal sekali, seharian membungkus kue ini satu persatu. kenapa kita tidak menggunakan ilmu sihir kita."


"Apa kau tidak ingat, almira dan guru Li melarang kita menggunakan ilmu sihir di depan orang, bisa mengundang bahaya." sahut boba, jonas hanya mendengus kesal. patrun masih sibuk mencicipi berbagai kue di depannya.


"astaga...ini anak...!! kue itu bukan untuk kamu makan...!!" seru boba sambil merebut kue yang ada di tangan patrun


"aku sangat lapar, aroma kue ini sangat menggoda, dengar...cacing di perutku berdemo karena kelaparan."

__ADS_1


Mendengar keributan ke tiga teman Almira, membuat nenek membalikan tubuhnya.


"Maaf nek, aku sangat lapar." sahut patrun. Nenek hanya tersenyum, dia bangkit dan akan menyiapkan makanan karena sebentar lagi Almira juga akan pulang.


setelah nenek pergi, boba mengeluarkan tongkat sihirnya.


"bra..alakadabra..." dia menunjuk ke arah kue-kue itu, alhasil semua kue sudah terbungkus dengan rapi di dalam sebuah kotak. jonas yang melihat boba hanya menggeleng kepalanya.


"katanya tidak boleh menggunakan sihir, kenapa kau gunakan.."


Boba hanya tersenyum saja.


***


"Al...aku anterin pulang ya..." seru prima berlari mendekati Almira.


"maaf..aku bareng seyna, kami akan jalan kaki saja."


"Jangan begitulah al.."


Almira menolak halus ajakan prima, dan beralasan nanti malam bertemu lagi. untung prima mau dan pergi mengendarai mobil sport nya.


"auuuu..." Almira jatuh tersungkur, saat seseorang mendorong nya secara tiba-tiba dari belakang, ternyata itu ada Nita. karena terbakar cemburu melihat kedekatan Almira dengan prima membuatnya sangat kesal dan marah.


"hei.. apa-apa kamu..!!" seru seyna sambil mendorong pundak nita.


"jangan ikut campur urusanku, kalau tidak..."


"Kalau tidak apa...? kau mengancam ku.."


Almira menarik lengan seyna dan pergi menjauhi Nita, dia tidak mau terjadi keributan di sekolah yang akibatnya nanti biasiswa nya bisa di cabut oleh kepala sekolah.


"apa-apaan sih Al.." seyna sangat kesal dengan Almira, karena hanya diam saja dan tidak mau membalas perlakuan kasar Nita. Gadis berambut coklat itu hanya tersenyum dan menunjukkan luka kecilnya, bahwa dia dalam ke adaan baik-baik saja.


Tanpa sepengetahuan Almira, seyna mengeluarkan tongkat sihirnya, dan mengarahkan kepada Nita yang tak jauh dari tempat mereka berdiri, ikat tali sepatu Nita di ikat pada sebuah besi di situ, dan saat berjalan membuatnya jatuh.


"auuu sakit...!! siapa yang berani mengerjai ku..!!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2