Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia

Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia
Bab 10


__ADS_3

✫✫✫


Benar saja para mafia itu sudah berkumpul mengelilingi meja kaca persegi panjang dan sudah di siapkan bermacam-macam makanan yang banyak, Liana pun duduk di antara Felix & Kenzo.


"Tunggu, ada apa dengan tangan mu?" Kenzo yang berada di samping kirinya melihat tangan kiri Liana di perban, gadis itu melirik Felix kemudian menggelengkan kepalanya.


"Ti–tidak kok, hanya... Hanya terbentur pintu tadi" bohong Liana tersenyum tipis, Kenzo yang melihat ekspresi si gadis kurang yakin.


"Jangan berbohong!" Dengan sengaja Kenzo memegang pisau membuat Liana semakin ketakutan, Edgar yang berada di samping Kenzo pun memukul bahu pria kekar itu.


"Turunkan pisau mu!"


"Biarkan! Sekarang katakan, apa yang terjadi dengan tangan mu?" Menatap tajam.


Bagaimana bisa Liana mengatakan sejujurnya di sisi lain ia takut dengan Kenzo apalagi sambil memegang pisau dan di sisi lain ia juga takut sampai Felix mengatakan bahwa dirinya pengadu bisa-bisa pria itu akan menyiksanya dengan lebih.


"A–aku... Aku...,"


"Karena ku" ucap seorang pria di samping Liana dengan cepat sambil mengupas buah di tangannya menggunakan pisau khusus, pandangan Kenzo mengarah pada Felix.


"Kau?"


"Aku terlalu kuat menarik tangannya, jadi aku meminta maid mengobatinya" datar Felix dan ia malah menyuapi buah yang ia kupas ke dalam mulut Liana.


Gadis itu tak hentinya menatap pria yang begitu aneh baginya itu pun sambil mengunyah buah yang di masuki oleh nya.


"Sekarang lihat, siapa yang kasar?" Kenzo melirik Edgar dan melempar pisau ke buah hingga menancap pada salah satu buah di mangkuk gelas.


Bisa-bisa Liana akan menjadi taruma saat makan, tak ada habisnya mereka membuat nya ketakutan.


"Sudah lah! Tidak usah ribut!" Sergap pria yang sering di juluki nama Arion.

__ADS_1


Mereka pun makan siang dengan hening biasanya jika Liana makan bersama sang ayah selalu mengobrol ntah itu membahas yang hal sepele, tapi ia tahu bahwa orang yang sedang makan saat ini bukan lah sosok seperti ayahnya.


"Emm... Besok–bolehkah–aku... Emm, ku–kuliah?" Ucap Liana dengan sangat hati-hati sambil menatap makanannya, mereka yang mendengar ucapan dari si gadis menatapnya sejenak.


"Terserah kau" melanjutkan makanannya.


Liana pun tersenyum menunduk kecil akhirnya di izinkan kuliah dan bisa ia ambil kesempatan untuk bertemu dengan sang ayah.


"Tapi kau harus di kawal" ucap pria yang berambut seleher itu, Lucas. Seketika Liana mendongak menatap Lucas.


"Takut saja jika kau menghilang dengan menggunakan kesempatan itu"


"Ti–tidak, aku tak akan pe–pergi"


" Tidak usah membantah! " Tunjuk Lucas menggunakan garpu yang ia pegang, terpaksa gadis itu pasrah dengan kecewa jika begini ia tak bisa menemui ayahnya.


Selesai sudah acara makan siang yang menegangkan bagi Liana ia pun lebih baik memutuskan untuk pergi ke kamarnya, ia merindukan ayahnya ia takut jika terjadi apa-apa apalagi saat ini jarak keduanya mungkin jauh tak bisa saling memantau. Jika saja ia membawa ponsel sudah pasti ia akan menghubungi sang ayah, namun sayang saat itu ia malah meninggalkan ponsel di kamar sebelum ia di bawa oleh mafia ini.


****


Malamnya, Liana merasakan bosan juga jika tak ada ponselnya ia memutuskan untuk keluar mencari angin segar atau mencari sesuatu yang menyenangkan untuk menghilangkan rasa bosan. Seperti awal ia menaiki menggunakan lift berarti turun juga pakai lift, setelah sampai di lantai bawah ia berjalan mengendap-endap takut jika ada yang mengetahuinya keluar, dengan jalan perlahan sambil menatap sekeliling menurutnya sudah aman tak ada siapapun.


Dengan senyum sumeriah ia mempercepat langkah pelan nya menuju pintu masuk dan keluar rumah.


"Kau mau kemana?" Suara tanpa alunan itu menghentikan langkah Y/n. Aduh, ketahuan deh. Ternyata pria itu adalah Revan mendekat ke arah Liana yang masih membelakanginya.


“𝑇𝑎𝑚𝑎𝑡 𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑎𝑢, 𝐿𝑖𝑎𝑛𝑎” batin Liana sambil menutup matanya, ia berharap bahwa ini mimpi.


Sekarang Revan berdiri di samping Liana sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana menatap intens pada Liana.


"Kau mau kemana malam-malam begini?" Tanya Revan.

__ADS_1


Liana menghela nafas pelan perlahan menyerong kan tubuhnya pada pria di sampingnya, gadis itu menunduk memainkan ujung bajunya.


"Apa kau mencoba kabur?"


Liana mendongak ke atas menggelengkan kepalanya dan melambaikan tangannya.


"Lalu?"


“𝐵𝑎𝑔𝑎𝑖𝑚𝑎𝑛𝑎 𝑐𝑎𝑟𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑤𝑎𝑏𝑛𝑦𝑎? 𝐴𝑘𝑢 𝑟𝑎𝑔𝑢 𝑗𝑖𝑘𝑎 𝑖𝑎 𝑏𝑖𝑠𝑎 𝑚𝑒𝑚𝑝𝑒𝑟𝑐𝑎𝑦𝑎𝑖 𝑘𝑢, 𝑚𝑎𝑛𝑎 𝑡𝑎𝑡𝑎𝑝𝑎𝑛𝑛𝑦𝑎 𝑐𝑢𝑟𝑖𝑔𝑎 𝑙𝑎𝑔𝑖. 𝐷𝑢ℎ... 𝐴𝑦𝑜𝑙𝑎ℎ 𝐿𝑖𝑎𝑛𝑎”


"E–emm, a–aku, aku ingin, keluar sebentar..." Terbata-bata


"Mau ngapain?"


"Me–mencari udara segar" Revan menatap Liana dengan detail gadis itu pun menundukkan kepalanya.


"A–aku, aku bosan di kamar... Ja–jadi ingin keluar sejenak " ucap Liana.


Revan pun menatap datar, baiklah ia tak menemukan kebohongan dari ekspresi si gadis berarti ia mengatakan yang sebenarnya.


"Ikut aku" Revan berjalan mendahului, Liana menelan ludahnya.


"Apa dia akan menghukum ku? Dan masih tak percaya?" Gumam Liana, lalu langsung menyusul Revan.


Ternyata pikiran Liana tak sejalan Revan membawa nya ke tempat taman kecil di mana sudah ada sofa tunggal 3 dan meja pendek bundar, di atasnya di hiasi lampu-lampu kecil yang melilit di tali agar bisa tergantung. Selain tali dan kayu yang di liliti lampu, namun pepohonan kecil se lutut pun di terangi oleh lampu berkelap-kelip ahh tempat nya bagus.


Liana menatap dengan senyuman apalagi di sampingnya ada kolam kecil bahkan pancuran yang berbentuk patung hewan buas, udara sejuk menambah kesan yang sangat menyegarkan mata dan tubuh. Liana berjalan sana-sini dari melihat lampu yang di gantung hingga kolam bahkan ada juga kolam yang berisi ikan hias yang berwarna warni, Revan yang melihat itu tersenyum tipis kemudian menghampiri Liana.


"Apa kau suka?" Tanya Revan, gadis itu menoleh dan mengangguk cepat sambil tersenyum. Tangan Liana terulur untuk menyentuh air pancuran kecil di patung kolam itu, rasanya dingin.


"Ya tempat ini memang sangat indah jika di malam hari, apalagi cuaca yang cerah sangat mendukung untuk di pandang" Revan menatap ke atas.

__ADS_1


__ADS_2