Dunia Sihir Itu Ada

Dunia Sihir Itu Ada
Bab 11. Berhasil


__ADS_3

Almira mengamati jembatan itu dengan sangat seksama. Tanah yang mereka pijak bergetar dengan sangat hebat di iringan raungan hewan yang masih marah. semakin lama raungan itu semakin mendekat.


"Al..apa yang harus kita lakukan, hewan itu berjalan mendekat." Terlihat dari tembok sebelah labirin yang memperlihatkan ekornya. Seyna terlihat kesal karena melihat Almira hanya diam menatap ke arah jembatan. Piter, Boba dan Patrun yang masih terikat daun rambat terlihat panik, di gerak-gerakan badan mereka berharap ikatan dari daun rambat terlepas.


"Hai...lepaskan kami...!!" Teriak piter dengan nada penuh kuatir.


"Aku masih ingin hidup dan tidak mau di makan dengan hewan itu...Hai...Almira kau dengar tidak..? lepaskan..?"


Teriakan piter tidak di gubris oleh Almira, Seyna hanya menghembuskan nafas kasar.


"Bisa diam tidak..!! bra..alakadabra.." Seyna mengucap sebuah mantra dan mengarahkan tongkat sihirnya ke arah piter, membuat mulutnya diam begitu saja.


"awas kalian, tunggu pembalasan ku. akan ku buat perhitungan nanti." Batin piter manatap tajam ke arah seyna yang membuat dirinya tidak bisa bicara sama sekali.


"cepat naik ke jembatan itu..!!" Teriak Almira.


"Tapi Al.."


"Sudah jangan bantah lagi, kalian mau selamat dari hewan besar itu tidak..? cepat lakukan apa yang aku bilang."


Seyna dan Jonas bingung akan perkataan Almira, apakah dia harus mengikuti kata-kata Almira atau tidak.


"Cepat..!!" seru Almira sambil berteriak


"sudah tidak ada waktu lagi, bawa Piter, Boba dan patrun keluar dari sini. Bra..adakadabra...!!" Daun rambat yang mengikat tubuh ketiganya terlepas. Piter bernafas lega.


Dengan langkah yang ragu-ragu ke lima orang tadi menapaki tangga jembatan satu demi satu. Hujan semakin deras mengguyur labirin


Dari bawah seyna bisa melihat jelas hewan berkepala harimau itu akan menaiki tangga dan menyusul mereka, tapi di hadang oleh Almira. Terjadi pertarungan antara Almira dan hewan besar itu. Mulut Almira membaca sebuah mantra, tongkat sihirnya mengeluarkan cahaya yang begitu besar, hewan berkepala harimau itu mengeluarkan cahaya juga dari kedua matanya. terjadi dorong mendorong dari kedua cahaya milik Almira dan hewan besar.


Seyna dan yang lainnya terhenti begitu saja di ujung jembatan yang putus. kalau mereka meneruskan perjalanan maka mereka akan jatuh dari bawah.

__ADS_1


"Teruskan langkah kalian, cepat...!! percaya padaku. waktu tinggal lima menit lagi..!!" Teriakan Almira terdengar jelas dari bawah. Gadis berambut coklat itu seperti mengerti akan kegelisahan yang di alami teman-teman nya saat ini.


"Cepat...!!" Teriak Almira sekali lagi, dia sudah menahan serangan dari hewan besar itu. Jonas memejamkan kedua matanya, dia melangkah pelan di jembatan yang putus, sudah sepuluh langkah dia maju. anehnya dia tidak jatuh. Dia memberanikan diri membuka matanya, sungguh ajaib jembatan yang terlihat putus tadi ternyata tidak putus seperti yang mereka lihat. Karena di sisi lain jembatan itu tidak terlihat.


Piter, Boba, patrun dan seyna membulatkan matanya dengan sangat sempurna melihat Jonas tidak jatuh, mereka mulai melangkahkan kaki dan ternyata benar, ada sambungan jembatan yang tak terlihat. mereka semua langsung berlari keluar labirin dengan sangat senang. Tuan rukus dan teman-teman satu kelasnya memberi tepuk tangan dengan riang dan memberikan selamat atas kesuksesan mereka yang telah berhasil melewati rintangan.


Tuan Rukus tidak melihat keberadaan Almira.


"Di mana Almira..?"


"Dia masih di dalam tuan, masih melawan mahluk berkepala harimau. Dia yang menyelamatkan kami."


"Waktu tinggal Sepuluh detik lagi. kalau sampai Almira tidak keluar dari labirin maka Tim kalian saya anggap gagal."


seyna tertunduk lesu, apa yang mereka kerjakan seperti sia-sia. sedangkan Piter tersenyum senang mendengar perkataan tuan Rukus.


"Aku yakin, Almira tidak akan selamat. Mana mungkin seorang siswi baru bisa mengalahkan hewan besar itu."


"Al..aku yakin kamu bisa." gumam seyna, Jonas menepuk bahu temannya itu dan tersenyum memberi sebuah semangat.


"aku yakin, Almira pasti bisa. Dia gadis yang unik, kuat dan pinter."


"waktu tinggal sepuluh detik lagi." seru Tuan Rukus yang terdengar jelas di telinga Almira. Dengan sekuat tenaga dia mengeluarkan tenaga dalam. Di tariknya nafas dalam-dalam kemudian membuat sinar yang ada di tongkat sihirnya semakin besar. sesekali di hentakan kakinya. Sinar dari tongkat Almira mendorong mundur sinar yang keluar dari kedua mata hewan itu, membuat matanya terkena hantaman hebat dari tongkat sihir Almira. Hewan itu kesakitan dan mengaum begitu keras. Hewan itu tidak bisa melihat dengan jelas, dia berjalan tak tentu arah, tanpa sengaja kuku panjang nya mengenai lengan Almira. Tuan Rukus dan temannya yang di luar Labirin mendengar raungan hewan itu dengan begitu jelas.


Almira langsung lari ke jembatan, mustahil dia bisa keluar dari labirin tepat waktunya. Dengan sedikit mantra dia bisa berlari secepat angin dan di hitungan ke dua detik Almira sudah berada di luar labirin.


Seyna tersenyum melihat temannya keluar tepat pada waktunya, Almira mengatur nafasnya yang tidak beraturan.


"Selamat nona Almira kalian berhasil." seru Tuan Rukus sambil memberikan sebuah medali kepadanya. Almira tersenyum dengan senang di peluknya seyna dan Jonas. Tuan Rukus pergi meninggalkan mereka yang berpelukan. Hujan masih turun, tiba-tiba dari lengan Almira keluar darah yang segar.


"Astaga..Al..tanganmu.."

__ADS_1


"Tidak apa-apa..ini hanya luka ringan." senyum Almira sambil menatap temannya itu, tatapan itu tiba-tiba menjadi gelap seketika dan dia tidak sadarkan diri.


"Bagus Almira, kamu memang Anak yang sepesial." seru pak Pluto melihat keberhasilan Almira, dia menggibaskan jubahnya lalu masuk ke dalam menara.


gadis berambut coklat itu mulai membuka matanya dengan pelan, setiap kedipan matanya menyesuaikan cahaya di tempatnya berbaring. Ternyata dia ada di kamarnya. Di lihatnya Seyna sedang berbincang- bincang dengan Jonas.


"Al...kamu sudah sadar..?"


kedua temannya mendekati Almira.


"Aku takut kamu kenapa-kenapa"


Almira hanya membalas dengan senyuman kecil, dia merasakan badannya terasa sakit semuanya. apalagi bagian tangan kirinya begitu nyeri dan sedikit lebam. di lihat tangan kirinya tidak memakai sarung tangan.


"sey...sarung tanganku mana..?"


"sarung tanganmu sobek terpaksa aku membuangnya."


"Tolong ambilkan sarung tanganku di dalam lemari."


tanpa banyak tanya, seyna mengambil sarung tangan dan membantu temannya itu memakai nya. Tanpa sengaja di lihatnya tanda hati di punggung kiri tangan milik Almira.


"Al..ini..?"


"ooo..ini...i...ini...tanda lahirku waktu kecil." terdengar kekehan kecil dari bibir Almira.


"kamu punya hutang cerita kepada kami Al...Bagaimana kamu bisa tau semuanya..?"


Hanya sebuah senyuman yang membalas pertanyaan seyna.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2