Dunia Sihir Itu Ada

Dunia Sihir Itu Ada
Bab 53. AC


__ADS_3

"Al..apa ada masalah...?" seyna menggoncang kan tubuh temennya itu, sehingga tersadar dari lamunannya. hanya senyuman yang dipaksakan terukir dari bibir tipis.


"Nenek dan kakek ku akan pindah ke rumah anaknya."


"wah bagus dong Al, jadi selama ini kamu tidak sendiri masih ada saudara lagi."


"ya... masalahnya...orang itu adalah ayah dari Nita."


"apa...? cewek yang tidak punya harga diri itu." Almira hanya mengangguk pelan. semua mata masih tertuju padanya, berharap ada sepatah dua patah kata keluar dari bibir Almira.


Tok...tok...tok...


suara ketukan pintu terdengar jelas, seyna membuka pintu itu. Dia yakin bahwa itu adalah Kakek atau nenek Almira.


"Nenek..."


Seyna langsung memeluk tubuh yang sudah sedikit renta itu. Bahagianya dia saat melihat kakek dan nenek Almira karena sudah di anggap seperti keluarganya sendiri.


"wah teman-teman almira banyak sekali...? lekas kemas-kemas barangmu sekarang juga. satu jam nanti kita akan tinggalkan rumah ini..."


"Tapi nek..."


Sebelum Almira selesai bicara, nenek sudah pergi dari kamarnya. Gadis berambut coklat itu mengambil tongkat sihirnya kemudian mengarahkan ke segala penjuru kamar, mulutnya membaca sebuah mantra dan terlihat komat-kamit.


"Bra..alakadabra...!!


semua benda yang ada di kamar berterbangan sendiri masuk ke dalam kardus dan koper yang telah di siapkan nenek tadi. sesekali teman-teman nya menghindari benda-benda yang berterbangan agar tidak mengenai kepala mereka.


"Al... bukannya kita tidak boleh menggunakan sihir di dunia manusia ya...?"


Almira hanya diam saja, masih fokus dengan benda-benda yang masuk ke dalam kardus dan koper.. seyna mendengus kesal kepada temannya itu. Saat seyna hendak menegurnya kembali, boba menghalangi dan menggeleng pelan.

__ADS_1


"Biarkan...mungkin dia butuh waktu."


*****


Sebuah mobil mewah sudah terparkir di halaman rumah, barang-barang sudah masuk di dalam bagasi mobil. Kakek dan nenek masih menatap rumah itu dengan mata yang berkaca-kaca tidak tega bila harus meninggalkan rumah yang penuh dengan kenangan indah.


sebenarnya ayah Nita bisa menebus rumah itu dari bank, dengan kekayaan yang dia punya sekarang. Tapi dia enggan, karena berharap kedua orang tuanya bisa tinggal bersamanya. Dengan sedikit berbohong bahwa dia tidak punya uang dan masih banyak kebutuhan yang harus di cukupi. mulai dari membayar pekerja rumahnya dan karyawan yang ada di perusahaan.


Rombongan Almira sampai di sebuah rumah besar, dengan desain modern. Rumah dengan tiga lantai, di depan rumah berjejer beberapa mobil mewah dan sport, sebuah pekarangan yang penuh dengan bunga mawar.


Boba, jonas dan Petrun yang baru menginjakan kakinya di dunia manusia sangat begitu takjub karena berbeda sekali dengan keadaan di dunia sihir.


"Astaga...lihat istana ini. begitu megah sekali."


" ya benar...ini lebih indah dari kastil sekolah sihir milik kita." tiba-tiba jonas menghentikan bicaranya, dia teringat akan kastil sekolahnya membuat nya sedih. karena sudah hancur. patrun mengelus pundak temannya itu, dia tau apa yang sedang di pikirkan oleh jonas.


Beberapa kali patrun melakukan hal yang sama seperti pertama kali seyna datang ke dunia manusia. Almira sampai kewalahan mengatasi ke inginan tahuan teman-teman nya. untung seyna ikut membantu dan menjauhkan temen-temen nya dari mobil dan kendaraan yang lainnya yang melintas di jalanan.


Almira hanya menghembuskan nafas kasarnya, dia hanya mengangguk pelan.


"Ayah... sudah pulang...?" seru seorang gadis yang sedang duduk sambil memainkan gawainya, dia sama sekali tidak menoleh ke pintu. Hanya terdengar suara pintu di buka dan dia sangat yakin bila itu adalah ayahnya.


"Nita... jangan diam saja seperti itu. kamu tidak mau menyambut kedatangan nenek dan kakekmu. Atau saudara perempuan mu...? padahal dulu kamu sangat menginginkan saudara perempuan agar bisa berbagi satu dengan lainnya...?"


Nita diam sejenak, berhenti memainkan gawainya, memikirkan apa yang barusan ayahnya katakan padanya, selang beberapa menit dia menoleh. Di tajamkan indra penglihatan nya, ada yang ganjal di pikirannya yaitu ada seyna dan Almira di dalam rombongan itu.


Dengan langkah kaku, di dekati ayahnya. Matanya memindahi setiap orang yang ada di belakang ayahnya, dari sepasang orang tua yang sudah renta dengan baju yang sangat kusut dan usang. gadis yang kini menjadi saingannya dan beberapa anak muda dengan pakaian yang aneh.


"ayah...?"


Ayah Nita mengerti akan kode yang di berikan nya, dia tersenyum kemudian mengenalkan sekali lagi kepada anak kesayangannya itu.

__ADS_1


"ayo kasih salam kepada kakek dan nenek. dia adalah orang tua kandung ayah, ini Almira anak dari adik kandung ayah dan ini semua temen-temen nya. Mereka akan tinggal di sini mulai sekarang. Jadi kamu tidak akan ke sepian lagi.'


"apa...? tinggal di sini...? mereka...?"


"ya...masih banyak kamar kosong di rumah ini."


Nita menarik lengan ayahnya dan menjauh dari mereka, dia berbicara setengah berbisik.


"Ayah...ayah kira rumah kita penampungan...? lihat mereka...? mereka semua orang miskin, tidak pantas tinggal di rumah kita yang bagus ini."


"Nita jaga ucapanmu. itu adalah nenek dan kakekmu. kamu harus sopan kepada mereka."


Nita membuang mukanya, lantas dia naik ke lantai dua, Almira yang mempunyai kekuatan dari ular raksasa itu bisa mendengar jelas pembicaraan sepsang anak dan ayah itu, walupun jarak jya cukup jauh. Almira hanya tersenyum sinis.


Ayah Nita memanggil bi wiwi untuk menyiapkan tiga kamar kosong, kamar untuk orang tuanya, untuk Almira dan teman-teman Almira.


Kamar yang sangat luas, dengan ukuran tepat tidur yang besar dan empuk. mungkin bisa di tiduri enam orang. kakek dan nenek Almira begitu takjub saat sampai di kamarnya.


"kek, ini kamar atau apa...? kamar kok luas banget kayak gini. mendingan Almira satu kamar saja dengan kita. lihat tempat tidurnya gede banget."


"iya bener nek."


"silahkan kek, nek." Bi wiwi menyilahkan kedua orang tua itu untuk masuk. kemudian membongkar tas kakek dan nenek dan memasukkan nya ke dalam lemari yang super besar. Bi wiwi kadang tersenyum sendiri tak kala mendengar pembicaraan kedua orang tua itu yang sedikit norak baginya.


"lho...lho...kok dingin banget ini kamar, kayak di kulkas." seru kakek yang kemudian naik di atas kasur dan menyelimuti dirinya dengan menggunakan bad cover. Hal yang sama pun di lakukan oleh nenek.


"maaf kek, nek saya kecilin Ac-nya." seru bi wiwi sambil mengambil remote AC dan mengatur suhunya agar sedikit normal.


"walah... ada-ada saja."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2