
Setiap Hari Naga hitam selalu meneror sekolah penyihir. Banyak siswa yang keluar dari sekolah penyihir demi keselamatan masing-masing.
pak pluto begitu sedih melihat sekolah sihir yang makin hari makin berkurang siswanya. hanya Jonas, Babo dan patrun yang masih setia dan bertahan di sekolah penyihir.
"Bagaimana ini Tuan Rukus..? sekolah kita lama-lama akan tutup karena murid mengundurkan diri sepihak." pak pluto begitu sedih dan menatap kastil yang begitu besar, dulu di penuhi ribuan siswa dari berbagai pelosok desa untuk menimba ilmu kini seperti sekolah mati, seperti tidak ada penghuninya sama sekali. para guru juga sudah pergi meninggalkan kastil. Mereka lebih sayang nyawa sendiri, dari pada harus bertarung mati-matian untuk melawan Naga.
Tinggal pak pluto, Tuan Rukus, Tuan Saida dan tiga penyihir muda yang masih bertahan. Almira dan seyna belum mengetahui tentang situasi dan kondisi yang terjadi di sekolah sihir.
"Sabar pak, kita akan hadapi masalah ini dengan pelan. saya yakin kita bisa menemukan jalan keluarnya dengan baik."
Bruak...
pak pluto menggebrak meja begitu saja, membuat tuan Rukus kaget, karena baru kali ini pak pluto terlihat emosional.
"kamu tidak tau apa yang saya rasakan..!! bertahun-tahun saya mendirikan sekolah sihir ini agar bisa bermanfaat untuk semua orang, tapi sekarang...!!" kepala pak Pluto tertunduk, tak terasa air mata keluar dari sudut matanya.
"Hahahaha..... pluto...pluto...kamu memang tidak berubah dari dulu, belum apa-apa sudah menyerah begitu saja. Mana semangatmu yang dulu, yang bermimpi akan membangun sekolah sihir yang hebat.!"
"Li...?" tiba-tiba muncul Guru Li di ruangan itu, entah dari mana datangnya. Pak pluto menatap Guru Li dengan mata yang masih berair.
"Kau lupa..? kau masih punya murid-murid hebat di sini..? yang siap kau turunkan ilmu, kemudian bangun kembali sekolah sihir ini dari awal."
Tiga penyihir muda mengintip dari celah pintu, mereka saling berpandangan dan langsung pergi seperti mengerti akan situasi yang terjadi saat ini.
"Apa maksudmu..?"
"Lihatlah..? itu adalah murid terhebat mu. Yang tidak pernah meninggalkan mu sampai sekarang."
Dengan sedikit bantuan sihir, Pintu di mana tiga penyihir muda tadi mengintip terbuka begitu saja. memperlihatkan Jonas, Boba dan Patrun yang terlihat punggungnya begitu jelas. baru lima langkah meninggalkan pintu tempat mereka mengintip.
sontak ketiganya terkejut dan hanya bisa diam saja. Tuan rukus berjalan mendekat mereka dan sudah berada tepat di hadapan mereka, dengan tatapan penuh selidik.
__ADS_1
"sedang apa kalian di sini cepat masuk..!!"
"ba...baik...Tuan rukus.." jawab ke tiganya dengan sangat gugup.
"Kenapa kalian masih berada di sini..? apakah kalian tidak mau pergi seperti yang lain..? apakah kalian tidak takut dengan Naga hitam itu..?"
"kami ingin belajar ilmu sihir di sini Guru.. kami ingin menjadi penyihir yang hebat yang bisa menolong banyak orang."
Guru Li hanya terkekeh kecil melihat ketiganya berjalan dengan berat dan wajah yang menunduk.
"Jangan takut, mulai saat ini aku akan mengajari kalian ilmu bela diri, ilmu pedang dan tidak ketinggalan ilmu sihir."
ketiganya sangat bingung saat Guru Li berbicara, mereka kira akan di hukum karena berani menguping apa yang sedang di bicarakan. Tapi mereka salah besar karena mengajarkan mereka semua ilmu.
****
kastil bergoyang begitu besar, seperti ada gempa bumi yang dahsyat. Ternyata itu bukan gempa bumi tapi ulah Naga Hitam.
"Ada apa ini..? apa ini ulah Naga hitam itu..?" seru Tuan Rukus sambil menatap ke langit-langit bangunan.
"kalian bertiga ikuti aku, kita akan melawan Naga itu, kita tidak bisa memusnahkan naga itu. Tapi setidaknya kita mengusir naga agar tidak membuat kegaduhan di tempat inj.
Guru Li duduk bersila dan memejamkan mata. Di ikuti tiga penyihir muda. Meramal sebuah mantra yang terdengar jelas.
"Angkat tangan kalian ke atas dan konsentrasi...!!"
Semua mengikuti apa yang di bilang oleh Guru Li, saat tangan mereka di angkat ke atas, sebuah cahaya keluar dari sana dan tembus keluar kastil mengenai tubuh naga besar. membuat Naga itu mengerang kesakitan.
Hewan besar itu terbang ke sana ke sini tidak tau arah karena merasakan sakit tubuhnya, orang yang menunggangi naga besar hampir terjatuh.
Bruak...
__ADS_1
Seperti terdengar bangunan yang runtuh, saat mereka mengintip dari cendela, Naga dan seorang yang menunggangi Naga jatuh terbentur di tembok depan kastil, semua hancur begitu saja.
erangan Naga hitam terdengar jelas, menandakan tubuhnya terluka, orang yang memakai jubah serba hitam itu dengan kasar menendang perut sang Naga. Dia seperti sangat kasar memperlakukan Naga hitam.
"Dasar tidak berguna..!!" Naga itu menatap tajam ke arah orang yang menendang nya. kemudian menaiki naga itu dan pergi.
Guru Li mengajak semuanya untuk keluar, dia akan membuat pagar pelindung kastil lebih ketat, orang yang dari luar tidak akan bisa masuk tanpa seizin Guru Li.
"Kalian...cepat pindahan teman-teman kalian yang sudah menjadi patung ke taman belakang. Nanti kita akan mengubahnya kembali setelah Almira datang."
"Baik Guru.. Bra...alakadabra..Terangkat...!!" Mereka bertiga mengajukan tongkat sihir ke patung-patung. Seperti kapas yang ringan, patung berpindah ke taman belakang kastil dengan sangat mudah dan cepat.
Guru Li di bantu oleh Tuan Rukus dan Pak Pluto membuat pagar pembatas dan pelindung kastil. Agar musuh tidak bisa masuk dengan mudah.
pelindung sekarang sangatlah kuat, seekor semut atau serangga yang berada dari luar bahkan tidak bisa masuk. Dan bila ada yang berniat jahat maka yang terkena pelindung kastil dan pembatas akan terbakar begitu saja.
"Semuanya aman...sekarang jangan kuatir lagi. Kita harus membereskan kastil ini untuk ke dua kalinya." Guru Li hanya terkekeh kecil melihat beberapa bangunan hancur.
****
Di dunia manusia, Almira sedang berfikir bagaimana caranya menemukan pedang Api yang telah hilang itu.
"Andai saja kamu menjadi sebuah pedang kamu akan pergi ke mana..?" tanya Almira kepada seyna yang sedang berbaring dengan santai. seyna tampak berfikir sejenak dan menatap ke atas plafon di kamar.
"Ehm...kalau aku jadi pedang itu, yang pasti aku akan sembunyi jauh dari jangkauan yang menginginkan ku, dan yang pasti aku akan mencari teman baru kembali tapi bukan yang mempunyai sifat tamak dan rakus."
Almira hanya mengangguk-angguk kemudian dia memandang Bunny yang tidur di atas kursi dekat tempat tidurnya. Mata Bunny terpejam tapi Almira tau kalau dia tidak tidur.
"Kalau..kamu bagaimana Bunny...?"
Bersambung..
__ADS_1