Dunia Sihir Itu Ada

Dunia Sihir Itu Ada
Bab 51


__ADS_3

Terimakasih sudah membiarkan aku hidup, sebagai ucapan terima kasihku, terimalah mahkota ini..." ular besar itu menundukkan kepalanya


Almira hanya terdiam saja, tanpa berbuat apa-apa, dia bingung mau mengambil mahkota atau tidak.


"untuk apa mahkota itu...?"


"Mahkota ini sangat spesial, ambillah jangan ragu-ragu."


Almira menatap ke arah Naga putih, Hewan besar itu mengangguk perlahan. Dengan hati-hati di ambilnya mahkota yang ada di kepala ular, kemudian ia meletakkan di kepalanya, begitu indah dan bercahaya. Almira seperti putri. seperti ada yang aneh pada tubuhnya, pendengaran nya semakin tajam, bahkan dia bisa melihat dari jarak jauh. segerombolan ular datang mendekat dan diam di dekat kaki Almira, hewan itu seperti tunduk. melihat ribuan ular datang, membuat Seyna bergidik ngeri.


"setelah kau memakainya, bila dalam kesulitan, mahkota itu akan bersinar sendiri maka kaum ular akan datang dan membantumu. kamu sekarang adalah ratu ular. pendengaran dan tatapanmu kini lebih tajam seperti ular."


"Tapi aku tidak mau menjadi ular.."


"kamu tidak akan menjadi ular, selama mahkota itu ada di kepalamu maka kamu adalah ratu dari segala ular."


"Bagitukah...kalau ini di jual kira-kira laku berapa ya...pasti mahal..?" Almira menatap mahkota itu dengan teliti.


"Al....!!" mereka serempak memandang Almira dengan tatapan yang tajam. mendengar kata-kata gadis berambut coklat itu.


"hehehehe hanya bercanda... biar tidak bosan aja." Almira tersenyum sambil mengangkat kedua jarinya.


Ribuan ular yang ada di dekat Almira tiba-tiba pergi begitu saja tanpa di suruh.


Boba hanya menggelengkan kepalanya, melihat gadis pujaannya bertingkah konyol, Bunny menatap Boba dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Naga putih berkepala tiga kembali ke dalam tongkat sihir milik Almira, karena merasa kondisi sudah aman dan terkendali.


Rombongan Almira bergegas meninggalkan hutan, dan akan kembali ke rumah Guru Li sesuai dengan tujuan awal, dengan Bantuan ular besar, mereka melewati jalan seperti yang di beritahukan.

__ADS_1


***


Piter yang bersemedi di bawah air terjun masih menutup matanya, bayangan-bayangan orang yang di benci terlintas di benaknya, bahkan ketika para siswa di sekolah penyihir mempermalukannya, di jauhi temen-temen nya begitu saja. terlintas begitu jelas, urat-urat mukanya terlihat sekali menahan amarah, dia berteriak begitu keras.


"aaaaaaaa....."


Tubuh piter tiba-tiba melayang ke atas dari pundaknya keluar sebuah sayap seperti sayap kelelawar, di kepalanya keluar tanduk dan gigi taring. Matanya merah menyala , setiap tatapannya seperti tatapan yang membunu*.


prok...prok...prok...


terdengar tepuk tangan yang sangat jelas di telinga nya.


"hahaha...akhirnya kau berhasil menyelesaikan pertapamu. kamu seperti terlahir kembali. Tapi agar ilmunya semakin meningkat kau harus meminum darah wanita yang belum menikah saat bulan purnama penuh. tapi bila kau tidak melakukan nya maka badanmu akan lemas tidak bertenaga."


Tubuh piter turun secara perlahan ke tanah, tiba-tiba dia bisa merubah wajahnya dengan wajah orang yang dia kehendaki dalam hitungan detik. Ende tersenyum sinis melihat perubahan piter yang begitu pesat.


"Aku mau...kau habisi semua penyihir putih di dunia ini. agar hanya ada satu penyihir di dunia ini yaitu penyihir hitam hahahaha... kita akan menguasai dunia ini..!!"


Ende menatap piter dengan tatapan yang mematikan. Dia ingin menyerang Ende tapi sia-sia tubuhnya seperti tersengat aliran listrik dan melemah.


"Apa yang kau lakukan padaku..?"


"Aku tidak sebodo* apa yang kau pikirkan, lihatlah kalung yang ada di lehermu. kalau kau macam-macam atau memberontak maka kamu akan mat* tercekik kalung itu sendiri."


Piter mendengus kesal, banyak pertanyaan yang ada di kepalanya. Bagaimana ada kalung di lehernya. dia merasa tidak pernah memakai kalung sama sekali selama ini.


Ende selangkah lebih maju, pria bertubuh kerdil itu sangat tau bagaimana sifat asli piter yang sewaktu-waktu bisa memberontak, saat piter sedang bersemedi, di pasangnya kalung itu dengan sedikit bumbu matra. Agar kalung tidak bisa terlepas dengan mudah, kecuali bila piter Mati maka kalung itu Akan hilang begitu saja. Ende menyegel setiap ilmu yang di miliki oleh Piter agar tidak berbuat di luar kehendaknya. Dia tidak akan melepaskan piter begitu saja, karena akan menjadikannya sebagai alat.

__ADS_1


"Pertapamu sudah selesai, ayo kita pulang. Akan ku beritahu tugas yang akan menantimu selanjutnya."


Piter berjalan mengekor di belakang Ende. Dia tidak bisa melakukan apapun, suatu saat akan mencari jalan keluar untuk menjauhi ende. Betapa bencinya piter melihat pria kerdil yang berjalan di depannya. rasa sesalnya begitu besar karena masuk ke hutan larangan. ingin sekali menarik kata-kata nya yang ingin menuruti segala perintah pria kerdil yang ada di hadapannya itu.


piter adalah tipe pria yang tidak suka di suruh ataupun di perbudak, dia akan mencari segala cara untuk melepaskan diri.


****


Tuan Rukus dan pak pluto menebang pohon yang ada di hutan, mereka akan kembali membangun sekolah sihir walaupun tidak sebesar dulu, Tuan saida yang tidak satu pikiran dari temennya itu hanya duduk bersama guru Li tak jauh dari tempat mereka menebang pohon.


"Mereka seorang penyihir, kenapa tidak gunakan ilmu sihirnya untuk melakukan semua ini...?"


"itu...karena mereka ingin melakukan nya dengan menggunakan hatinya, mereka bilang bila sekolah sihir yang di bangun dengan hati yang tulus maka sekolah itu akan bertahan lama."


"Jadi...selama ini mereka membangun kastil sekolah sihir tidak dengan hati yang tulus...? pantas saja, kastil sekolah sihir itu sudah rata menjadi tanah."


Guru Li hanya tersenyum mendengar perkataan Tuan Saida, tidak ada amarah sama sekali di hatinya. Beda halnya Tuan rukus yang mendengar nya begitu terpancing emosi, dia meninggalkan kapaknya dan melangkah ke tempat Tuan saida berada, tapi tangannya di pegang oleh pak pluto.


"jangan kau turuti emosi mu, itu bisa membakar dirimu sendiri. Biarkan apa yang dia katakan."


Tuan rukus berusaha mengatur nafas dan emosinya sampai stabil kemudian melanjutkan kembali ke pekerjaannya.


Guru Li tersenyum lebar saat melihat telapak tangannya, ada yang membuatnya bahagia. Apalagi kalau bukan murid ke sayangannya yang akan sampai di rumahnya. Apalagi dengan membawa kekuatan dan ilmu yang baru yang di dapat di hutan.


"Apa yang membuatmu bahagia...?"


"Tidak...aku hanya menikmati pagi ini begitu indah, angin bertiup sepoi-sepoi, burung-burung bernyanyi..." dusta Guru Li kepada Tuan saida.

__ADS_1


"Sebentar lagi dia akan kembali, Alkila...aku berjanji akan mendidik Almira dengan sebaik mungkin. aku akan menjadikan dia gadis kuat dan tangguh seperti mu. Itulah janjiku padamu..." Batin Guru Li menatap ke depan.


Bersambung....


__ADS_2