
Sesampainya di mansion besar milik pria mafia itu, Liana membenarkan bukunya lalu keluar dari mobil itu pun ia dorong pakai kaki. Tumpukan buku itu sedikit menghalangi pandangan Liana jadi ia memiringkan kepalanya untuk melihat jalan, Revan yang melihat itu menggelengkan kepalanya kemudian mengambil beberapa tumpukan buku dari Liana.
"Biar aku bantu, takutnya kau jatuh" Revan, Liana menatap pria di sampingnya lalu Revan jalan mendahului.
"Tunggu aku" memperlebar langkahnya.
Kedua nya masuk kedalam dan dikejutkan oleh seorang pria berdiri melipat kedua tangannya.
"Lama banget, dari mana kalian?!" Liana terkejut bergeser di belakang Revan, ternyata pria itu adalah Kenzo.
"Kau tidak lihat? Dia baru pulang kuliah" Revan.
"Kenapa lama sekali?!" Menatap Revan intens.
"Aku mengantarnya dulu ke rumah ayah nya untuk mengambil buku-buku kuliahnya, tidak ada salahnya bukan? Orang dia cuma ambil buku" Ucap Revan, Kenzo beralih menatap Liana yang berdiri di belakang Revan sambil menatap lantai.
"Oke, masuk lah ke kamar setelah itu turun untuk makan siang" Final Kenzo, Liana mengangguk kan kepalanya kecil lalu menyenggol punggung Revan untuk pergi juga. Revan terkekeh mengerti maksud dari gadis di belakangnya kemudian pergi dan di ekori oleh Liana.
"Kenapa dia sama menyeramkan nya dengan pria kejam itu sih?" Celutuk Liana, Revan yang mendengar itu hanya tersenyum geli.
"Dikit-dikit pasang wajah seram, padahal kan aku merasa bahwa aku tak salah apapun. Ayah saja tak pernah marah dengan ku, walaupun aku punya salah tapi tak segitunya juga kali... Iih! " Kesal Liana, Reva yang berjalan di depan hanya bisa tertawa diam-diam.
.
Sesampainya di kamar Liana, Revan menaruh buku di tempat meja milik Liana.
"Sudah, kita turun kau pasti lapar" Liana terdiam, pria itu hendak pergi namun di tahan oleh Liana.
"Revan..." Gumam Liana , Revan berbalik menatap Liana.
"Ada apa?" Tanya Revan.
"Emm... Boleh gak? Aku makan di sini aja" ragu Liana, Revan mengangkat alisnya.
"Kenapa? Apa kau takut?" Tanya Revan.
"Kau tau itu, aku masih belum terbiasa dengan mereka. Aku hanya dekat dan kenal dengan mu..."
"Kau pasti akan terbiasa, sebagian kau memandang ku dulu karena kau hanya bisa melihat mereka dari luar tapi aslinya mereka sama seperti ku. Berkomunikasi lah dengan mereka aku yakin kau bisa, memang mereka sangat terlihat seperti orang yang ingin menerkam mangsa. Tapi hati mereka itu tulus untuk mu, mereka sangat mencintai mu mereka bersikap begitu karena belum pernah mencintai seseorang selain dirimu, sama hal nya dengan ku masih kaku" senyum tipis Revan, Liana menatap pria di hadapannya merasa ragu apa semua itu benar?
Jika melihat tatapan mereka yang tajam seperti berbeda dengan ucapan Revan, atau emang seperti itu tatapan mereka? Bahkan Revan juga begitu awal melihatnya, seperti semuanya sama saja.
Tak menunggu lama Revan menarik tangan Liana keluar dari kamar untuk turun ke lantai bawah karena ini sudah menunjukkan waktu jam makan siang.
****
__ADS_1
Ke 8 pria dan Liana sedang makan siang bersama dengan keheningan hanya suara sendok dan piring yang saling bergesekan, sesekali Liana mencuri pandang pada pria-pria ini ntahlah setelah mendengar ucapan Revan membuatnya penasaran takutnya semua yang di katakan pria tadi itu salah.
Tapi tetap saja, mau ngapain pun mereka sama saja dengan tatapan datar nan dingin, lah bodo amat ngapain mikirin kek gitu. Oh ya tiba-tiba Liana ke ingat dengan ponsel milik Revan di mana ia pinjam buat kuliah tadi.
"Revan, ini... Makasih udah minjemin" senyum Liana, Revan tersenyum menerimanya.
"Tidak masalah, mau pinjam lama juga boleh atau gak kau ingin ponsel baru?" ucapannya membuat Liana sepontan melambaikan tangan sambil menggeleng.
"Tidak perlu, aku juga punya kok makasih" Kemudian Liana melanjutkan makannya, Revan tersenyum lalu menggeleng.
"Kenapa dia pinjam ponsel mu?" Tanya Carlos menatap sinis Revan, Liana mematung berhenti mengunyah dan melirik pria yang bertanya itu.
"Untuk kuliah nya, ponselnya kehabisan baterai jadi gak ada salahnya buat di pinjemin" santai Revan tanpa menoleh di situlah Liana melanjutkan mengunyahnya, Carlos menatap Liana yang menunduk.
βπ΄πβππ-ππβππ πππ ππππππ ππππ¦ππ ππππβππππ πππ π€πππ‘π’, πππ πππ π ππ ππππππ ππππ ππππππ πΏππππ ππππ ππππβ πππππ‘ ππ¦ππππ πππ ππππ‘π π πππ π ππ£ππ! π΅ππππππ *π!β
.
Setelah selesai makan siang Liana kembali ke kamarnya ia lupa tadi tak mengecas ponselnya.
"Tunggu" langkah Liana terhenti kala seseorang pria mencekal lengan nya, gadis itu perlahan menoleh kemudian menunduk, ternyata Carlos.
"Ada waktu? Aku ingin... Emm mengobrol sebentar dengan mu" Gadis itu diam di posisi nya, bukan alasan apapun namun masih merasa takut dengan nya.
"Aku tak suka penolakan, ikut aku" menarik tangan Liana tadinya ingin memberontak tapi ia sadar bahwa lawannya bukan Revan.
****
"Akhir-akhir ini kau lebih banyak bicara dengan Revan dari pada dengan yang lain, jangan bilang kau menyukainya kan? "
Jika boleh jujur, Iya! Liana menyukai Revan karena hanya dia yang seperti berbeda dari yang lain, lembut, dan baik namun menyukai bukan berarti cinta seperti halnya mengagumi saja.
Carlos membalikkan tubuh menatap Liana "Katakan, apa kau menyukainya?" Tanya Carlos lagi, namun Liana tak menjawab hanya diam, ia hanya akan berbicara pada Revan saja hanya dia lah pria baik disini.
Carlos geram dengan gadis nya yang tak menjawab kemudian ia menarik tangan Liana dan menyandarkan tubuh si gadis di pagar balkon mengunci pergerakan nya, gadis itu membulatkan mata. Tatapan datar dari Carlos membuat gadis itu merasa ketakutan, datar, dingin, tajam. Mana jarak wajah keduanya di bilang cukup dekat.
"Jika kau tak menjawab, aku akan menjatuhkan mu dari sini" ancam Carlos, gadis itu perlahan menoleh ke belakang melihat jarak balkon dengan tanah sangat tinggi mungkin jika ia lompat pun langsung mati.
"Jawab lah! Oh kau menguji kesabaran ku?" Carlos melingkarkan tangannya di pinggang Liana dan mengangkat tubuh gadis itu untuk bersiap melempar nya, Liana membulatkan mata dan menggelengkan kepalanya kuat.
"Tiβtidak! Aβaku mohon jaβjangan..." Ia mencengkram erat jaket Carlos memeluknya kerena takut pria ini akan menjatuhkan nya dari ketinggian balkon. Awalnya Carlos bersikap biasa saja dengan tatapan datar namun ia tersenyum miring melihat gadis ini memeluknya karena takut.
Ya sebenarnya Carlos lebih suka Liana memeluknya dengan cinta bukan rasa takut, tapi tidak apa wajar saja gadis ini takut, takut di lempar.
Bisa Carlos rasakan ada getaran kecil di tubuh Liana hingga pria itu memeluknya erat.
__ADS_1
"Hey tenang lah, aku hanya bercanda namun emosi ku tak main-main. Makanya jika aku bertanya jawab lah dengan benar." ucap Carlos menutup matanya sambil memeluk Liana, gadis itu membuka matanya ia baru sadar bahwa dirinya sedang di peluk. Ia pun ingin melepaskan diri dari tempelan tubuh nya dari pria ini namun sepertinya Carlos tak melepaskan pelukannya.
"Diam lah! Aku masih ingin memelukmu" dingin Carlos membuat Liana terdiam dari usikan, pria itu menenggelamkan wajahnya di leher Liana membuat gadis itu terdiam tak berkutik.
"Tubuh mu sangat nyaman untuk di peluk" gumam Carlos, Liana tidak tau harus berbuat apa apalagi Carlos memeluknya erat.
"Sekarang kata kan, kau menyukai Revan?" Sejenak gadis itu terdiam kala Carlos kembali bertanya.
"Iβiya" gumam Liana.
"Apa dia tampan?" Carlos berusaha untuk tidak emosi.
"Tiβtidak"
"Lalu?"
"Kaβkarena diβdia selalu membantu ku"
"Membantu dalam hal apa?"
"Banyak"
Carlos tak bisa menatap si gadis karena ia berposisi masih memeluk nya begitupun dengan Liana pria itu melepas pelukannya menatap dekat membuat Liana sedikit menunduk.
"Apa kau takut dengan ku?" Tanya Carlos, tentu saja! Tapi Liana hanya diam. Carlos mengangkat dagu sang gadis dan keduanya bertatapan, pria itu menatap lekat sedangkan si gadis menatap ragu.
"Mana mungkin aku menyakiti mu karena kau adalah gadis yang aku cintai, jadi berhentilah menganggap ku pria kejam mungkin iya tapi tidak bersama mu" tutur Carlos, gadis itu memberanikan dirinya menatap mata Carlos menurutnya sama saja pria ini tetap terlihat seram.
"Benarkah?" Ragu nya.
"Tentu saja benar! Dan bukan hanya aku, yang lain juga"
"Ah... Baiklah, jika kau seperti Revan"
"Tapi jangan samakan aku dengan Revan! Aku dan dia jelas berbeda, dan aku tidak suka jika di banding-bandingkan dengan orang lain bahkan teman ku sendiri" Kesal Carlos mengalihkan pandangannya, sepertinya pria ini gampang emosi dan cepat merubah mood dalam sekejap.
"Baβbaiklah"
"Sekarang, kau masih takut dengan ku?" Menatap Liana , gadis itu menggelengkan kepalanya tersenyum tipis.
"Bagus, kau sangat menggemaskan" Carlos mengusap rambut liana.
"Kita masuk, kau pasti lelah belum istirahat dari pulang kuliah tadi" sambung Carlos.
Liana mengangguk kemudian sedikit mendorong tubuh Carlos, namun baru saja gadis itu melangkah kecil tiba-tiba tangannya di tarik oleh Carlos dan lebih mengejutkan nya lagi pria itu mencium bibir Liana hingga gadis itu terkejut.
__ADS_1
Semakin lama mencium Carlos perlahan ********** lembut dan mempererat lingkaran tangannya di pinggang Liana, gadis itu menutup matanya tanpa membalas *******.