Gabriel Si Mafia Tampan

Gabriel Si Mafia Tampan
Sikap Dirga


__ADS_3

"nona,nona tidak apa?" tanya Amara dengan kekhawatiran yang sangat jelas di matanya


setelah masuk Amara pun terkejut karena melihat Gabriel yang memeluk Lea dari belakang.


Gabriel yang tadi memeluk Lea pun melepaskan pelukan dan berbalik menatap ke arah pintu,begitupun juga Lea yang terkejut dengan kedatangan Amara


"eh,tuan Gabriel maaf saya pikir terjadi sesuatu dengan nona jadi saya buru-buru kemari"kata Amara kikuk


"tidak apa, lanjutkan saja pekerjaan mu"kata Gabriel pada Amara


"eh iya baik tuan" ucap Amara yang ingin berbalik pergi


"oh ya tunggu, bukankah kamu kerja dari pagi sampai sore,tapi kenapa kamu belum pulang?" tanya Gabriel lagi menghentikan langkah Amara


"itu karena aku yang menyuruhnya untuk tinggal tuan jadi sampai malam dia masih disini" kata Lea yang menjawab pertanyaan Gabriel


"oh begitu, baiklah kalau begitu jika masih ada pekerjaan lanjutan saja ,kalau tidak ada kamu bisa istirahat dan aku akan naikkan gaji kamu 2 kali lipat karena telah menjaga Lea" kata Gabriel pada Amara


"benarkah tuan?, terimakasih banyak tuan"


kata Amara yang begitu senang saat mendengar itu dari Gabriel.


"kalau begitu saya permisi dulu tuan,nona, selamat malam" kata Amara lagi

__ADS_1


setelah itu Amara pun segera meninggalkan kamar itu ,ia juga tak lupa menutup pintu kamar.


"tuan begitu baik ya" kata Lea sambil tersenyum


"oh ya,apa begitu?" tanya Gabriel yang malah menatap lea


"tentu saja, buktinya tuan menaikkan gaji Amara "


"apa menurutmu saya baik Lea , bukankah kamu takut dengan saya Hem?" tanya Gabriel lagi


"yah memang saya takut tuan, apalagi saat tuan waktu itu membunuh orang-orang yang menyerang kita,tapi saya tau itu tuan lakukan karena tuan ingin melindungi saya"ujar Lea


"bagus kalau kamu mengerti Lea,dan maaf kalau aku membuatmu takut,tapi itulah duniaku,kamu harus lebih mengenalnya"kata Gabriel dengan lembut


setelah itu Gabriel pun memeluk Lea lagi dengan sangat erat.


"terimakasih Lea" ucap Gabriel pelan


sementara di dalam rumah yang begitu sepi,seorang pria baru saja pulang dengan keadaan yang sedang mabuk berat.


"sayang kamu darimana?" tanya seorang wanita yang merupakan istri dari pria itu


wanita itu adalah Jocelyn yang terkejut saat melihat Dirga pulang dalam keadaan mabuk.

__ADS_1


"lepaskan tanganmu!" kata Dirga menghempaskan tangan Jocelyn yang ingin membantu nya


"tapi kamu mabuk,ayo aku bantu ke kamar" kata Jocelyn dengan tenang


"aku bisa melakukan sendiri!" Kata Dirga dengan nada yang sedikit membentak


"apa maksudmu,aku ini istri kamu jadi biarkan aku membantumu"kata joce yang masih berusaha membantu


"hahaha istri ya?" ucap Dirga sambil tertawa menggelegar di rumah itu


"iya Dirga kita sudah menikah,tapi kenapa kamu sekarang jadi gini sih?" tanya Joce meminta penjelasan pada sang suami


"joce dengarkan aku,kamu fikir aku masih mencintaimu saat aku tau kamu adalah kakak dari musuhku dan ingatlah bahwa adikmu itu yang telah membuat adikku tiada" ucap Dirga yang masih setengah sadar meskipun ia tadi mabuk berat


"apa maksudmu Dirga?" tanya Joce menyerit


"haha Joce Joce kamu begitu bodoh ya ,,maksudku adalah aku menikahimu karena aku ingin membalas dendam pada adikmu itu!" jelas Dirga yang membuat hati Jocelyn seperti tertusuk oleh beberapa pisau.


"tidak kamu bohong kan ,ini hanya bercanda kan dirga?!" kata Jocelyn yang masih tidak bisa menerima apa yang Dirga ucapkan tadi


"bukankah sudah jelas Joce,jadi nikmatilah hari-hari mu untuk menjadi pion ku kali ini,dan ingatlah satu hal jika aku belum membalaskan dendam ku pada adikmu jangan harap aku bisa mencintaimu seperti dulu lagi Joce !" kata Dirga lagi setelah itu dia pun menghempaskan tubuh Jocelyn dengan sangat kasar


dan Dirga pun kemudian berjalan menuju ke kamarnya sambil terhuyung-huyung,sementara Jocelyn masih terduduk di lantai karena masih terkejut dengan apa yang Dirga katakan padanya.

__ADS_1


"kenapa sakit sekali" gumam joce sambil memegang dadanya yang sedikit nyeri karena mengingat perkataan Dirga tadi.


__ADS_2