
Paginya.
Mata Liana tiba-tiba terpejam kuat dan merasakan sakit di dalam tubuhnya, ia terusik hingga membuat Kevin dan Arion terbangun.
"Liana? Putri ku..." Kevin.
"Aghk" ringis pelan Liana, Kevin dan Arion saling bertatapan terkejut dengan cepat Arion keluar dari ruangan untuk memanggil Jay.
"Sayang, tahan dikit yah dokter segera datang" Kevin mengusap kepala Liana. Dan yang lain pun terbangun mendengar suara bising.
"Ada apa dengan nya?!" Elvano.
"Dia terbangun kala merasa sakit" Kevin.
"Panggil Jay!"
""Tuan Arion pergi memanggil nya"
Terpaksa mereka menunggu ke datangan 2 pria itu, tak lama kemudian Arion datang dan menerobos kembali ketempat nya bersama Jay dan perawat nya.
Dokter Jay memeriksa keadaan serta mengecek luka yang ada di tubuh Liana, darah. Luka Liana mengeluarkan darah mungkin rasa sakitnya di rasakan hari ini, ia tersadar dari pingsan namun di sambut oleh rasa sakit.
"Suster bantu saya" Jay pada suster yang sudah siap membawa alat luka, Kevin menyingkir agar dokter dan suster ini bisa mengobati luka Liana.
"Arion, bantu pasien untuk duduk agar aku bisa melepas perban nya" ucap Jay, Arion pun segera melakukan apa yang di perintahkan Jay saat ini ia akan lakukan apapun agar gadis ini sembuh.
Arion perlahan mengangkat punggung Liana agar bisa duduk, walaupun Liana masih keadaan setengah sadar. Arion menyandarkan kepala dan tubuh Liana ke dada nya agar Jay bisa cepat melakukan tindakan pengobatan.
Jay melepas perban yang bercak merah dengan hati-hati namun tetap saja Liana terusik merasakan sakit bahkan sampai mengeluarkan air mata, Arion yang memeluknya sigap mengusap air mata yang mengalir di pipi Liana.
"Tahan sedikit yah" gumam Arion namun untungnya mereka tak mendengar gumaman Arion karena sibuk melihat Jay dan suster melakukan penggantian perban.
Jay dan suster membersihkan luka dari darah dengan hati-hati karena luka nya basah jadi agak susah mereka mengobati.
"Suster obatnya" ucap Jay, suster itu mengambil obat botol dan bubuk lalu memberikan pada Jay. Jay membuka tutup obat botol dan meneteskan ke kapas sebagai pembersihan terakhir dan di usapkan ke area luka.
Setelah itu Jay membuka obat bubuk dan di taburkan ke luka membuat Liana kembali meringis.
"Bisa pelan tidak?!!" bentak Arion.
"Ini memang efek nya, luka nya basah jadi rasa sakit dan perih itu wajar" Jay tak pernah merasakan sakit hati atau kesal atas bentakan saudaranya, baginya ini sudah lalapan setiap dekat dengan Arion.
Selesai menabur obat, Jay menutup luka menggunakan kain perban yang di lilit. Tapi Liana masih saja meringis merasakan sakit dan perih yang luar biasa di perutnya.
"Jay! Dia masih kesakitan!!" Arion.
"Itu hanya sementara hanya membutuhkan waktu beberapa menit, setelah itu rasa sakitnya akan hilang dan luka nya akan kering." ucap Jay, ia mengambil suntikan yang di isi obat cair dan menyuntikan ke selang infus.
"Tidur kan lagi pelan-pelan..."
Arion menidurkan kembali tubuh Liana secara perlahan agar tak ada rasa sakit yang menambah, Arion menyingkirkan rambut yang menghalang wajah dan mengusap pipi lembut Liana.
Jay dan yang lain menyaksikan itu saling bertatapan, sejak kapan Arion bisa bersikap lembut? Pikir Jay.
"Dokter, apa ini artinya putri saya sudah sadar?" tanya Kevin, Jay tersadar dari lamunannya.
"Ya, dia sudah sadar namun setelah sadar ia di sambut oleh rasa sakit jadi bisa di bilang pasien belum sadar sepenuhnya. Rasa sakit itu lah yang membangunnya dari pingsannya." jelas singkat Jay.
Kevin mengangguk-angguk paham, para mafia itu langsung menurunkan bahunya yang tegang menjadi lega, kirain gadis itu kenapa-kenapa.
"Saya sudah mengganti perban juga vitamin, jika ada terjadi sesuatu panggil saya. Saya permisi."
__ADS_1
"Silahkan dokter" Kevin, Jay dan suster pergi meninggalkan ruangan.
Kini Liana sudah tak merasakan sakit ntah dia pingsan lagi atau istirahat dengan tidur setelah merasakan sakit ia menjadi tenang menutup mata. Arion lega melihat ketenangan Liana ia menarik selimut sampai dada agar tidurnya semakin nyaman.
Yang lain kembali duduk dengan lega sembari menghela nafas.
"Gara-gara dia jantung ku berdetak kencang!" Lucas memijat batang hidungnya.
"Heem, tubuh ku langsung lemas seketika. Bikin takut aja" Elvano terduduk lemas.
"Ada bagusnya juga dia sudah sadar dengan cara bikin senam jantung orang" Edgar.
"Perut ku berdenyut" Revan memegang perutnya.
"Kau sih, udah tau luka masih basah malah spontan berdiri, untung nya kau kuat" celoteh Carlos pada Revan. Saat Liana terbangun tadi Revan yang tadinya masih tertidur spontan berdiri tak memikirkan lukanya, karena sangking khawatir nya.
Kevin hanya bisa melihat pria-pria mafia itu, ternyata dugaannya salah. Dulu ia kira mereka sangat keji pada orang-orang selain tampangnya yang serius dan seram, pasti tak mempunyai rasa ampun pada target mereka. Namun ternyata, di balik itu semua masih ada sifat layaknya manusia normal bahkan lebih dari kenormalan.
Mereka terlihat sangat khawatir dan takut akan terjadi sesuatu pada putrinya, apa mereka bisa menjaga Liana dengan baik setelah ini?
\*\*\*
Siangnya mereka kembali beraktivitas seperti sebelumnya, setia menunggu Liana sadar. Tiba-tiba suara ponsel milik Kevin berbunyi.
Nomor tak di kenal. Kevin tetap menjawab panggilan walaupun ia tak mengenal orang itu.
"Halo?"
"..."
Seketika Kevin terdiam dan melirik para mafia yang menatapnya dan menatap putrinya, Kevin berdiri dan keluar dari ruangan.
"Sepenting itu kah?" Carlos melirik pintu yang sudah ditutup oleh Kevin.
30 menit lamanya Kevin kembali keruangan dan kembali duduk di tempatnya tadi, Kevin memegang tangan Liana. Sebenarnya Arion tak mau bicara atau ingin tau cuma karena saat Kevin menatap Liana sendu ia menjadi penasaran.
"Ada apa?" datar Arion. Kevin melirik sekilas dan terdiam sejenak lalu menghela nafas.
"Dosen sekolah Liana menelpon, saya lupa semenjak Liana hilang saya tak memberikan izin. "
"Jadi?"
"Liana di scors"
Setelah itu hening. Selain Liana yang terlibat masalah mereka namun pendidikan gadis ini pun ikut kena masalah. Sekarang kuliahnya di scors karena tak ada keterangan kehadiran, namun tetap saja kesembuhan Liana adalah nomor satu soal urusan kuliah belakangan.
"Eugh" suara lenguhan membuat pandangan mereka teralihkan, Liana sudah sadar.
"Liana!" ucap mereka bersamaan.
Perlahan mata Liana terbuka dan masih merasakan denyutan di perutnya.
"Ayah" gumam Liana menahan sakit.
"Ayah di sini, kamu jangan banyak gerak luka mu baru saja di obati" Kevin.
Lalu pandangan Liana terarah pada sosok pria di sebelah berhadapan dengan Kevin yang menatapnya namun langsung mengalihkan pandangan, Arion.
Arion pun bangkit dari kursinya dan pergi begitu saja, sikap Arion sudah tak heran bagi yang lain.
"Sayang, kamu baik-baik saja? Ada yang sakit?" Carlos mengambil alih tempat Arion. Liana terdiam dan melirik Kevin, duh pakek ngomong sayang-sayangan lagi apa kata Ayah nanti?
__ADS_1
"Ada yang sakit?" tanya Kevin walaupun ia tau maksud dari tatapan putrinya.
Liana menggeleng samar padahal dia masih merasakan sakit dan perih. Lalu Revan pun berjalan mendekat kearah Liana dan berdiri di samping Carlos.
"Revan..." Gumam Liana kala melihat perban yang ada di perut pria itu, karena Revan tak memakai baju jadi hanya perban yang menutup lukanya.
"Aku lega kau baik-baik saja..." senyum Revan mengusap kepala Liana.
"...Kau."
"Iya, aku sama seperti mu tapi aku baik-baik saja. Bagaimana diri mu? Apa ada yang sakit?" tanya lembut Revan.
Liana mengangguk kecil.
"Pertama merasakannya akan seperti itu, juga perban mu baru saja di ganti dan obatnya lagi bekerja menyembuhkan" senyum Revan.
Carlos yang melihat itu melirik sinis, tadi ia bertanya pada Liana tentang keadaannya cuma di balas gelengan sedangkan dengan Revan malah mengangguk. Konspirasi macam apa ini?
"Sayang, mau makan apa? Nanti Ayah belikan" Kevin.
Liana menggeleng "Enggak."
"Kamu belum makan dari kemarin, semenjak Liana pingsan kau hanya mengandalkan obat-obatan." Kevin.
Lagi-lagi Liana menggeleng, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang aneh. Liana membuka selimut dan...
Oh My God.
Liana terdiam menutup rapat-rapat selimut membuat yang lain sedikit khawatir apakah lukanya kembali berdarah?
"Sayang, ada apa? Apa lukanya berdarah lagi?" tanya Kevin dengan khawatir.
Liana menatap sang Ayah dengan mata membulat lalu beralih menatap pria-pria yang kini pun menatapnya, jantung Liana berdetak kencang.
βπ΄βπππ πππππ πππ? π΄βπππ’ π πππππ‘π π ππ£ππ? π·πππππ ππππ’ ππ’? πΎπβππππππ πππ’ βπππ¦π ππππππ’πππππ π‘πππ π‘ππ πππ ππππππ?β batin Liana lalu wajahnya memerah.
"Kau baik-baik saja? Ayah panggil dokter yah?" Kevin hendak pergi namun di tahan oleh Liana, Kevin menoleh.
Liana memberi gerakan tangan agar Kevin mendekat, sang Ayah pun menurutinya dan mendekat.
"Ayah, dimana baju ku?" bisik Liana tepat di telinga Kevin. Kevin menatap putrinya yang sedang menahan malu, tapi ia juga lega di kira soal luka ternyata...
"Luka mu belum sembuh makanya di lepas, agar saat darahnya keluar lagi bisa langsung mudah di tangani" ucap Kevin, seketika wajah Liana tambah merah padam dia ngomongnya pelan-pelan agar tak di dengar yang lain malah secara terang-terangan.
Yang lain menghela nafas lega, sepanjang hari mereka selalu di buat tegang oleh gadis ini.
Liana menatap yang lain sambil menaikan selimut sampai menutup hidungnya membuat yang lain merasa gemas karena sikap malunya Liana.
"Tenanglah, kita gak liat apa pun kok " Carlos, padahal mah mereka semua lihat dari proses operasi hingga mengganti perban
"Gak liat? Lalu? Siapa yang perban luka ku? Di mana aku di perban?" tanya Liana sedikit meninggikan suaranya juga malu.
"Jangan keras-keras suara mu, nanti ngaruh sama luka mu!" tegas Carlos.
"Jawab dulu!" Liana.
"Kalo dokter mengganti perbannya di sini, lalu kenapa? Dan kita juga di sini tak pernah meninggalkan tempat!" kesal Carlos, Liana membulatkan mata.
"Udah lah, buat apa malu? Kau sudah jadi milik ku, tidak usah sok-sokan malu-maluan"
Liana kembali membulatkan mata dan melirik Kevin yang di mana Kevin pun melirik datar kearah Carlos.
__ADS_1
Namun Liana masih keadaan yang sama ia malah semakin menyembunyikan seluruh tubuhnya dalam selimut, bener deh jika bukan karena luka mereka sudah menerkam Liana karena gemas.
"Ayah akan cari makan," ucap Kevin melirik sejenak ke arah Carlos dan yang lain setelah itu pergi.