
Gadis itu memasuki rumah besar milik mafia yang sekarang juga rumahnya itu kan kata mereka semua yang ada di sini miliknya, Liana masih tersenyum-senyum sambil bersenandung kecil ia tak akan berhenti tersenyum jika begini.
"Dari mana kau?"
Suara berat membuat Liana menghentikan aktivitas senandung nya suara yang tak asing baginya, perlahan gadis itu menoleh terdapat 2 pria yang sedang berdiri menatap nya.
Astaga, pria kejam itu.
Liana mengalihkan pandangan dengan kedua tangannya di belakang, 2 pria itu menghampiri Liana ternyata Arion & Kenzo, Liana memundurkan langkah nya ketika pria kejam itu mendekat.
"Kau dari mana?!" Tanya Arion dengan nada ketus, Liana tak menjawab malah diam menatap lantai.
"Dari luar bersama ku" ucap Revan mendekat dan berdiri di samping Liana.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Kenzo menatap Revan & Liana secara bergantian.
"Tidak ada, hanya mencari udara segar dan mengobrol lagian dia bersama ku" santai Revan.
Kenzo pun mengangguk kecil sedangkan Arion menatap Liana yang menunduk. Revan tau sebenarnya Liana ingin memaki pria di hadapannya tapi tak berani.
"Emm... Pergilah beristirahat besok kau kuliah kan?" Ucap Revan, Liana melirik kemudian mengangguk.
"Masuk lah kamar, good night" Revan mengusap kepala Liana, tak pikir panjang gadis itu pun pergi.
"Dia sangat ketakutan mendengar suara mu yang terdengar tegas, gak ada salahnya sih jika menjadi orang tegas namun tetap ada kelembutan sedikit saja. Kau tau, ternyata gadis itu cerewet" bisik Revan kemudian tersenyum.
Pria bermata tajam itu melirik Revan. Revan pun pergi setelah menatap 2 pria dihadapannya dengan tersenyum, pria yang bernama Arion itu menghela nafas kasar.
"Ya ada benarnya juga bocah itu, tapi ya terserah deh" Kenzo pun pergi meninggalkan Arion sendirian, sudah terbiasa tegas jadi sangat sulit untuk mengubah sifatnya.
\*\*\*
__ADS_1
Paginya, Liana sudah siap untuk pergi kuliah dengan semangat 45 selain merindukan sang ayah ia juga rindu kuliah nya. Sebenarnya jam kuliah nya siang sekitar jam 9 hanya sengaja saja bersiap pagi-pagi karena harus menemui sang ayah dan mengambil perlengkapan kuliahnya yang tertinggal.
Liana keluar dari kamar untuk menemui salah satu mafia itu di mana pria yang bersamanya semalam. Hanya pria itu yang membuat Liana tak takut karena dia membuatnya nyaman untuk bercerita.
Sesampainya di lantai bawah Liana cinglak-cingluk mencarinya namun tak ada siapapun kecuali para maid yang sibuk bertugas membersihkan rumah hingga ada yang memasak. Gadis itu pun terpaksa bertanya pada salah satu maid yang bertugas membersihkan ruangan.
"Permisi" kaku Liana, maid itu menoleh kemudian membungkuk.
"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" Nah ini nih yang membuat Liana tak nyaman.
"Jangan panggil aku begitu, aku cuma mau bertanya. Tau gak? Siapa pria yang bersama ku tadi malam?"
"Maaf nyonya, saya tidak mengerti"
Astaga bodohnya, kan semalam hanya ada Liana & Revan di luar selain itu tak ada. Ada sih 2 maid namun sepertinya bukan dia, kenapa malah bertanya pada orang yang tidak tau? Mana ia tidak tau nama pria itu lagi.
“𝐴𝑠𝑡𝑎𝑔𝑎, 𝑑𝑖𝑎 𝑡𝑎𝑘 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑡𝑎𝑢 𝑠𝑖𝑎𝑝𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑎𝑘𝑢 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑢𝑑. 𝐵𝑜𝑑𝑜ℎ𝑛𝑦𝑎 𝑎𝑘𝑢 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑡𝑎𝑢 𝑛𝑎𝑚𝑎 𝑝𝑟𝑖𝑎 𝑖𝑡𝑢 ” batin Liana merutuki dirinya.
Gadis itu membalikan badan dan maid itu membungkuk lalu pergi. Liana hanya mengenal Felix & Carlos saja karena mereka lah yang memperkenalkan dirinya sendiri, dan jika kita lihat siapa pria yang bertanya tadi adalah Edgar.
"E–emm a–aku... Sedang..."
"Sedang apa?" Tanya Edgar berjalan mendekat, bisa ia lihat gadis di hadapannya sudah berpakaian rapi walaupun bukan seragam hanya menggunakan celana jeans panjang dan baju panjang berwarna biru dan rambut diikat atas.
"Sepagi ini kau akan berangkat kuliah?"
"A–aku... "
"Apa yang sedang kalian lakukan? "
Edgar & Liana menoleh ternyata para mafia lainnya sedang berdiri menatap keduanya, ahh pria yang Liana cari ada di sana tapi sampingnya ada pria kejam itu.
__ADS_1
"Ah tidak" Edgar.
"Oke, kita sarapan terutama untuk gadis yang akan pergi kuliah" ucap Elvino, mereka pun berjalan menuju meja makan.
Liana mengikuti Revan agar bisa duduk sampingnya sebenarnya para mafia itu heran dengan sikap Liana yang kek nempel terus dengan Revan yang pria itu juga tak menyadarinya.
Sebelum Revan duduk, Liana menarik pelan baju pria itu, Revan menoleh dan Liana memberi kode untuk sedikit menjauh karena ingin berbicara sebentar.
Kedua nya pun berjalan sedikit menjauh dari para mafia itu.
"Ada apa?" Tanya Revan.
"Emm... Kau menepati janji semalam kan? Bahwa aku bisa menemui Ayah? " Ucap pelan Liana agar tak di dengar oleh mafia lainnya.
"Tentu saja, ada apa?"
"Aku mau, kau yang mengantar ku yah?" Pinta Liana, Revan menatap Liana dengan tatapan memohon itu membuatnya gemas dan tersenyum.
"Baiklah, aku yang akan mengantarkan mu" Liana tersenyum lebar gembira.
"Aaa makasih"
Para mafia yang menatap Revan & Liana pun sedikit aneh dan penasaran bagaimana bisa gadis itu berbicara layaknya sudah dekat bahkan mereka melihat senyuman lebar dari gadis itu, dan apa yang sedang mereka berdua bicarakan hingga rahasia begitu?
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Sinis Arion pada 2 sejoli itu. Revan & Liana menoleh dan kembali duduk di kursi masing-masing.
"Apa yang kalian bicarakan hingga rahasia begitu?" Tatapan intens dari Felix.
"Emm... Kita (melirik Liana) hanya merencanakan untuk healing"
"Oh, hanya berdua?" Smirk Lucas, Revan mengangguk sedangkan Liana hanya diam memainkan sendok.
__ADS_1
"Oke, awas jika berbohong" ancam Lucas sambil mengangkat pisau menunjuk Revan & Liana, gadis itu sudah merasakan jantungnya berdetak kencang sedangkan Revan malah tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.