
"Jemput Liana ku" Revan memasukan ponselnya, dia punya ponsel cadangan kala ponselnya hilang atau di pinjam, bukan hanya dia saja namun yang lainnya pun begitu dan di masing-masing ponsel memiliki fungsi yang berbeda.
"Setelah menemui gadis itu, cepat lah kembali!"
"Why? Kau merindukanku?" Goda Revan.
"Sangat menjijikkan, aku merindukan gadis itu" sinis Elvino, Revan tertawa geli dan keluar dari ruangan itu.
****
Liana keluar dari kelasnya setelah pelajaran selesai ia kepikiran bagaimana cara ia pulang? Ia tak punya uang untuk naik taksi atau bus, mana ponsel Revan ia bawa untuk belajar, jika pulang ke rumah ayahnya, apa boleh? Tapi, jika ia ke rumah ayahnya tanpa memberitahu Revan bisa-bisa kena marah belum lagi pria lainnya.
"Dia kan gak jemput, tidak apa kali pulang ke rumah ayah jika dia marah aku bisa jelasin semuanya, dia kan gak kayak pria kejam itu" Gumam Liana dan ia memutuskan untuk kembali ke rumah nya dan sang ayah.
BIP!
Liana terkejut mendengar suara klakson yang secara tiba-tiba, gadis itu melihat sebuah mobil mewah hitam mengkilap berjalan perlahan mendekatinya, Liana masih dengan membulatkan matanya dan memegangi dadanya di mana jantungnya seperti di buat jedag-jedug.
Kaca mobil terbuka nampaklah seorang pria tertawa, Liana menajamkan tatapannya kala tau siapa dia. Revan Franklin!
"Kau sangat menggemaskan, kemari lah kita pulang"
"Menyebalkan! Bisa tidak kau jangan membuat ku terkejut?" Kesal Liana membuat Revan kembali tertawa.
"Baiklah-baiklah maaf kan aku, sekarang masuklah mereka merindukan mu"
" Siapa yang kau maksud? " Sinis Liana
"Siapa lagi jika bukan 8 pria yang kini tinggal di rumah mewah itu, termasuk diri ku"
"Aku ingin ke rumah ayah" Liana pun melangkah pergi, Revan menjalankan mobilnya secara perlahan mengikuti Liana dari samping.
"Kau ingin tinggal di sana?"
__ADS_1
"Tanpa kau suruh pun aku akan melakukan nya dari waktu itu" sahut Liana tanpa menoleh.
"Baiklah, sekarang masuklah ikut bersama ku"
"Kemana?"
"Kau bilang ke rumah ayah mertua? Aku akan menghantarkan mu"
"Serius?" Liana menghentikan langkahnya menoleh ke Revan secara bersamaan juga Revan memberhentikan mobilnya.
"Kenapa tidak? Aku akan menuruti kemauan mu jika kau juga menuruti kemauan ku" gadis itu terdiam tak menatap Revan ia malah berdiri dengan matanya melirik sana-sini, tapi yah jika di pikir-pikir keduanya saling menguntungkan ia bisa bertemu dengan sang ayah dan... Revan juga... Ya begitulah.
Revan memiringkan kepalanya sambil menaikkan satu alisnya melihat Liana diam dengan pikirannya.
Revan terkekeh " Sayang, kenapa diam? Mau ketemu ayah mertua ku gak? "
Y/n membulatkan mata "A–apa?! Sayang?"
"Iya sayang, ada apa?" Senyum Revan.
"Nah gitu dong dari tadi, masuklah... Sayang" Kekeh Revan, Liana menatap sinis kemudian berjalan ke pintu sebelah sambil mendumel kesal, Revan tak henti-hentinya terkekeh melihat tingkah gadisnya yang makin lama makin menggemaskan walaupun ada sifat kecerewetan nya.
****
Sesuai ucapan Revan, ia menghantarkan Liana ke rumah sang ayah tapi gadis itu malah menyuruh Revan tidak ikut masuk malah di suruh diam di mobil, awalnya pria itu tak setuju namun bukan Liana namanya jika belum mendapatkan kemenangan. Dengan rasa sedikit kesal Revan terpaksa mengikuti perintah gadisnya, makin lama makin menyeramkan juga waktu itu gadis ini lugu, pendiam dan penakut ternyata jauh dari pandangan perkiraannya.
"Ayah..." Panggil Liana kala memasuki rumah.
"Liana!" seru sang ayah, Liana pun memeluk ayahnya.
"Ayah, aku senang bisa menemui ayah lagi" senyum Liana.
"Ayah juga, sayang" Mengusap punggung Liana, keduanya melepaskan pelukan.
__ADS_1
"Tapi sayang hanya sebentar karena Liana harus pergi ke tempat pria yang mengantar ku ke sini tadi"
"Kenapa?"
"Ayah, lain kali aku akan menceritakan semuanya untuk hari ini aku harus cepat-cepat pergi. Liana takut jika pria yang kejam itu memarahi ku"
"Pria kejam?!" Membulatkan matanya.
"Iya, tapi tenang kok kan ada Revan dia selalu menjaga ku. Oh ya aku mau ambil semua buku kuliah ku dan cas hp untuk bisa belajar di rumah mereka..."
"I–iya sayang, ambil lah" Liana tersenyum kemudian
sedikit berlari menuju kamar. Sang ayah melihat itu menatap sendu karena merasa gagal menjadi seorang ayah untuk putri kesayangannya.
"Maafin ayah, Liana... Gara-gara ayah mu ini kau jadi terlibat hingga di tahan oleh pria kejam itu, ayah tak bisa membayangkan bagaimana jadinya kau mengetahui siapa mereka sebenarnya" gumam nya.
Beberapa menit kemudian Liana kembali dengan membawa tumpukan buku didepan wajahnya.
"Mana, ayah bantu bawa" sang ayah menghampiri putrinya yang membawa banyak tumpukan buku.
"Tidak apa kok, Liana bisa ini sudah terbiasa. Ayah maaf gak bisa peluk karena tangan Liana penuh dengan buku-buku ini... Kalau begitu Liana pergi. Tenang saja, Liana akan datang jika mereka memberikan waktu untuk bertemu dengan ayah..." Suara Liana terbata-bata seperti mengangkat beban berat.
"Tapi,..."
"Liana pergi, dadah ayah... Liana sayang ayah" ucap Liana keluar dari rumah, sang ayah hanya menggelengkan kepalanya sifat putrinya yang keras kepala memang sudah biasa terkadang ia merasa khawatir apa pun yang dilakukan putrinya selalu mengkhawatirkan.
Revan yang melihat itu bukannya membantu malah menatap dengan menaikkan alisnya.
"Hay! Tolong bukakan pintu mobilnya! Berat nih!" Kesal Liana, Revan pun mendorong pintu mobil hingga terbuka baru lah Liana masuk memangku buku-bukunya, terlihat Liana bernafas tersenggal-senggal.
"Capek?" Tanya Revan, Liana melirik malas.
"Ya iya lah!" Ketusnya.
__ADS_1
"Salah siapa aku tak di izinkan masuk"
"Sudah cepatlah! Aku capek!" Titah Liana, Revan pun menurutinya.