Dunia Sihir Itu Ada

Dunia Sihir Itu Ada
Bab 9. Rintangan


__ADS_3

Almira dan timnya terus maju ke depan untuk mencari keberadaan bendera. Mereka selalu was-was dalam perjalanan kali ini.


"astaga..." Mereka semua berhenti melangkahkan kakinya, tiba-tiba jalan labirin yang di depannya tertutup begitu saja.


"Jalan buntu..bagaimana ini..?" Jonas begitu panik. Almira menatap ke adaan sekeliling nya, di raba-raba dinding labirin yang ada di sini kiri dan kanan.


"kamu sedang apa Almira..?"


"pasti ada sesuatu petunjuk di dinding-dinding labirin ini." walaupun seyna tidak paham, dia ikut meraba-raba labirin. Matanya membulat sempurna.


"Ada...!!" seru seyna dengan semangat, dia menemukan dua tombol yang satu berwarna hijau dan yang satu berwarna merah.


"kita harus menekan satu tombol tersebut."


Saat jonas hendak menekan, tangannya di pegang oleh Almira.


"Tunggu...bila kita salah menekan maka akan berakibat buruk bagi kita !" seru Almira dengan tatapan yang tajam. Tanpa di duga sebuah tangan menekan tombol berwarna merah, sontak Almira melihat ke tangan tersebut. Ternyata itu ulah piter, dia hanya tersenyum kuda tanpa ada rasa bersalah.


Tanah yang mereka pinjak bergetar begitu hebat, dinding labirin terbuka seperti pintu rahasia.


"Lihat, benarkan. Terlalu banyak pertimbangan." sinis Piter. Saat kaki mereka hendak melangkah masuk ke dalam pintu sebuah labirin auman singa keluar dari dalam. Membuat yang mendengarnya bergidik ngeri dan takut.


Dream...dream...


Suara hentakan kaki membuat semua yang berdiri bergoyang-goyang. Kedua mata Almira membulat sempurna, tidak percaya akan apa yang dia lihat. seekor hewan dengan kepala harimau, berbadan singa, memliki sayap di punggung kiri dan kanan. Matanya merah menyala. Badannya sangat besar menutup sebuah pintu labirin yang baru terbuka tadi.


"Ba...ba...bagai...mana ini..,?" seru jonas dengan badan gemetar.


"Tenang dirimu, kita harus melawannya kalau mau keluar dari tempat ini."

__ADS_1


Almira mengeluarkan tongkat sihirnya, dia sudah memasang kuda-kuda. Raungan harimau terdengar lagi.


"bra...kadabra...!!,"


Almira mengarahkan tongkat yang di pegang nya, sebuah sinar berwarna merah keluar dan mengenai tubuh singa, Tapi tidak membuat sedikitpun singa memundurkan badannya. Seyna membantu temannya begitu juga jonas keduanya melakukan hal yang sama secara bersama kedua cahaya berasal dari tongkat itu membuat hewan besar yang ada di hadapannya meraung kesakitan.


 Piter hanya mengamatinya dari jauh.


"Apa kita akan membantu mereka..? tanya boba yang sudah bersiap dengan tongkat di tangannya.


"Tenang saja, serahkan semuanya kepada mereka." sebuah senyuman licik keluar dari bibir piter.


ekor belakang hewan itu di ayunkan membuat piter, boba dan patrun yang belum bersiap terkana sambaran ekor. mereka bertiga membentur dinding dengan sangat hebat.


" Auuu......apa... apa-apa ini, hewan ini nyata. kalau seperti ini. kita bisa mati mendadak." seru piter mengusap darah di ujung bibir sambil memegang perutnya yang sakit.


Almira hanya meliriknya, dia melompat dengan sangat ringan, di arahkan tongkatnya berulang kali untuk menyerang.


"bra..kadabra..."


sinar merah secara bersamaan keluar dari ke tiga tongkat itu, membuat sebuah sinar yang besar mengarah ke mata hewan di depan mereka. sayang sekali Hewan itu lebih cerdik, dia menghindari serangan dari Almira dan teman-teman nya. Kemarahan hewan itu menjadi-jadi sekarang. dia mengaum dan mengeluarkan api, seperti seekor naga. Sontak semuanya menjadi mundur secara bersamaan.


"Ini tidak main-main.." gumam Almira.


gadis berambut coklat itu mengamati tubuh hewan berkepala harimau dengan sangat tajam. Ada sebuah batu mutiara tepat di tengah dahi hewan besar itu.


Almira menggulingkan badannya mendekati hewan itu, di serangnya hewan itu secara bertubi-tubi tanpa jeda. raungan kesakitan keluar dari mulut hewan berkepala harimau, membuat telinga yang mendengarkan menjadi sakit, saat Almira menutup telinganya karena tidak kuat mendengar raungan. kaki besar hewan berkepala harimau hendak menginjak tubuh mungil Almira.


"Al...awas...!!seru seyna dengan kuatir. Sayang sekali kaki itu sudah menyentuh badan Almira. seyna dan jonas menutup kedua matanya. Mereka terduduk lemas, seyna dan Jonas mengira Almira sudah kalah.

__ADS_1


"bra...kadabra...terangkat...!!" suara nyaring terdengar dari bawah kaki hewan berkepala harimau


sebuah cahaya dari bawah kaki singa keluar begitu terang. kaki itu hewan itu terangkat kemudian di susul badan hewan itu terangkat, keringat deras keluar dari badan Almira.


"cepat tolong aku, angkat tubuh badan hewan ini..!! aku sudah tidak kuat..!!"


seyna dan jonas langsung mengarahkan tongkat sihirnya dan membantu Almira mengangkat badan hewan yang sangat besar. mereka sedikit mengalami kesulitan, raungan kemarahan hewan itu terdengar lagi.


"Ayo cepat...!!" seru piter kepada boba dan patrun saat melihat pintu labirin terlihat saat hewan berkepala harimau terangkat. mereka bertiga merangkak untuk sampai di pintu yang akan di tuju dan mereka berhasil.


piter bernafas lega, kedua temannya menatap piter dengan tatapan yang sulit di artikan.


"kenapa kalian menatapku seperti itu, yang penting kita bisa melewati pintu ini, selanjutnya kita cari bendera itu dan keluar dari labirin ini dengan cepat." piter bangkit dan mulai berjalan lagi di ikuti boba dan patrun di belakangnya.


Almira dan kedua temannya masih berusaha melawan hewan berkepala harimau, di putar-putar badan hewan itu kemudian di lempar hingga membentur tembok labirin.


"ayo cepat masuk..!" seru almira kepada kedua temannya saat melihat hewan yang ada di depannya sudah tak berdaya. mereka berlari ke pintu masuk labirin. Ternyata hewan itu masih hidup, dia bangkit dan akan membalas akan apa yang telah Almira dan temannya lakukan kepada dirinya.


"bra...alakadabra...tertutup..!" Almira mengarahkan tongkat sihirnya ke pintu labirin dan akhirnya tertutup. Hewan berkepala harimau terbentur pintu yang sudah di tutup itu dengan sangat keras membuatnya marah dan membuat raungan yang sangat keras masih terdengar jelas dari almira dan teman-teman sekarang berada.


Almira terduduk lemas, dia mengatur nafasnya begitu juga dengan seyna dan jonas. mereka saling berpandangan satu sama lain kemudian tersenyum. melakukan sebuah tos. pak pluto yang mengawasi dari atas menara tersenyum.


"Kau dengar itu piter, hewan itu seperti nya marah, raungannya membuat telingaku sakit. Bagaimana dengan ke adaan gadis berambut coklat dan teman-teman nya itu..?"


mendengar perkataan boba, membuat langkah kaki piter terhenti dan di tatapnya temannya itu.


"Sudah, jangan pedulikan mereka, yang penting kita selamat. ayo bergegas cari benderanya." kata piter dengan sifat cueknya.


"kau..memang anak Alkila, hebat, tidak pernah takut seperti mamamu dulu." gumam pak pluto. kemudian pandangannya mengarah ke pada piter dan kedua temannya, senyuman sinis terukir di bibir kepala sekolah itu.

__ADS_1


"mirip dengan ayahnya.. licik, penuh daya Muslihat dan memanfaatkan keadaan untuk keberhasilan diri sendiri."


Bersambung....


__ADS_2