Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia

Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia
Bab 41


__ADS_3

Arion dan Liana memasuki ruangan kamar yang luas sampai Liana harus berjalan sedikit maju untuk sampai ke dalamnya lagi, di ranjang tak ada dan ternyata seorang pria tengah merebahkan diri di sofa panjang sembari menutup wajahnya dengan lengan.


Liana berjalan pelan menatap pria itu yang tak memakai baju hanya celana saja tak lupa perban putih dan ada bercak merah di perban tersebut di mana warna merah itu mungkin letak luka nya.


Revan, ntah dia tertidur atau tidak.


Arion duduk di samping Revan yang tertidur, merasa terganggu karena gerakan di sofa Revan mengangkat lengannya agar bisa melihat siapa yang duduk di sofa tempat ia tidur.


"Apa yang kau mau?!" ketus Revan, Arion tak menjawab malah menatap Liana yang sedang menatap keduanya.


"Kalau hanya ingin mengganggu, sana pergi!" usir Revan kembali menutup wajahnya.


"Jika ku beritahu ini apakah kau akan berterima kasih pada ku?" Arion.


"Cih, gak heran kau memang aneh. Sekarang pergi lah!"


Memang semenjak Revan berdiam diri di rumah ia semakin sensitif bahkan pada Arion saja, tak peduli jika nyawanya tinggal 1.


"Kau yakin tak ingin tau dan siapa yang datang?" Arion.


"Tidak! Sana pergi!" usir Revan.


"Baiklah, ayo Liana kita pergi dia tak ingin di jenguk," Arion berdiri dari duduknya, seketika Revan membuka matanya dan menatap Arion.


"Tunggu apa maksud mu?!"


"Tidak ada, Liana hanya ingin menjenguk mu tapi kau tak mau ya sudah, ayok sayang kita pergi saja!"


"Jagan bercanda, Arion!!" sentak Revan.


"Kau lihat saja dulu!" Arion dengan kesabaran nya.


Revan mengangkat kepalanya dan mendongak untuk melihat orang yang di maksud Arion, ternyata benar ada seorang gadis berdiri menatapnya. Seketika Revan langsung terduduk tak peduli lukanya, Arion menatap datar ke arah Revan.


"Liana," gumam Revan, Liana tersenyum tipis lalu berjalan mendekat dan duduk di sofa tempat Revan tiduran tadi.


"Ini benar kamu kan?" Revan masih tak percaya, Liana mengangguk.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan mu?" tanya Liana, Revan tersenyum dan hendak memeluk Liana namun Arion menahan bahu Revan.


"Dia juga terluka," datar Arion. Revan baru teringat bahwa gadis ini juga sama terlukanya.


"Harusnya aku tanya, bagaimana keadaan mu?" Revan.


"aku baik,"


"Syukurlah," lega nya.


"Luka mu belum sembuh?"


Revan menunduk melihat lukanya yang kembali mengeluarkan darah tapi tidak banyak kok, cuma becak saja.


"Sebenarnya 3 hari saja sudah sembuh, namun dia tak banyak istirahat selalu jalan sana-sini jadi tak memikirkan lukanya!" Arion melirik.


"Itu karena aku memikirkan mu, aku khawatir pada mu karena sudah 1 minggu aku tak bisa menghubungi mu karena ponsel ku hilang dan aku lupa nomor mu. Jadi aku tidak tau keadaan mu di sana," Revan memegang tangan Liana, Liana tersenyum menggelengkan kepalanya.


"Aku baik-baik saja, ada Ayah yang selalu mengurus luka ku dan merawat ku,"


"Aku senang mendengar nya,"


"Ini tidak sakit," menatap dalam.


"Sudah di obati lagi?"


"Iya sudah,"


"Tapi, darahnya ..."


"Tidak apa kok, emang begini jadi sudah biasa," senyum Revan, Liana menatap prihatin.


"Oh ya, kenapa kau tak memberitahu ku jika akan datang ke mari?"


Liana melirik Arion yang sedang menikmati sebatang rok0k di sofa lain, lalu tersenyum tipis.


"Aku lupa memberitahu kalian,"

__ADS_1


"Huh, gak apa deh aku senang kau datang kembali," senyum Revan, Liana hanya bisa tersenyum tipis menurutnya Revan itu gemas namun setelah mengetahui gelarnya ia menjadi gugup tak seperti awal saat bersama nya.


"Kau akan tinggal di sini kan?" tanya Revan.


Liana mengangguk setelah terdiam saat Revan menanyakan hal itu.


"Bagus! Di sini saja aku butuh diri mu agar aku bisa istirahat," Revan merebahkan diri di sofa dan kedua paha Liana sebagai bantal, awalnya Liana terkejut dengan apa yang pria ini lakukan namun ia tau bahwa Revan kurang istirahat. Bisa di lihat mata Revan seperti panda.


Awalnya ragu untuk memegang kening Revan namun tangan Revan dengan peka menaruh tangan Liana di keningnya dan di usap nya, Liana mengikuti gerakan tangan Revan sampai ia melakukannya sendiri tanpa di gerak kan oleh pria ini.


Arion menatap datar lalu pergi begitu saja, Liana menatap punggung Arion batinnya bertanya-tanya kemana dia akan pergi? Tapi itu tak membuat Liana mengejar Arion ia tetap harus bersama Revan.


Arion cemburu kah?


***


Semenjak tinggalnya Liana di kediaman mafia para pria itu sampai lupa gelar mereka sebagai mafia karena adanya Liana yang selalu membuat mereka bucin, tiada hari tanpa kemesraan. Setiap menjalankan tugas mereka kembali lebih cepat dari sebelumnya, apalagi ketika Liana libur kuliah.


Soal kuliah, Liana menjalankan nya dengan sangat baik, luka nya pun sudah sembuh bahkan di bawa lari pun sudah lumayan bisa. Namun, semenjak ia ambil cuti banyak sekali pelajaran yang tertinggal jadi akhir-akhir ini ia sibuk dengan tugas bahkan jika di rumah selalu tidur larut malam hanya demi menyelesaikan tugas.


Kevin selalu mengunjungi putrinya saat libur kerja, begitu pun Liana yang mengunjungi sang Ayah dan selalu di temani oleh salah satu mafia nya.


Liana sudah mulai terbiasa dengan sikap dan semua yang ada pada mereka, ternyata mereka tak semenakutkan seperti yang di bayangkan cuma ya kalau marah tetap saja menakutkan. Ia merasakan di cintai oleh 8 pria namun sampai sekarang Liana tak bisa membalas cinta mereka, susah loh mencintai 8 pria sekaligus, butuh banyak waktu bagi Liana untuk melakukan nya.


Saat ini, Liana selesai kuliah nya ia berjalan menuju gerbang dan di sana terdapat sebuah mobil mewah dengan seorang pria berkaca mata hitam, sangat keren dan dingin. Banyak para siswi berkerumun setiap mereka datang, sampai Liana rela diam berdiri menunggu pria itu memanggilnya.


Ternyata kali ini yang menjemput adalah Carlos, pria itu selalu risih jika banyak yang menatapnya, 'kan ketampanan nya ini hanya untuk Liana seorang. Yang namanya punya mata siapa saja bisa melihat apa yang mereka lihat, bahkan yang sejenis saja bisa menatapnya.


Carlos melihat seorang gadis berdiri memeluk buku yang jaraknya lumayan jauh cuma 3 meteran dari ia berdiri. Dari pada memanggil mending menghampiri nya, Carlos menghampiri Liana dan langsung menarik tangan si gadis untuk masuk ke dalam mobil.


Setelah masuk ke dalam, Liana memakai sabuk pengaman. Carlos menghela nafas lalu menoleh ke arah Liana yang baru selesai memasang sabuk pengaman.


"Kebiasaan banget, kalo aku sudah menjemput mu dan berdiri di hadapan mu bukannya menghampiri ku malah diam berdiri menatap ku," kesal Carlos.


"Sebenarnya selalu begitu, cuma karena mereka sedang mengagumi mu jadi aku diam saja,"


Carlos melepas kacamata nya dengan kesal, "Kau mengagumi ku?" tanya nya.

__ADS_1


"Aku mengakui bahwa kau tampan,"


__ADS_2