Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia

Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia
Bab 8


__ADS_3

Mobil yang ditumpangi oleh Liana dan para mafia itu sampai di sebuah rumah yang sangat besar lebih dari gedung yang semalam Liana datangi, gadis itu tak henti-hentinya menatap rumah dan banyak nya penjaga di latar rumah itu.


“𝐴𝑠𝑡𝑎𝑔𝑎, 𝑎𝑝𝑎𝑘𝑎ℎ 𝑖𝑛𝑖 𝑡𝑒𝑚𝑝𝑎𝑡 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑡𝑖ℎ𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑛𝑡𝑎𝑟𝑎? 𝑌𝑎 𝑎𝑚𝑝𝑢𝑛, 𝑖𝑛𝑖 𝑏𝑎𝑟𝑢 𝑝𝑒𝑟𝑡𝑎𝑚𝑎 𝑘𝑎𝑙𝑖𝑛𝑦𝑎 𝑎𝑘𝑢 𝑚𝑒𝑙𝑖ℎ𝑎𝑡 𝑡𝑒𝑛𝑡𝑎𝑟𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑒𝑑𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖 𝑙𝑎𝑡𝑖ℎ. 𝑆𝑒𝑟𝑎𝑠𝑎 𝑎𝑘𝑢 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑟𝑒𝑠𝑖𝑑𝑒𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑎𝑟𝑢 𝑠𝑎𝑗𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑟𝑎𝑡 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑝𝑒𝑠𝑎𝑤𝑎𝑡, 𝑎𝑎ℎℎ 𝑎𝑝𝑎𝑘𝑎ℎ 𝑖𝑛𝑖 𝑚𝑖𝑚𝑝𝑖?” batin Liana sambil senyum-senyum membayangkan bahwa dirinya adalah orang yang terpenting di sini hingga banyak nya penjaga di sini.


Felix yang melihat itu mencondongkan tubuhnya menatap Liana dari samping, terlihat gadis itu tersenyum sambil menutup matanya, awalnya Felix tak mengerti namun ia malah tersenyum miring.


"Sedang membayangkan kau jadi Ratu?" Bisik Felix membuat Liana terkejut membulatkan mata, astaga sangat memalukan sekali jika terciduk.


Liana memalingkan wajahnya yang menahan malu, Felix malah tertawa kemudian merangkul Liana.


"Kau tenang saja baby girl, mulai sekarang kau akan jadi ratu di sini, dirumah ini. Semua fasilitas yang ada semuanya milik mu, termasuk diri ku juga milik mu" senyum Felix menunjuk dirinya, Liana pun melepaskan rangkulan Felix dan bergeser sedikit.


"Mohon maaf Tuan, saya hanya membayangkan sesuatu bukan berharap untuk menjadi ratu. Saya tak baper dengan ucapan lelaki yang mengatakan hal itu, pada akhirnya meninggalkan kekasihnya demi wanita lain" ketus Liana seolah-olah tau sifat buaya darat.


"Apa kau baru saja membandingkan diri ku dengan lelaki yang pernah kau temui?"


" Saya tak membandingkan siapa pun, karena semua lelaki sama saja " ucap Liana menatap ke depan, Felix menatap gadis yang ada di sampingnya ia tau bagaimana sifat lelaki tapi kan tak semua!


"Kau mau di hukum rupanya!" Felix menarik tengkuk leher Liana dan mencium bibir Liana, gadis itu membulatkan matanya menahan dada Felix dengan lengannya.


Kemudian Felix menatap Liana yang masih membulatkan mata.


"Masih kurang? Akan aku lakukan lebih setelah kita masuk ke dalam, ayok!" menarik tangan Liana.


Ia berusaha melepaskan diri sambil menahan kakinya agar tak melangkah. Melihat keduanya membuat para mafia itu menggelengkan kepala dan mengikutinya.


Salah satu pria berseragam hitam dan rambut di tata rapi dan sangat tampan membungkuk pada Felix kemudian diikuti hormat dari penjaga lainnya.


"Selamat datang kembali, Tuan Felix" Ucapnya, Felix mengangguk.


"Tuan, saya sudah mengirim sebagian orang membantu tugas yang ada di Negara S, negara R, Eropa hingga AS" ucapnya


"Baiklah, kau sudah mengerjakan tugas dengan baik akan kita urus sisanya"


"Siap Tuan, dan kemarin kita mendapat serangan di markas senjata yang ada di negara R"


"Kenapa kau tak memberitahu ku?"

__ADS_1


"Maaf Tuan, awalnya saya ingin memberitahu Tuan dan yang lain namun tak membutuhkan waktu lama mereka sudah kalah"


"Apa kau menangkap salah satunya?"


"Tentu Tuan, dia sedang ada di tahanan"


"Bagus, jangan sampai lepas" Ucap Felix, pria itu pun membungkuk.


"Lepasin aku, Tuan!" Memberontak.


"Kau ini, diam sejenak bisa tidak?"


"Jangan menarik ku, ini sakit!" Ucap Liana memegang tangannya, Felix pun melepaskan cengkraman nya. Gadis itu mengusap pergelangan tangannya kemudian melirik sinis.


"Maaf Tuan, siapa gadis ini?" Tanya pria yang ada di hadapan Liana & Felix.


"Oh ya, dia... Liana, dia akan tinggal disini. Jadi, kau harus mematuhi apa yang dia ucapkan seperti apa yang aku perintahkan."


"Saya mengerti, Tuan"


"Baby girl–"


"Oke! Dia adalah Yohanes, orang kepercayaan kita dan pemimpin anak buah yang ada di sini" Felix, Liana tersenyum pada pria di hadapannya kemudian membungkukkan badannya.


"Hey, apa yang aku lakukan?" Tanya pria yang berada di belakang Y/n, Vino.


"Memberinya hormat lah" para mafia itu saling menatap bahkan pria yang bernama Yohanes atau di panggil Yohan.


"Kau ini, jika dengannya punya rasa hormat sedangkan dengan ku kau membantah" Felix, Liana menatap malas namun ia berusaha biasa dan membungkuk kecil.


"Terlambat!" Kesal Felix.


Liana tak memperdulikan malah lebih baik natap Yohan yang begitu tampan dan tinggi dan di salah satu telinganya seperti sebuah benda yang menempel layaknya henset bluetooth. Liana hampir terpesona dengan wajah paripurna dari Yohan, Ahh sangat tampan.


"Berhenti memandangnya!" Felix menatap tajam.


Gadis itu seketika pura-pura tak melihat sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya kedepan & kebelakang, sebenarnya Yohan yang melihat mereka gemas namun ia berusaha profesional dengan tidak menatap mereka.

__ADS_1


"Kemari lah!" Felix pun kembali menarik tangan Liana.


"Aww lepasin, sakit!"


Padahal Felix lebih tampan dari pada Yohan.


****


"Lepasin, sakit... Kau kasar sekali!"


Astaga Liana kau keceplosan dalam berbicara, tapi ia tak sadar dengan ucapannya lagian Felix tak menanggapi nya.


Felix membawa Liana dengan cara menaiki lift karena rumah ini terlalu besar jika menaiki tangga akan sangat lelah, sama saja mereka sedang olah raga menaiki tangga.


Felix tak memperdulikan Maid-maid yang menatap nya dan seorang gadis yang di bawa Tuannya, di rumah besar ini selain anak buah yang banyak seperti pasukan tentara namun Maid pun juga banyak yang mempunyai tugas masing-masing.


Ting~


Bunyi lift setelah sampai di tujuan yang di mana Felix menempatkan lantai, ia terus menarik sang gadis tanpa terlepas seinci pun.


"Lepaskan aku, aku bisa jalan sendiri kok."


"Diam lah, jangan sampai membuat ku marah kau tau siapa yang menjadi lawan mu?"


"I–iya, aku minta maaf, maafkan aku... Tapi tolong lepaskan pergelangan ku, panas" rintih Liana membuat Felix menghentikan langkah dan berbalik, terlihat gadis itu merasa kesakitan karena ulahnya.


"Makanya nurut!"


"Aku sudah nurut, tapi ka– anda terus menarik tangan ku" ucap Liana dengan cepat mengubah kata formal pada Felix.


"Dan sekarang kau tau kan? Jika sedikit saja kau membuat ku kesal, aku bisa saja melakukan hal yang lebih untuk menyakiti mu!" Ancam Felix, Liana menundukkan kepalanya sambil memegangi pergelangan tangan yang memerah.


Felix menghela nafas berat kemudian meraih tangan yang memerah karena ulahnya,


"Aku tidak tau cara mengobati luka, kau tunggu sini" Felix menarik lembut Liana untuk duduk di kursi lantai atas di mana hanya ada 2 kursi saling berhadapan dan meja bundar kecil.


"Kau tunggu sini, jangan kemana-mana!" Perintahnya, lalu Felix pergi yang ntah akan kemana.

__ADS_1


"Dia terkadang kasar kadang juga lembut, bahkan bukan hanya dia melainkan yang lain juga. Tapi aku juga takut walaupun selembut apa mereka, bisa saja mereka memanfaatkan ku agar bisa membunuh ku. Huft... Ayah, aku merindukan mu" gumam Liana menundukkan kepalanya.


Tak lama kemudian Felix kembali dengan Maid yang berjalan mengekori nya tak lupa di tangannya membawa kotak kecil merah dan berjalan cepat.


__ADS_2