Dunia Sihir Itu Ada

Dunia Sihir Itu Ada
Bab 57. foto


__ADS_3

Mobil yang di kendarai prima masuk ke kawasan mall terbesar di kota, mereka masuk dan langsung menuju tempat bioskop yang berada di lantai paling atas.


tiga penyihir muda yang baru menjejakkan kakinya di dunia manusia sangat terpukau dengan penerangan di ruangan yang mereka lewati, banyak barang terpajang dengan begitu rapi dan orang-orang yang berlalu lalang. Membuat kepala Jonas sangat pening.


pandangan patrun tertuju pada sebuah toko baju di seberang sana, dia mengajak teman-teman nya untuk berganti baju yang sedang di pakainya. karena dengan memakai jubah yang biasanya di pakai di dunia sihir membuat penampilan mereka sangat aneh di mata manusia. Itu terlihat jelas, bagaimana mereka memandang dengan tatapan yang aneh, bahkan ada dari mereka mencibir dan merendahkan. sedangkan anak-anak muda malah terkagum-kagum dengan jubah yang di pakai oleh Boba dan temannya, mereka yakin bila itu adalah artis yang sedang melakukan syuting.


"kak...kak....sebentar..."


seru seseorang dari seberang, menghentikan langkah boba dan kedua temannya.


"Boleh aku minta foto...?"


"foto...?" dahi Boba mengerut, dia bingung apa itu foto


"ya..boleh kan kak...?"


anak remaja yang sudah siap menyalakan kamera di gawainya, Boba masih bingung dan berpandangan dengan kedua temannya.


"Gimana kak.."


Boba hanya mengangguk sedikit, remaja itu sudah mengangkat gawainya ke atas dan bersiap menekan tombol, lambu Blitz yang di dalam kamera menyala membuat mata ketiga penyihir sangat silau.


"apa itu tadi...?"


"jangan-jangan itu kekuatan jahat. kita harus berhati-hati di sini." gumam jonas sambil berbisik ke telinga Boba. Remaja tadi memperlihatkan hasil foto dan sangat bagus.


"aaaaaaaa.... kenapa....kenapa...muka kita ada di dalam kotak kecil itu..!!" patrun berteriak histeris melihat wajahnya berada di layar HP. remaja itu hanya terkekeh kecil, melihat ekspresi patrun bahkan dia malah bertepuk tangan.


"kakak keren sekali... acting nya, seperti natural. kalau aku bilang, kakak lebih cocok jadi seorang komedian. lucu banget...."


Almira menoleh ke belakang, di lihatnya Boba dan yang lainnya di kerumini oleh beberapa remaja, lantas Almira memutar balik dan menuju ke tempat Boba.

__ADS_1


"Al...di sini ngeri banget, lihat...kami ada di kotak kecil itu, bagaimana ini.."


"maksud kakak ini, foto ini kak.."


Almira melihat hasil fotonya dan terkekeh kecil melihat hasilnya.


"temen kakak lucu banget, apakah mereka seorang komedian."


"ya..bener, mereka seorang komedi yang sedang menyamar." Dusta Almira sambil membisikan ke telinga remaja itu, merasa tidak percaya, remaja itu menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


"kami permisi dulu, mau melakukan pemotretan an." almira menarik tangan Boba dan mengedipkan satu mata ke arah remaja tadi.


"semangat kakak...!!'


Almira mengangkat jempolnya ke atas sambil tersenyum.


****


saat masuk ke dalam ruang bioskop, Boba memegang erat tangan Almira dia begitu waspada kalau ada musuh yang tiba-tiba menyerang. karena ruangan sangat gelap.


Nita tidak mau membuang-buang kesempatan yang ada, dari film di putar sampai saat ini dia masih memeluk tubuh prima dengan alasan sangat takut dan tidak berani melihat kengerian di layar yang sangat lebar itu. aroma parfum yang di gunakan prima sangat wangi membuat Nita semakin enggan untuk melepaskan pelukannya. prima begitu kesal, dia berharap Almiralah yang sedang memeluk tubuhnya karena ketakutan, ini di luar rencana semua. Di tarik nafas panjang dan di buang dengan kasar, saat di lirik Almira yang berada satu deret an tempat duduknya, Almira dengan santainya melihat film itu, bukannya takut dia malah tertawa, seperti tidak ada harga diri setan yang ada di layar bioskop.


"Dasar gadis aneh, orang-orang menjerit karena ketakutan kamu malah dengan santainya melihat dan ketawa."


"Bagaimana tidak tertawa, lihatlah setan itu lucu banget dan tidak ada seram-seramnya."


Boba menepuk jidatnya sendiri mendengar perkataan yang keluar dari mulut gadis idaman nya itu.


"Terbuat dari apa gadis itu, di mana-mana kalau manusia normal pasti takut akan adegan yang ada di layar dinding itu." gumam Boba, suaranya yang masih terdengar oleh Jonas


" Biarkan saja..yang penting bisa melihatnya tersenyum."

__ADS_1


****


Akhirnya ke empat guru sekolah penyihir bisa duduk santai, setelah seharian mengajar murid-muridnya.


"Bagaimana keadaan mereka...saat ini, apakah mereka menikmati liburannya." Guru Li menatap jauh ke langit, yang sudah berubah warna menjadi ke emasan, tandanya matahari sebenar lagi akan benar-benar tenggelam dan akan di gantikan tugasnya oleh rembulan.


"jangan khawatir, mereka adalah anak-anak yang hebat dan kuat. Bisa menyelesaikan semua masalah bersamaan-sama."


"Ya...aku setuju." seru Tuan Rukus.


"Bagaimana kalau mereka kembali, kita masukan saja mereka ke sekolah sihir gabungan.."


"sekolah sihir gabungan...? kau serius dengan perkataan mu tuan saida..? sekolah itu sangat berisiko untuk mereka." Tuan Rukus begitu keberatan dengan perkataan pria yang ada di depannya itu.


"Tapi sekolah itu sangat hebat bukan, walaupun desas desus yang mengatakan bahwa selalu ada korban yang berjatuhan di sekolah itu, tapi setelah keluar dari sana akan menjadi penyihir yang tak terkalahkan. mungkin berita yang beredar adalah berita omong kosong saja, kalau berita itu benar selalu menjatuhkan korban mungkin sekolah itu sudah di tutup lama."


"Bagaimana kalau kau dulu yang masuk ke sekolah itu...? dan memastikan berita yang beredar adalah berita bohong"


"Kau merendahkan ku Rukus...!! Mari kita buktikan dengan memasukan Almira dna yang lainnya ke sekolah itu."


"aku sama sekali tidak merendahkan mu. Hanya saja aku melihat kau mempunyai Niat yang tidak baik dengan murid-murid kesayanganku."


"kau...!!"


Tuan saida sudah berdiri dari tempat duduknya hendak memberikan pelajaran sedikit kepada tuan Rukus tapi di hentikan oleh Guru Li.


"sungguh memalukan, seperti anak kecil saja. Baru saja kita memulai membangun sekolah sihir ini, kalian berdua bertengkar. Biarlah kalau anak-anak itu kembali nanti aku yang menawarkan nya."


"Tapi Guru..."


Tuan Rukus sangat keberatan dengan perkataan Guru Li, sedangkan Tuan saida tersenyum kecil saat dirinya di bela. Ada tatapan yang sulit di artikan dan senyum misterius dari Tuan saida.

__ADS_1


"Aku akan selalu mengawasi mu saida, tidak akan lengah kali ini. Pasti rencana buruk sudah di atur rapi di kepalanya." Batin Tuan Rukus, semenjak ada teror di kastil dulu membuat Tuan Rukus tidak mudah percaya kepada orang lain kecuali murid-murid kesayangannya.


Bersambung....


__ADS_2