
Semua penghuni kastil sekolah sihir membereskan kekacauan yang terjadi, banyak bangunan kastil yang rusak, tembok rubuh, pecahan kaca berserakan di mana-mana. Tapi tenang saja, hanya dengan waktu tiga puluh menit semua kembali seperti semula, namanya juga dunia sihir hanya mengacungkan tongkat sihir semua akan menjadi beres hehehehe..
Almira masih terbaring di kamarnya, dengan setia Seyna menemani, Tuan Rukus menyalurkan energinya agar Almira segera membaik. Seyna menatap tongkat sihir milik Almira yang begitu indah berwarna putih dan terukir gambar Naga berkepala tiga. Saat hendak memegang tongkat yang ada di sebelah Almira, tongkat itu seolah hidup, dia melayang dan menjauh dari Seyna.
Gadis berambut keriting itu menautkan kedua alisnya dan merasa heran. Ada tongkat sihir sesakti itu, mencoba meraih kembali tapi tongkat itu semakin menjauh.
Tuan Rukus yang sudah selesai menyalurkan energi kepada Almira melihat Seyna yang melompat-lompat hendak menggapai tongkat sihir milik Almira tidak bisa. Tuan Rukus hanya tersenyum saja.
"Kau tidak akan bisa memegang tongkat itu, hanya Almira yang bisa."
"Maksud Tuan..?"
"ya...hanya Almira yang bisa, karena tongkat itu seperti sudah menyatu di dalam diri Almira dan tongkat sihir itu bukanlah tongkat sihir biasa seperti yang kalian punya."
"Bagitukah...?"
Tuan Rukus hanya menjawab dengan anggukan kepalanya kemudian pergi meninggalkan seyna dan Almira di kamar. Seyna hanya menatap tongkat yang berwarna putih itu melayang di atas kepala Almira, tiba-tiba mengeluarkan sebuah sinar putih. Tubuh Almira melayang membuat seyna begitu terkejut, dia hanya melihat saja. Tidak lama tubuh Almira turun ke bawah dan kesadaran nya kembali seperti semula.
"Al..." seyna langsung memeluk temannya yang baru sadar itu.
"uhk...uhk...Sey...lepas, aku tidak bisa bernafas."
"ma...maaf Al, aku terlalu bersemangat melihatmu siuman, mana yang sakit Al, mana..?" seyna membolak balikan tubuh temannya itu.
"auuu...sakit." Tanpa di sadari kepala seyna di getok oleh tongkat sihir milik Almira, gadis berambut coklat itu hanya menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
"white...diam..!!" Tongkat itu terbang dan langsung diam di atas meja.
seyna hanya melonggo dan bingung.
"white...? maksud kamu white itu nama tongkat itu..?"
"hehehehe iya, aku menamai nya dengan sebutan white." jawab Almira sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
seyna menggelangkan kepalanya perlahan melihat tingkah unik temannya itu.
"Al...bagaimana kau bisa mendapatkan tongkat sihirmu itu..? dan dari mana kau belajar ilmu sihir yang luar biasa seperti kemarin. Hingga kau bisa mengalahkan penguasa kegelapan...? apakah aku bisa belajar ilmu sihir seperti mu dan bisa mendapat tongkat sihir yang hebat seperti white..?
Almira menghembuskan nafas kasar, pertanyaan seyna begitu banyak.
__ADS_1
"Bisa tidak kamu jangan tanya seperti wartawan seperti itu bikin kepalaku semakin pusing."
"wartawan...? siapa itu wartawan..?"
Almira menepuk jidatnya, dia lupa kalau dia berada di dunia sihir saat ini.
****
Piter yang keadaannya mulai membaik, keluar dari kamarnya, semua temannya menatap dengan tatapan penuh mencemooh dan tatapan yang sinis. Saat berpapasan dengan Boba dan patrun, Piter tersenyum, dia yakin ke dua temannya itu akan menanyakan tentang ke adaannya saat ini. tapi sayang kedua temannya mengabaikan keberadaan piter.
piter berjalan menuju taman belakang kastil, para guru dan lainnya masih membersihkan puingan-puingan yang tersisa, dia membantingkan bokongnya di kursi taman.
"Kenapa mereka menatapku seperti itu..? apa salahku pada mereka, sunggung orang aneh."
sebuah tangga memegang pundak piter, membuatnya terkejut dan menoleh ke belakang.
"kau...bukankah kau adalah kakak kelas kami..?"
"ya..aku outdir..aku tau dengan perasaanmu saat ini..?"
"jangan ikut campur masalahku." piter menepis tangan outdir begitu saja, wajahnya menunjukkan ketidak senangan akan pria kerdil yang ada di samping nya.
"Bagaimana kau mengetahui namaku dan masalahku..? apa kau mengikuti ku selama ini..?"
"hahahaha jangan bodoh piter, semua murid sekolah penyihir kenal denganmu, piter seorang anak yang cerdas dan orang tuamu penyumbang tetap di sekolah sihir.."
"o.." Piter masih males berbicara dengan orang yang baru di kenalnya itu.
Outdir masih menatap wajah piter yang masih dalam posisi yang sangat kesal. Dia memanfaatkan keadan dan situasi hati piter saat ini.
"Kalau aku jadi kamu, aku akan membalas dendam kepada gadis itu, merebut kembali apa yang kau punya."
"apa maksudmu..?"
"ya...yang seperti yang telah aku bilang tadi. Dan aku bisa membantu mu untuk mewujudkan semua keinginanmu."
piter menatap outdir dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Apa kau masih tidak percaya dengan ku..? pikirkan baik-baik perkataanku. kalau kau sudah yakin akan dirimu. Temui aku di di tengah hutan, aku tinggal di tengah hutan itu" sambil menunjuk hutan di depan kastil.
__ADS_1
Piter hanya diam saja, Selama ini dia tidak tau kalau ada rumah di tengah hutan, padahal dia sering bermain di hutan itu bersama boba dan patrun.
"Kau mau menipuku..? aku sering ke dalam hutan dan tak pernah ku lihat satupun rumah di sana..?"
"Rumahku tersembunyi, tidak mudah di lihat orang orang."
****
Di padang rumput, Keadaan pak pluto sudah membaik, Guru Li dan Bunny merawat pak pluto sampai sembuh.
"Akhirnya pertempuran itu sudah selesai, sudah tidak ada lagi awan hitam di kastil."
"Apakah Almira baik-baik saja..?"
"Jangan kuatir dengan gadis itu, aku yakin dia baik. apakah kau merindukannya Bunny..?"
"Ti...tidak...aku hanya kuatir dengan kecerobohan dan rasa keingintahuan nya yang tinggi membuatnya dia masuk ke dalam masalah."
Guru Li hanya terkekeh kecil, sifat Almira mewarisi sifat mamanya. Pak pluto membuka matanya dengan pelan-pelan, menyesuaikan sinar matahari yang mengenai matanya.
"Di mana aku..? apakah aku sudah di surga..?.
"Tenang saja, kau masih di dunia penyihir. Untung aku menyelamatkan mu tepat pada waktunya, kalau tidak..."
"Bagaimana keadaan sekolah sihir..?" pak Pluto langsung bangkit dari tidurnya, dia pegang kepalanya yang terasa sakit. banyak perban yang membalut di tubuhnya juga di bagian kepalanya.
"Almira sudah membereskan semuanya, kini sekolah sihir sudah aman."
"Almira...? apa kau yakin...? gadis itu..."
"ya...murid barumu yang menyelesaikan semuanya, itu semua berkat Guru Li yang mengajarinya Ilmu sihir." sahut Bunny sambil memakan wortel temuannya.
pak pluto memandang Guru Li, membuat pria berjegot panjang itu salah tingkah dan menggaruk kepalanya.
"Kau tidak pernah berubah Li.. selalu mengambil jalan di depanku terus."
Guru Li hanya membalas dengan senyuman. Guru Li dan pak Pluto merupakan Teman satu sekolah yang sama, mereka bersahabat sampai sekarang.
Bersambung...
__ADS_1