Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia

Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia
Bab 55


__ADS_3

Arion, Edgar dan Kenzo memutuskan untuk mengecek Ravin apakah ada hasil dari pelacakan nya atau tidak?


"Kenapa lama sekali, Ravin?!" kata Edgar.


"Maaf Tuan, kita tidak bisa menemukan apa pun sampai saat ini," jawab Ravin melepas henset bando berwarna hitam yang terhubung dengan komputer.


"Si4l!" Edgar memukul dinding.


"Apa tak ada cara lain?!" tanya Kenzo.


"Maaf Tuan, saya belum menemukan cara lain," Ravin.


"Tunggu saja, aku sudah memanggil seseorang untuk masalah ini," kata Arion.


"Sebenarnya siapa sih?" penasaran Kenzo.


"Mark,"


"Mark?!" Kompak Edgar dan Kenzo, Arion mengangguk.


"Mark? Seperti tidak asing?" Edgar.


"Tentu saja, dia yang pernah bekerja di elektronik tercanggih di dunia pada perusahaan SOI."


"Ah iya! Waktu itu ada rumor mengabarkan bahwa Mark melakukan penyalahgunaan komputer dan semua internet untuk kepentingan sendiri?" timbal Kenzo.


"Tidak. Dia tidak melakukan dengan sengaja namun ia diancam oleh seseorang, sebelum itu terjadi ia sempat menghilang hingga orang-orang curiga. Dia hilang karena diculik untuk menggunakan nya dalam berbisnis atau sekedar kepentingan pribadi," Arion.


"Itu berita sudah lumayan lama, dan sekarang Mark di tahan oleh polisi karena tuduhan itu," Edgar.


"Dia sudah bebas,"


"Apa?!" kompak Edgar dan Kenzo.


"Tunggu, sejak kapan?!" Kenzo.


"Semalam," senyum Arion misterius.


Edgar, Kenzo dan Ravin saling menatap, secepat itu kah? Tapi ada bagus nya, cuma semalam Arion tidak bilang bahwa ia mengeluarkan seseorang dari jeruji penjara.


"Ravin, kau terus lakukan tugas mu!" Arion bangkit dari duduk nya.


"Siap, Tuan!"


"Kau mau kemana?" tanya Kenzo.


"Menemui nya ...."


•••

__ADS_1


Arion, Edgar dan Kenzo sedang berada di markas. Tidak hanya mereka, ternyata ada 2 pria di hadapan mereka yang tengah berdiri.


"Hey, John. Apa yang kau lakukan di sini?" datar Edgar.


"Ck, tidak tau berterima kasih sekali," kata nya.


"Kita menyuruh Mark datang bukan dengan mu juga,"


"Ya gak apa sih,"


"Biarkan saja!" Arion.


Johnny tersenyum meledek ke arah Edgar, pria itu melirik sinis.


"Duduk lah," suruh Arion pada Mark. Pria itu mengangguk dan duduk di kursi tunggal.


"Aku sudah membebaskan mu, jadi apakah kau bisa melakukan sesuatu untuk ku?"


"Tentu, Tuan. Tapi, jika untuk merugikan orang lain saya lebih baik di penjara lagi,"


"Tidak, aku tidak meminta mu untuk menyalahgunakan kekuasaan. Aku hanya ingin kau menemukan seseorang menggunakan alat pelacak, hanya itu saja. Bisa?"


"Soal itu kemungkinan bisa, namun itu tergantung pada orang nya apakah dia membawa alat elektronik atau tidak?"


"Apakah tidak bisa di lacak tanpa ada nya alat itu?"


"Emm ... sebenarnya bisa, namun itu membutuhkan waktu yang lama,"


"Tapi, ada satu cara untuk melakukan pendeteksian radar,"


"Bagaimana?!" penasaran Kenzo.


"Menggunakan sampel, ntah itu barang ataupun sidik jari yang berhubungan dengan nya. Kebetulan juga sebelum saya di tangkap polisi, saya membuat alat itu untuk mengetahui siapa yang menjebak saya namun setelah selesai membuat saya tidak sempat untuk melakukan penyelidikan, karena polisi sudah mengepung saya."


"Gak ada beda nya! Melacak mereka saja tidak bisa apalagi mencari sampel? Astaga!" Edgar mengusap wajahnya gusar.


"Kalo begitu, harus kah kita kembali ke tempat di mana rumah Arvin tinggal dulu? Mungkin ada sesuatu di sana yang membantu kita dalam melacak," saran Kenzo.


"Jangan menunda, sekarang juga kita ke sana!"


"Serius?!" tak percaya Edgar dan Kenzo.


"Johnny! Kau antar dia ke lab komputer dan gunakan teknologi mu juga yang ada di perusahaan untuk menyalakan radar," suruh Arion.


"Oke!"


Arion pun pergi. Edgar dan Kenzo saling menatap kemudian menyusul.


"Kau bisa gunakan mereka untuk membantu mencari siapa yang menjebak mu, Mark," kata Johnny.

__ADS_1


Mark menoleh, lalu mengangguk paham.


•••


PERCEPAT!


Selesai kuliah Liana berdiri di depan gerbang karena tumben mereka tak menjemput nya, biasa nya setelah keluar dari gerbang, mobil para pria itu sudah stay menunggu.


"Mana sih dia? Kata nya mau jemput? Panas banget lagi!" kesal Liana mengibaskan tangan.


Tanpa disadari, ada seseorang misterius berdiri di pohon besar depan gerbang sekolah. Orang itu menggunakan jaket bertudung hitam, topi, dan masker. Ia memantau Liana dari jarak yang lumayan jauh.


Liana celingukan dengan kesal, pria memang tak bisa menepati janji nya! Namun Liana merasa tidak enak, ntah perasaan apa ini rasa nya seperti ada seseorang yang mengawasi nya namun di lihat-lihat lagi di sini tidak ada orang selain diri nya.


"Ah, mungkin perasaan ku saja," gumam nya.


Tidak lama kemudian, mobil sport datang di depan Liana. Ini dia jemputan nya datang. Liana membuka pintu mobil masuk ke dalam.


"Lama banget sih?! Panas tau, capek aku nunggu nya!" kesal Liana.


"Maaf sayang, tadi aku ada urusan sedikit," kata Elvano


"Udah cepetan, aku mau pulang,"


"Baiklah, kita pulang," mengemudikan mobil.


Pria misterius itu menatap mobil yang di tumpangi 2 orang tadi.


Sesampainya di rumah Elvano dan Liana masuk ke dalam. Seperti nya yang lain tak ada di rumah dan sibuk dalam tugas masing-masing.


"Sayang, apa nanti malam kamu sibuk?" tanya Elvano.


"Aku tidak tahu,"


"Jika tidak sibuk, aku mau kita bersantai menghabiskan waktu sebentar,"


"Ntahlah, kita lihat nanti. Aku mau ke kamar,"


"Baiklah," lesu Elvano.


Liana pun menaiki tangga namun ia berhenti sejenak kemudian berbalik.


"Dokter Jay sudah pulang?"


"Iya, pagi tadi pulang,"


"Ah begitu ...." setelah itu Liana kembali menaiki tangga.


"Huh, kenapa si Jay yang di tanyakan?!" kesal Elvano.

__ADS_1


Pada malam hari Liana merasa malas untuk belajar karena efek datang bukan jadi gak fokus buat mikir, jika tidak paham bawaannya emosi terus. Ia pun memutuskan untuk turun dari lantai atas mencari udara segar yang menenangkan pikiran.


__ADS_2