
Almira berjalan di sebelah Guru Li dan menggendong Bunny mereka menuju sekolah barunya, perjalanan dari rumah Guru Li ke sekolah Lumayan jauh, karena mereka harus melewati hutan dan sungai. Guru Li berpesan kepada Almira untuk terus menggunakan sarung tangan menutupi tanda di punggung tangan kirinya.
Mereka berhenti tepat di sebuah kastil yang sangat besar dengan bangunan tambahan di samping kiri dan kanan, gerbangnya juga cukup tinggi. Di pintu gerbang ada sebuah patung singa sebelah kanan dan sebelah kiri. Patung-patung itu seperti hidup. Matanya berputar-putar. Almira berdiri tepat di belakang Guru Li, dia sangat takut.
"Tidak apa-apa, mereka akan hidup bila ada yang berniat jahat di sini."
"Benarkah...?"
Hati Almira sedikit lega, mendengar penjelasan Guru Li. Mereka kembali berjalan, pemandangan yang membuat Almira takjub selanjutnya adalah anak-anak seumuran dengannya terbang menggunakan sapu lidi. sapu yang biasanya Almira gunakan untuk menyapu halaman. Mereka sangat bersenang-senang. sesekali mereka tertawa dan bercanda gurau di atas sapu yang mereka tunggangi.
Ada lagi seorang gadis dengan rambut ikalnya sedang memainkan sebuah tongkat sihir seukuran sumpit, dia seperti nya sedang belajar mengangkat sebuah buku tapi selalu gagal.
"bra..kadabra...terangkat.." tongkat sihir di arahkan ke buku, secara perlahan buku mulai terangkat ke atas. gadis itu tersenyum. Tanpa di duga buku melayang dan jatuh mengenai kepala Almira.
"Astaga..." gadis berambut ikal itu berlari ke arah Almira dan langsung meminta maaf.
"sorry, tidak sengaja.." gadis berambut ikal menggaruk kepalanya yang tidak gatal kemudian dia mengulurkan tangannya.
"seyna...namaku seyna...siapa namamu. Aku murid baru di sini?"
"Almira.." sahut Almira dengan hangat.
Setalah berkenalan Seyna melanjutkan latihannya kembali. Bunny menatap ke arah gadis yang berambut ikal itu.
"Seperti nya anak itu nantinya yang akan menjadi teman seperjuangan mu."
"Bagaimana kau tau..?"
__ADS_1
Bunny tidak menjawab pertanyaan Almira, membuat gadis itu kesal. sampailah mereka di depan kastil, saat mereka melangkahkan kakinya di tangga pertama. Tanpa di duga, tangga itu berjalan sendiri seperti eskalator di mal-mal.
"Ternyata dunia sihir hampir mirip dengan dunia manusia." Batin Almira
"jangan sebut-sebut nama manusia di sini, kalau kau mau selamat." pikiran Almira sangat mudah di baca oleh Bunny. Gadis berambut coklat itu melirik kelincinya dan akan memberikan sebuah pertanyaan.
"sangat mudah menebak sebuah pikiran manusia. Aku harap kamu jangan berfikir aneh-aneh atau memikirkan sesuatu. karena dunia sihir sangat berbeda dengan dunia manusia. Di sini apa yang kamu pikirkan akan mudah di baca oleh siapapun.Mengerti...!!"
Almira menganguk tanda mengerti, Di sepanjang jalan terpanjang foto-foto. mungkin gambar guru yang mengajar di sekolah penyihir ataupun orang-orang penting. Entahlah...Almira tidak begitu memusingkan foto-foto itu, hanya saja foto itu seperti hidup, mereka berbicara dan menggerakkan kepala maupun tubuhnya. sungguh mengerikan bagi yang belum melihatnya.
"Biasakan hal-hal seperti ini di sini."
"Baik."
Mereka berhenti di sebuah pintu yang sangat tinggi. ternyata ruangan kepala sekolah dan guru pengajar lainnya.
Guru Li mengangguk dengan samar, pria itu mengajak mereka untuk masuk ke dalam ruangan khusus miliknya. Almira melihat sekeliling ruangan itu, terdapat burung hantu berwarna putih di dekat cendela. Mata burung hantu itu membulat sempura , membuat gadis berambut coklat mengundurkan badannya satu langkah ke belakang.
"panggil aku pak pluto, kepala sekolah di sini. besok kamu akan mulai dengan sekolah barumu. Dan mulai dari sekarang kamu akan tinggal di sini. karena semua murid yang sekolah di sini harus tinggal di sini. agar kami mudah memantau perkembangan ilmu sihir mereka."
pak pluto mendekat ke sebuah lemari kaca, di ambilnya sebuah kotak berwarna hitam kemudian di buka secara perlahan, terdapat sebuah tongkat Sihir yang sangat indah.
"Terimalah, kamu akan membutuhkan ini nanti, ini adalah tongkat sihir milik mamamu."
Almira menerima tongkat itu dengan terharu, matanya berkaca-kaca. di ciumnya tongkat itu kemudian mengeluarkan sebuah cahaya yang sangat bersinar, semua orang yang di ruangan itu terkejut akan kejadian itu.
"Seperti nya ini akan membahayakan Almira kalau dia memakai tongkat ini. Dia akan mudah terdeteksi oleh penguasa kegelapan."
__ADS_1
"Benar apa katamu Li. Bagaimana kalau kau antarkan Almira ke pasar penyihir untuk mencari tongkat untuknya. Sementara tongkat milik Alkila akan aku simpan di sini. Bila diwaktu-waktu kau membutuhkan ambil saja."
Almira begitu kecewa karena tidak bisa memakai tongkat sihir milik orang tuanya, tapi dia harus mengikuti apa yang di bilang guru Li dan pak Pluto karena mereka yang dia punya di sini.
Para pengajar sekolah sihir menatap ke arah Almira saat mereka keluar dari ruang pak pluto. Karena hanya orang-orang tertentu yang biasanya masuk ke dalam ruang pak Pluto.
***
Baru kali ini Almira melihat pasar dunia sihir, semua benda terjual di sana. Benda yang berada di sana terlihat seperti masih kuno, piring dan gelas. yang membuat Almira tertarik adalah sebuah toko yang menjual sapu terbang, mereka yang membeli mencoba dengan menaikinya. seperti sedang mencoba sebuah kuda. kadang kala orang yang menaiki sapu itu terjatuh dan mereka akan mencoba dengan sapu yang lainnya.
Akhirnya mereka sampai di tempat yang mereka tuju, sebuah toko dengan menjual tongkat sihir.
"Astaga...Guru Li..?"
pemilik toko sangat terkejut dengan kedatangan Guru Li, di peluknya pria gendut itu. Tatapannya beralih ke Almira yang sangat mencuri perhatiannya. Gadis yang sangat cantik di matanya. Dengan rambut terurai panjang berwarna coklat mengkilap, mata biru tanpa kacamata dan wajah yang cantik, sangat beda penampilannya waktu di dunia manusia terlihat begitu cupu dan culun.
"Dia mengingatkan ku pada seseorang...Tapi siapa ya..?" pemilik toko itu mencoba mengingat-ingat.
"Sudahlah... tolong carikan tongkat sihir untuk nona ini, dia adalah anak dari temanku yang di titipkan." seru guru Li dengan cepat. Guru Li takut bila identitas sebenernya Almira terbongkar sebelum waktunya karena akan membahayakan dirinya.
pemilik toko memberikan beberapa tongkat di meja.
"pilihlah...mana yang menurut mu bagus."
Tatap pemilik toko kepada Almira, Dia masih penasaran dengan gadis yang ada di hadapannya. Almira mendekat ke tiga tongkat yang ada di meja, di pegang nya tongkat yang pertama tiba-tiba tongkat itu menjadi loyo begitu saja. kemudian di pegang lagi tongkat yang kedua, tongkat itu langsung terbang begitu saja meninggalkan Almira. Gadis berambut coklat itu seperti sudah pasrah. Dia tidak mengambil tongkat yang ketiga takut gagal lagi. Almira hanya duduk saja sambil memperhatikan tongkat sihir yang ada di depannya, tiba-tiba tongkat itu melayang dan mendekati Almira...
Bersambung....
__ADS_1