Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia

Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia
Bab 42


__ADS_3

"Sebenarnya selalu begitu, cuma karena mereka sedang mengagumi mu jadi aku diam saja,"


Carlos melepas kacamata nya dengan kesal, "Kau mengagumi ku?" tanya nya.


"Aku mengakui bahwa kau tampan,"


"Bukan, aku tau itu. Tapi pernah kah kau mengagumi ku? Hanya mengagumi lah bukan menyatakan perasaan!" ucapan Carlos membuat Liana terdiam, soal perasaan ia tak bisa mengatakan apapun walaupun mereka sudah tau tentang perasaan nya jika di katakan langsung takutnya mereka akan sakit hati.


Carlos memalingkan wajahnya lalu menghidupkan mesin mobil ia tau respon Liana, jadi lebih baik diam saja dan kembali ke rumah.


.


Sesampainya di rumah, kedua nya keluar dari mobil, sepanjang perjalanan mereka hanya hening bahkan Carlos pun selalu memperlihatkan wajah datar nya dan tatapan tajamnya semakin mengerikan. Jadi mana mungkin Liana berani ingin berkomunikasi dahulu, mungkin karena perasaan nya tak di balas oleh karena itu Carlos selalu bad mood ketika membahas tentang ini, jika yang lain nya mengerti bagaimana perasaan Liana.


Mereka masuk ke dalam.


"Hay sayang," sapa seseorang membuat Liana menoleh, ternyata yang memanggil nya Lucas berdiri menggunakan lutut di sofa dan menaruh dagunya di sandaran sofa sembari tersenyum.


"Kau ingin ke kamar?" tanya nya.


"Iya, seperti biasa mengerjakan tugas,"


"Ck, memang tugas mu belum selesai juga?"


"Masih banyak,"


"Emang gak ada waktu istirahat?"


"Ada, setelah belajar,"


"Huh, belajar itu bagus tapi jika berlebihan juga gak baik. Ingat kesehatan mu,"


"Iya makasih, aku ke kamar dulu."


"Hmm,"


Liana tersenyum tipis lalu berjalan menuju kamar nya, Lucas hanya bisa menatap kepergian Liana.

__ADS_1


"Kapan kau bisa mencintai?" senyum tipis Lucas.


.


Malam nya, Liana sedang duduk di kursi belajar mengerjakan tugas di leptop, benda ini di belikan oleh Arion beberapa minggu yang lalu agar bisa memudahkan gadisnya belajar. Saat ini Liana sedang menyelesaikan skripsi kuliah, jadi proses nya lumayan lama untuk di kerjakan.


Ia belajar juga di temani cemilan ringan yang ada di lemari jajanan di kamar yang sengaja di buat oleh para mafia, pokoknya semua kebutuhan Liana tak pernah kekurangan.


"Sayang sudah belajar nya, ini sudah larut malam," seseorang pria masuk ke dalam kamar Liana yang tak lain adalah Elvano.


"Hmm, bentar lagi." fokus mengetik keyboard sambil mengunyah cemilan.


Elvano berdiri di belakang Liana lalu membungkukkan tubuhnya hingga wajah Elvano dekat dengan wajah Liana, Elvano melihat layar leptop yang banyak sekali tulisan hasil ketikan Liana.


"Masih banyak?"


"Hmm, masih banyak,"


Elvano menatap Liana dari samping, rambutnya di jepit ke belakang dan hanya menyisahkan rambut-rambut pendek di samping telinga Liana, dia selalu cantik di mata Elvano.


Cup


Cup


Karena jarak mereka sangat lah dekat ketika Liana menoleh b1bir mereka bertemu mana Elvano menutup matanya lagi. Liana membulatkan matanya lalu langsung menjauhkan diri dari Elvano, namun akibat reflek Liana hampir jatuh dari kursi untungnya dengan sigap dan santainya Elvano menahan tubuh Liana dengan memeluk bahu.


Kedua nya saling menatap, bukan pertama kalinya b1bir Liana di kecup.


"Masih belum terbiasa? Padahal ini bukan yang pertama kali loh," ucap Elvano menyadarkan Liana Liana mengedipkan mata beberapa kali lalu membenarkan posisinya.


"E–em, a–aku, ha–hanya terkejut saja," gugup Liana.


"Baiklah mungkin salah ku karena tiba-tiba mengecup, tapikan kamu duluan yang mulai?" menatap Liana, gadis itu membulatkan mata lalu menggelengkan kepalanya kuat.


"Ti–tidak! Itu karena tak sengaja dan jarak kita dekat" bantah Liana mengalihkan pandangan, Elvano terkekeh.


"Baiklah-baiklah, sekarang matikan leptop mu dan tidur," Elvano meng-control ‘S’ sebelum mengembalikan layar leptop ke layar utama, Liana membulat kan mata dan menahan tangan Liana yang ingin mematikan leptop nya.

__ADS_1


"Aku belum selesai,"


"Selesaikan besok, sekarang kau harus tidur," Elvano mengangkat tubuh Liana.


"Turunkan aku, kenapa harus menggendong ku?!"


"Kau lelet, aku tidak sabar pada orang yang lamban," Elvano menidurkan Liana di kasur namun tak langsung berdiri, setelah menidurkan Liana kedua tangan Elvano berdiri di samping Liana. Ibaratkan Elvano sedang mengunci pergerakan Liana di dinding lah.


"Emm?" bingung Liana.


"Aneh yah, bagaimana bisa kau tak memiliki perasaan pada ku dan yang lain? Sedangkan di luaran sana banyak sekali wanita, gadis seumuran mu tergila-gila pada ku. Apakah kita kurang tampan? Kurang perhatian? Dan apakah semua yang kita berikan pada mu kurang?"


Liana menggelengkan kepalanya cepat "Bu–bukan begitu ..."


"Lalu?"


Liana meneguk ludahnya kasar lalu menurunkan pandangannya, "A–aku, juga tidak tau," gumam Liana.


Elvano menghela nafas lalu mengusap p1pi Liana lembut, Liana menatap Elvano sampai kedua nya saling bertatapan.


Perlahan Elvano mendekatkan wajahnya, Liana yang tahu apa yang akan di lakukan oleh nya. Namun, jika memang begini caranya untuk cepat mencintai nya dan mereka mungkin dari sekarang ia tak perlu menghindar, dan memaksakan diri untuk belajar berusaha mencintai mereka.


Sebenarnya itu gak baik memaksakan diri demi seseorang yang bahkan belum pasti, ya gak?


Liana menutup matanya dalam, perlahan ia mulai mengikuti cara Elvano bermain. Jujur sih, ini pertama kali nya ia membalas dan bermain seperti ini jadi masih kaku.


Elvano tersenyum di sela-sela lum4t4n, kemudian ia melepas nya. Elvano tahu gadis ini memaksakan diri untuk membalas permainan nya, tapi ia tak sekejam itu agar bisa di cintai balik, biarkan dia mempunyai respon positif saja dulu baru ke inti.


"Tidur lah, besok kau kuliah jangan sampai telat," senyum Elvano mengusap p1pi Liana.


Awal nya Liana tak mengerti sikap Elvano tiba-tiba berubah, namun ia juga ke ingat besok kuliah.


Elvano merapihkan selimut setelah itu ia menatap Liana yang sedang menatap nya polos.


"Jangan menatap ku begitu, sekarang tidur lah jika tidak aku akan menerkam mu sekarang juga!"


Seketika Liana langsung membalikkan tubuh dan menutup matanya, Elvano terkekeh kecil dan pergi dari kamar Liana.

__ADS_1


__ADS_2