
Seperti biasanya siswa-siswi sekolah sihir sudah masuk kembali ke sekolah. Tim Almira mendapat nilai terbaik dan penghargaan atas kerja keras kemarin. Sedangkan piter mengakui akan kesalahan yang mereka buat Dengan mendapat sebuah hukuman kecil.
Saat mereka makan siang, terdengar desas desus di antara teman-teman mereka. Tentang suara misterius yang ada di lantai bawah tanah kastil.
"Apa kalian dengar, suara yang sangat melengking di lantai bawah kastil..?"
"Bagaimana kau tau..?"
"kemarin outdir tidak sengaja mengambil bola Takraw yang menggelinding ke lantai bawah, saat sampai di sana terdengar suara yang melengking dan bayangan hitam yang besar. karena takut dia berlari, sampai sekarang badannya demam."
"Benarkah...?"
"iya.." Anak-anak itu melanjutkan makan siangnya dengan roti dan susu. Almira yang duduk tak jauh dari mereka mendengar begitu jelas akan ceritanya. Seyna menatap ke arah Almira.
"Al..jangan bilang kau...?"
"Ide yang bagus...bagaimana kalau malam ini kita ke sana?" Gadis berambut coklat itu sangat tertarik dengan cerita yang dia dengar, Semenjak dia masuk ke dunia sihir, rasa penasaran dan keinginan taunya sangat besar bahkan dia sekarang menjadi gadis yang pemberani dan kuat.
Belum juga seyna selesai bicara, sudah di sambar oleh Almira, seyna dan jonas hanya membuang nafas kasar dan menatap teman di depannya itu dengan tatapan yang sangat malas.
"aku tidak mau ikut !" seru Jonas dengan lantang.
"Tidak apa-apa kalau kamu tidak mau ikut. Berarti kalau Tuan Rukus mempunyai tugas lagi. carilah Tim baru." ancam seyna, Jonas memperlihatkan mukanya yang cemberut di ikuti kekehan kecil dari Almira.
"Lihatlah mereka, begitu bahagia di atas penderita orang lain." gumam Piter melihat Almira dan teman-teman tertawa begitu bahagia.
"Aku akan membuat perhitungan dengan mereka, apalagi gadis berambut coklat itu."
Boba dan patrun hanya diam, mereka tidak berani berkomentar takut salah.
****
Seperti biasa setelah terdengar suara lonceng semua siswa siswi harus berada di kamar dan tidur, tidak lama salah satu guru akan berkeliling menggunakan lampu obor atau lentera mengecek para siswa di kamar. Itu yang akan menjadi kegiatan setiap malam. Malam ini adalah tugas Tuan Rukus yang berkeliling sampai di kamar Almira dan seyna. kedua gadis itu sudah berada dalam alam mimpi, dengan sangat pelan-pelan dan hati-hati di tutupnya pintu kamar, takut membangun kedua gadis yang terlelap dalam mimpinya.
__ADS_1
Tunggu dulu.... kedua gadis itu membuka matanya dan tersenyum kemudian bangun. Ternyata mereka hanya berpura-pura tidur. di ambilnya jaket untuk menutupi piayama yang mereka gunakan dan tidak lupa mereka membawa tongkat sihir.
"Tunggu seyna..." Almira mencegah temannya itu untuk tidak keluar dari kamarnya, dia mengambil sebuah peti yang ada di bawah tempat tidurnya, kemudian mengambil sebuah jubah berwarna putih.
"Pakailah ini, sangat berguna bagi kita."
Seyna hanya mengerutkan dahinya. Dia menerima jubah putih itu dan memakainya. kini wujud Almira dan seyna menjadi transparan.
"walaupun wujud kita transparan tapi suara kita masih terdengar oleh orang, jadi jangan beringsik."
seyna hanya mengangguk, keduanya keluar dari kamar dengan sangat hati-hati. Suasana gelap dan sepi di malam hari baru mereka lihat, tanpa sengaja mereka melihat Tuan Rukus melangkah ke arah Meraka. Almira dan seyna menempelkan dirinya di dinding, saat Tuan Rumus tepat di hadapan mereka, dia berhenti. pria itu seperti merasakan keberadaan orang di sekitarnya, kepalanya menoleh ke arah Almira dan seyna yang berwujud transparan. Kedua gadis itu menahan nafasnya agar Tuan Rukus tidak curiga.
Merasa tidak ada yang aneh, Tuan Rukus pergi, Almira dan seyna bernapas lega.
"Untung saja, bikin jantung mau copot." seru Seyna sambil memasang muka cemberut. Almira hanya terkekeh kecil melihat kelakuan temannya itu.
"aaaaaaaiiiiiiiii.....aaaaaaaiiiiiiii..."
Almira dan seyna langsung menutup kedua telinganya, suara yang keras dan melengking membuat pendengarnya begitu sakit.
"Al...sebelum terlambat, apakah kita harus kembali saja. Kalau Tuan Rukus tau, kita bisa di hukum."
"Apa kau tidak penasaran, suara apa itu..Ayolah..."
Mau tidak mau, suka tidak suka. seyna mengikuti temannya itu, baru kali ini dia mendapat teman yang rasa ingin taunya sangat tinggi sehingga dia harus ikut. seyna tidak tega bila harus meninggalkan Almira.
Mereka menuruni tangga dengan sangat pelan karena tidak ada cahaya yang menerangi jalan mereka. sampai di lantai bawah kastil. suara lengkingan itu terdengar begitu jelas dan semakin keras.
Almira dan Seyna begitu terkejut akan apa yang dia lihat, mereka mundur satu langkah, Seyna memegang lengan temannya itu. mahluk naga dengan kepala tiga. kaki dan tangannya di rantai dengan menggunakan besi yang sangat besar.
"aaaaaaiiiiiii.......aaaaiiiii.."
Naga itu berusaha melepaskan kaki dan tangannya dari rantai yang mengikatnya tapi tidak bisa, kaki terlihat bekas rantai, seperti nya naga itu sudah puluhan tahun di sana. Di belakang naga ada sebuah pintu besi yang sangat besar dan tertutup rapat.
__ADS_1
"Ayo kita pergi dari sini..kita harus menyusun sebuah startegi lagi sebelum ke sini.."
"Apa...? aku kira kamu sudah kapok melihat penampakan naga itu, malah berniat mau kembali lagi ke sini..?" seyna menepuk jidatnya. Almira menarik tangan temannya itu, karena Seyna menatap ke arah naga.
"aaaaaaiiiiiiii.....aaaaaaaiiiiii...."Naga itu bisa merasakan kehadiran Almira dan seyna.
****
Almira membuka jubah putihnya dan membaringkan tubuhnya di kasurnya, matanya menatap langit-langit kamar, dia sangat penasaran dengan pintu besi yang di balik hewan besar itu.
"Al..."Seyna, membangunkan lamunan Almira.
"Kenapa ada Naga di bawah lantai dasar kastil ini..? apa ada sesuatu yang di sembunyikan...?"
"Entahlah..." Almira mengangkat kedua bahunya kemudian membelakangi seyna tidur.
"Baru kali ini kamu bersikap cuek seperti ini..? tapi ya sudahlah itu bagus. Dari pada rasa ingin taumu muncul lagi. aku yang akan repot sendiri."
Almira hanya diam saja tanpa menanggapi, dia sudah tertidur dan terbawa mimpi indahnya.
"Almira... sini sayang...ikut mama."
Almira bermimpi bertemu dengan mamanya, orang tuanya itu seperti mengajak Almira untuk turun kembali ke lantai bawah kastil, mereka melewati naga besar itu dengan sangat mudah dan memasuki pintu besi yang ada di belakang naga.
"Masuk sayang, di sini..banyak sekali rahasia besar yang terpendam. mama harap kamu bisa mencarinya."
"Al...al...bangun...sudah pagi...!!" Seyna menggoyang-goyangkan badan temannya itu, karena dari tadi sulit untuk di bangunkan.
"Mama...!!"
"Hei...ini aku seyna temenmu. Bukan mamamu..."
"Seyna...?"
__ADS_1
"ya...untung kamu cepat bangun. Bergegaslah kita sudah terlambat masuk ke kelas Tuan Rukus. Bisa marah dia kalau kita belum sampai."
Bersambung....