
Di kediaman para mafia, Edgar sedang membantu mengobati luka Revan yang sering mengeluarkan darah tak seperti biasa. Karena apa? Karena Revan tak bisa diam dan terus jalan sana jalan sini sampai lupa dengan lukanya.
"Sudah! Setelah ini kau jangan banyak bergerak, jika terus-terusan gini luka mu tak akan sembuh!" geram Edgar menutup kotak p3k dengan brutal.
"Bagaimana bisa, Edgar?! Aku khawatir sama Liana! Sampai sekarang dia tak ada kabar dengan kondisi nya!" balik mengotot.
"Dia baik-baik saja! Sudah, kau terbaring lah di sini awas jika menyentuh lantai seujung kuku aku tak segan-segan mer0bek luka mu!" ancam Edgar lalu pergi meninggalkan Revan di kamar nya.
Revan hanya bisa pasrah dengan kesal lalu menutup wajahnya dengan lengan yang di tumpu di atas wajahnya.
Sudah 1 hari ia tak mendengar kabar dari Liana di tambah luka tebakan itu apakah sudah sembuh atau sebaliknya? Ia takut saja jika luka tembakan itu semakin parah apalagi dia itu seorang gadis, jika laki-laki sih it's okay bisa kuat menahan sakit. Tapi kan tidak semua wanita sekuat lelaki? Apalagi di bandingkan dengannya yang sudah terbiasa terkena tembakan bahkan sampai darah mengalir pun tetap biasa saja.
.
Sedangkan di sisi Arion tengah duduk menatap ponselnya yang mati, ia juga penasaran dengan keadaan Liana sudah 1 hari ia tak menelpon karena ia tau bahwa gadis itu harus lebih banyak beristirahat dan jika menjenguknya Arion takut jika Liana kembali takut dengannya. Anggap saja kemarin Liana baik karena ia telah menyelamatkan nya dan juga Ayah nya.
Namun, Arion juga tak bisa cuma diam memikirkan keadaan Liana mana tau lah jika tidak bertanya. Arion menyalakan ponsel nya untuk menghubungi Kevin saja, jika menghubungi Liana langsung takutnya mengganggu istirahat.
Panggilan masuk awalnya Arion ingin memulai pembicaraan namun langsung di sahut oleh Kevin.
βπ΄ππ πππ ππ’ππ?β
"Emm, bagaimana keadaan Liana?" terdengar kaku Arion bertanya.
βππ’ππβ πππππππ, ππππ’π π‘ππππππππ πππ ππππππππ πππ ππππ‘ππ π ππ‘πππ πππππ.β
Mendengar itu Arion menunduk kan kepala ia merasa bersalah karena sudah melibatkan masalahnya dengan musuh, namun ia juga emosi pada pria bernama Arvin bisa-bisanya gadis polos seperti Liana harus merasakan benda api yang masuk ke dalam tubuhnya.
"Maaf," gumam Arion.
βπΏπππ’, πππππππππ πππππππ ππ’ππ π ππ£ππ?β
"Dia baik-baik saja,"
βπ»ππ, πππππβ ππ’ππ πππππ πππππππππ ππππππ πΏππππ?β
"Tidak, biarkan saja dia istirahat aku akan bertanya tentang kondisi nya lewat kau."
βπ΅πππππβ,β
"Aku tutup telpon nya,"
βπΌπ¦π.β
Tut.
Arion melempar ponselnya ke kasur dan mengusap wajahnya gusar, berharap saja bahwa Liana akan baik-baik saja.
\*\*\*\*
Satu minggu berjalan, kondisi Liana sudah membaik dan luka yang di milikinya juga sudah bisa membuat nya berjalan sana-sini. Dan saat ini pula Liana baru saja selesai membuat makanan di dapur namun sepertinya bukan memasak makanan melainkan cemilan, seperti puding, kue, dan tar buah yang ia masukan ke dalam wadah bertingkat.
Kevin datang melihat putrinya sedang berada di dapur menata wadah makanan.
"Banyak sekali cemilan nya, dan mau di bawa ke mana?" tanya Kevin.
Liana menoleh dan tersenyum tipis, "Ayah, sudah 1 minggu aku beristirahat bahkan sampai tak kuliah, jadi aku ingin membuat jajanan untuk emm ... para mafia itu sebagai ucapan terima kasih." senyum Liana namun ia gemetar saat menyebut βΉmafiaβΊ.
"Apakah diri mu baik-baik saja jika melakukan ini? Kalau begitu biar Ayah yang akan menghantarkan ini pada mereka saja sebagai gantinya,"
"Enggak Ayah, aku saja ... lagian setelah menghantarkan ini dan mengucapkan terima kasih aku kembali lagi kok,"
"Ayah cuma khawatir saja,"
Liana menggelengkan kepalanya "Oh ya aku lupa tempat mereka, apakah Ayah bisa mengantar ku ke sana?"
"Tentu saja, ayo kita pergi."
Liana mengangguk namun tetap saja Kevin sedikit memapah Liana berjalan agar luka nya tak membuat Liana sakit lagi.
__ADS_1
.
Kevin dan Liana sampai di rumah mewah milik mafia itu menggunakan taksi, ke-dua nya berjalan pada gerbang besar dan di sana ada 2 penjaga.
"Permisi," ucap Liana pada penjaga itu, 2 pria berseragam menoleh.
"Kalian siapa?" tanya salah satu dari mereka.
"Saya Liana dan ini Ayah saya, emm ... Saya ingin bertemu dengan Revan dan lainnya,"
"Apakah kau ada janji?"
Liana melirik Kevin juga ia lupa tak memberitahu Revan dahulu, namun Kevin langsung berjalan maju di depan Liana.
"Dia gadis milik Tuan Arion dan yang lain, saya sudah menghubungi mereka 1 hari yang lalu!" Kevin, Liana sempat tercengang ucapan sang Ayah, apa? Gadis milik Tuan Arion dan yang lain? Dan juga kapan Kevin mengabari pada mereka bahwa dia akan datang?
2 penjaga itu saling menatap lalu mengangguk dan membuka kan gerbang, Liana sempat terdiam namun Jinhwan merangkul pundak nya untuk berjalan masuk.
Setelah sampai di depan rumah mewah Liana meneguk ludahnya ke ingat di mana kejadian-kejadian sebelumnya, tapi jangan takut berkat mereka juga lah nyawanya selamat.
"Jika kau takut, biar Ayah saja ..."
"Gak kok, kita jangan menunggu lama agar kita bisa pulang," Liana menaiki tangga untuk sampai di depan pintu, Kevin hanya menghela nafas pendek dan menyusul putrinya.
"Siapa kalian?" 2 pria menghadang jalan Liana dan Kevin.
"Kita ingin bertemu dengan Tuan kalian ..." Liana.
"Ada janji?"
"Ya, kita membuat janji 1 hari yang lalu,"
"Baiklah, kalian bisa menunggu selagi saya memberitahu pada Tuan kami." Liana mengangguk dan salah satu dari mereka masuk ke dalam.
Tak lama kemudian penjaga itu kembali bersama seorang pria bermata tajam serta rambut acak-acakan, dan itu Carlos. Pria itu awalnya bersikap arogan namun kala ia melihat seorang gadis di hadapannya ia tersenyum tak percaya bahwa Liana akan datang, awalnya ia ingin langsung memeluk Liana karena sangking rindunya, namun di tahan oleh Kevin.
"Luka nyabelum sembuh," ucap Kevin, Carlos tak menoleh pada Kevin, masih fokus menatap Liana.
Liana tersenyum samar lalu menunduk menatap wadah makanan di tangannya.
Carlos menoleh pada penjaga pintu rumahnya dengan tatapan tajam.
"Lain kali jika mereka datang jangan menunggu perintah dari ku!!! Biarkan dia masuk!!" bentak Carlos.
"Maβmaaf , Tuan kami tidak tau," ucap 2 penjaga itu membungkuk.
"Jika sampai terulang lagi saat itu juga kalian lenyap!!" tentu saja ucapan Carlos membuat Liana semakin gemetar, mendengar kata mafia saja sudah panas dingin.
Carlos menoleh pada Liana dan mengubah ekspresi dengan senyuman.
"Maaf yah, lain kali jika ingin datang tinggal masuk saja,"
Liana mengangguk.
"Ayo masuk, kau belum terlalu sembuh juga."
"Iya," mereka pun masuk ke dalam rumah.
Liana dan Kevin duduk di sofa begitu pun dengan Carlos rasanya ia tak bisa melepas pandangan pada Liana.
"Bagaimana ke adaan mu selama 1 minggu ini?" tanya Carlos
"Aku baik," senyum tipis.
Carlos mengangguk "Maaf, kau ikut terlibat menjadi korban karena kita,"
"Tidak apa kok, tapi kalian juga sudah menyelamatkan nyawa ku,"
"Tentu saja, mana mungkin aku membiarkan mu dengan keadaan separah itu,"
__ADS_1
Liana tersenyum tipis "Emm, diβdi mana yang lain?"
"Ada, kau ingin bertemu dengan mereka?"
"Tiβtidak juga, taβtapi aku juga ingin mengatakan sesuatu pada mu dan yang lain. Jaβjadi aku ingin sebagian dari kalian ada untuk mendengarkan ucapan ku," ucap Liana terbata-bata.
"Oh tentu saja, aku akan memanggilkan mereka semua,"
"Tiβtidak usah semua, cukup 2/3 saja,"
"Jika menurut mu tidak penting, tapi bagi ku apa pun yang ingin kau katakan semua nya penting dan itu juga keinginan mu. Tunggu sebentar, aku akan memanggil kan mereka." Carlos tersenyum lalu pergi.
Kevin menatap ke punggung Carlos βπ΄ππ’ π ππππππ π¦ππππ ππππ ππππππ πππ π πππππππ πππ πππππππ‘ππ πΏππππ, π€ππππ’ππ’π ππππππ πππππ πππ π‘πππ¦π πΏππππ ππ πππππ π ππ‘π’πππ πππβ ππππππ. π½πππ πππ’ πππππ π π‘ππ πβππ€ππ‘ππ π‘πππ‘πππ πΏππππ ππππππ ππππππ πππππππ ππ¦π ππππππ ππππ π πππππ‘π π¦πππ πππ’ ππππ’πππ.β batin Kevin melirik Liana.
Liana dan Kevin tiba-tiba mendengar suara riuh seperti hentakan kaki di lantai, dan itu adalah para mafia datang dengan tergesa-gesa. Liana yang melihat itu terheran apalagi saat di tangga mereka berlari, takutnya mereka jatuh secara bersamaan.
"Huh, Liana!" seru Elvano, Liana hanya tersenyum kaku dan mengangguk sembari menggaruk lehernya.
"Kenapa kau tak memberitahu ku jika kau akan datang?" tanya Felix langsung duduk berhadapan dengan Liana.
"Aβakuβ"
"Kenapa kau tak memberitahu ku?!!" Edgar mencengkram baju Carlos.
"Apa-apaan sih?! Lagian dia belum lama duduk!!" Tak kalah Carlos.
"Cukup!!" sentak Kenzo "Senang kau datang, namun apakah kau sudah sembuh sampai datang ke sini tanpa memberitahu kami?" Lanjutnya.
Liana menggelengkan kepalanya "Aku baik-baik saja,"
"Maaf, bukanya kita tak mau menjenguk mu cuma waktu istirahat mu harus lebih banyak dari 1 minggu." Lucas.
"Iya, kau tau kita cuma bisa menanyakan keadaan lewat Ayah mu," Edgar
"Tidak apa,"
"Lain kali jika ingin ke sini beritahu aku atau yang lain agar kita bisa menjemput mu jadi kau tak capek-capek datang sendiri walaupun bersama Ayah mu," Felix.
Liana mengangguk paham, juga ia tidak tau kapan lagi akan menginjakkan kakinya di rumah mereka setelah mengetahui bahwa mereka mafia.
"Jadi, apa yang ingin kau katakan?" Kenzo.
"Emm ... memang dunia kalian terlalu kejam untuk ku, dan aku juga belum terbiasa dengan kalian. Walaupun kalian menyeret ku dalam peperangan namun kalian juga sudah menolong ku mungkin jika kalian membiarkan ku tertembak aku pasti tak akan selamat."
Beberapa detik mereka terdiam, "Hmm, sudah ku duga itu akan terjadi. Dan keselamatan mu itu memang no 1, jadi masalah apa pun jika menyangkut diri mu aku selalu sigap membantu mu." Elvano.
"Aku tidak tau ingin memberikan apa sebagai ucapan terima kasih ku pada kalian, jadi aku membuat banyak cemilan buatan ku sendiri dan hanya ini yang bisa aku berikan." Liana menaruh wadah makanan ke meja, mereka menatap benda yang di letakan oleh Liana kemudian kembali beralih menatap Liana.
"Itu saja sih, tujuan ku datang cuma ingin mengucapkan terima kasih," Liana memainkan ujung rok pendek nya.
"Untuk apa kau lakukan ini?" tanya Lucas membuat Liana mendongak menatap pria berambut seleher.
"Maβmaksudnya?"
"Apakah kita ini kau anggap tetangga? Seperti berhutang budi karena kita sudah menghantarkan makanan?"
Liana terdiam mencerna ucapan Lucas.
"Ucapan terima kasih mu oke kita terima, cuma cara mu berterima kasih ini seperti kau pada orang lain,"
"Lalu? Aku harus memakai cara apa?" Gak salah yah jika Liana di cap sebagai gadis polos namun wajahnya badas.
"Huh, untungnya Arion tak ada di sini jika dia tau apa yang kau lakukan ini pasti dia tak akan terima," Oh ya, baru sadar bahwa di sana tak ada Arion dan Revan, kita tau la yah kalau Revan pasti nya sedang istirahat sedangkan Arion ... Ntahlah.
"Aku minta maaf jika cara ku berterima kasih salah,"
"Memang salah!" sahut Edgar cepat sampai pandangan Liana teralihkan bahkan Kevin pun yang dari tadi diam ikut mencerna setiap ucapan mereka.
"Kau lupa, siapa diri mu?!" Edgar menunjuk Liana.
__ADS_1
Gadis itu rasanya seperti di marahi juga ia tidak tau letak kesalahannya apakah memang salah jika menghantarkan makanan? Atau emang mereka nya tak mau di antarkan makanan? Ini kan bukan karena kasihan melainkan ucapan terima kasih, masa iya berterima kasih tanpa membawa apa pun sebagai imbalan? Kan begitu mikirnya.
"Kau itu gadis milik kita!"