Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia

Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia
Bab 32


__ADS_3

Arvin dan Marvin berjalan di lorong rumah milik ayah mereka setelah istirahat sebentar, karena mereka selalu belum cukup tidur bahkan berminggu-minggu pun tak tidur layaknya orang biasa.


"Apa kita akan kembali?" Tanya Marvin pada kakaknya, Arvin berdehem tanpa menoleh.


"Bagus, aku juga tidak sabar bertemu dengan gadis itu" smirk Marvin, sudah di duga Marvin pasti akan melakukan kepuasan sendiri.


SEMENTARA DISISI LAIN!


Arion dan yang lain baru saja mendarat di tempat tujuan namun tak di rumah langsung melainkan di tempat lain, karena sekalian mereka melakukan penyerangan. Sebenarnya ini bisa di bilang pengecut tapi jika ini cara satu-satunya, mau bagaimana lagi?


Mana mungkin mereka menyerang tanpa anak buah? Tentu saja, dalam perjalanan udara mereka memberitahukan pada Yohanes, Ravin dan David untuk kirim semua pasukan nya menuju lokasi. Kini semuanya sudah berkumpul dengan jarak yang lumayan jauh dari kediaman lokasi.


"Dengar, kita akan melakukan penyerangan tapi tak secara segerombolan. Lakukan lah di berbagai sisi, Ravin kau dan anak buah mu serang dari arah belakang, David dan Yohanes kalian serang bagian sisi samping. Biar kita serang sisi depan!" Arah Arion menatap tajam ke arah kediaman Arvin, musuhnya.


Mereka semua mengangguk paham.


"Cepatlah! Sebelum 2 s1alan itu datang" mereka pun bubar dan memposisikan diri karena sepertinya anak buah sialan itu tak seperti dulu yang seperti tentara di halaman hingga belakang.


Tapi tetap saja, tidak ada yang tau apa yang akan terjadi nantinya.


Yohanes, Ravin, David dan Tuan-tuan nya pun sudah siap di posisi masing-masing mereka saling mengkode untuk siap menyerang.


***


Liana baru saja selesai makan dan meneguk minuman di gelas, iya tak peduli 2 penjaga yang selalu berdiri di belakangnya mengawasi sebenarnya ini sangat risih tapi bodo amat biarkan mereka lelah.


Kemudian tiba-tiba suatu getaran di perutnya membuatnya terkejut dan tubuhnya panas dingin, itu ponsel yang ia bawa sengaja saja tak ia kembalikan soalnya agar dengan mudahnya para mafia itu melacaknya.


Untungnya ponsel itu tak mengeluarkan bunyi dering cuma getaran saja.


Lalu 2 orang pelayan sedang celingukan seperti mencari sesuatu di dapur.


"Duh, di mana yah ponsel ku?" ucap pelayan itu gelisah.


"Kau taruh mana tadi?" Tanya pelayan satunya yang memegang ponsel menelpon membatu mencari teman pelayannya.


"Di sini, dekat wastafel"


"Lain kali di simpan saja atau gak taruh di kamar mu"


"Tadi anak ku menelpon ku, jadi aku bawa kemana-mana dong"


Liana yang mendengar itu panas dingin dan jantung berdegup kencang, ia tak ada niatan buat mencuri tapi demi keselamatan ia harus nekat melakukan ini. Tak menunggu lama sebelum pelayan itu mendekat ia berdiri dari duduknya.


"Aku, ingin tidur" Liana lalu berjalan cepat dari sana.


Sesampainya di kamar, Liana langsung mengeluarkan ponsel milik pelayan itu dan melihat sebuah pesan masuk dan panggilan tak terjawab. Pesan masuk, ia membukanya yang tertulis.


“𝘚𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨, 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢. 𝘈𝘺𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘨𝘦𝘨𝘢𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘈𝘺𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘺𝘢𝘩 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘦𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢. 𝘋𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘶𝘢𝘳.”


Itulah isi pesan dari sang ayah, Liana tersenyum kemudian ia membuka pintu balkon kamar dan melihat kearah bawah. Bisa ia lihat dari atas ada sekelompok orang yang bersembunyi jauh dari kediaman tempat ia berdiri.

__ADS_1


Seperti nya itu anak buah Yohanes. Namun sayang, mereka sepertinya tak bisa melihatnya. Segeralah gadis itu menelpon no ayahnya.


"Ayah..."


“𝘓𝘪𝘢𝘯𝘢, 𝘴𝘺𝘶𝘬𝘶𝘳𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘪𝘬-𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘴𝘢𝘫𝘢. 𝘒𝘢𝘶 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢?”


"Saat ini aku sedang di balkon, aku melihat banyak orang di bawah lumayan jauh dari aku kediaman. Ku rasa itu adalah anak buah dari Revan"


“𝘐𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨, 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢. 𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘬𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘰𝘭𝘢𝘩-𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘢𝘨𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘯𝘤𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘳𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘤𝘢𝘳”


"Iya ayah, terimakasih" tangis Liana.


“𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘪𝘴 𝘱𝘶𝘵𝘳𝘪 𝘢𝘺𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘤𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬, 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘪𝘬-𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘴𝘢𝘫𝘢”


"Hmm, semua akan baik-baik saja" senyum Liana.


Tak beberapa lama kemudian Liana melihat orang-orang Yohanes bergerak mendekat kearah kediaman Arvin, baru lah Liana mengakhiri telponnya dengan sang ayah lalu berjalan ke arah pintu.


"Emm, sepertinya tuan kalian datang. Bisa antarkan aku pada mereka?" Pinta Liana, 2 pria itu mengangguk dan membawa Liana turun ke lantai bawah.


***


Arion & yang lain sudah memberi kode untuk menyerang, jika saja di dalam tak ada gadis itu sudah pasti akan ia lakukan pengeboman rumah agar cepat selesai.


"Saat penyerangan terjadi, aku akan masuk kedalam untuk mencari Liana!" Tukas Arion.


"Kita akan membantu mu masuk!" Edgar.


Barulah penyerangan terjadi secara bersamaan membuat para penjaga di sana langsung terkejut dengan penyerangan tiba-tiba ini. Mau siap atau tidak tetap menyerang dengan menggunakan senjata, seakan tak mau kalah anak buah Arion hingga pemimpin bawahannya mengeluarkan senjata api membalas peluru yang musuh nya tancapkan pada anak buah mereka.


Siang ini di penuhi oleh suara tembakan hingga membuat 2 penjaga yang bersama Liana terkejut, tanpa mempedulikan Liana mereka pergi untuk melihat apa yang terjadi serta senjata yang mereka pegang untuk berjaga-jaga.


Ini kesempatan Liana.


Gadis itu berlari mengikuti 2 penjaga nya.


Di sisi lain, Arion dan teman mafianya sedang berusaha memasuki rumah Arvin tapi tak semudah itu mereka harus melewati anak buah musuh s1alannya.


"Arion! Sekarang! Ini kesempatan mu!" Teriak Kenzo.


Tak berfikir panjang dengan tekat Arion berlari mencari celah untuk masuk walaupun ia harus berlari sambil menembak.


Wah keren.


Yap, Arion berhasil masuk namun ternyata di dalam ada anak buah lainnya jadi ia harus melawannya sendiri.


Tembakan itu terus menerus menghancurkan semua seisi rumah, Arion sudah terlatih dalam menghindar dari peluru jadi dengan gesit ia terus berkali-kali menggerakkan kaki jenjangnya serta tubuhnya untuk melesetkan serangan.


Dor


"Aaghk!" pekik Arion kala ia mengenai peluru bagian pipinya, untungnya hanya meleset namun meninggalkan goresan di pipi hingga darah nya mengalir, tapi itu tak membuatnya sakit malah ia semakin bersemangat dalam menembak.

__ADS_1


Kenzo dan yang lain akhirnya bisa mengalahkan musuh bagian depan, tadinya mereka ingin masuk ke dalam tapi sayang...


Dor


"Aaghkk!" Pekik Revan.


Peluru menancap di bagian perut Revan hingga pria itu membungkuk memegang perutnya menahan sakit, ternyata anak buah yang lain berdatangan ntah dari mana mau tak mau mereka kembali melawan.


"Bawa Revan pergi!" Teriak Lucas, Kenzo lah yang memapah Revan dengan di lindungi oleh yang lain agar Kenzo atau Revan tak mengenai tembakan lagi.


Kembali ke Arion.


Akhirnya penjaga di dalam sudah ia kalahkan, darah di wajah Arion masih mengalir walau sedikit namun luka itu sudah dari tadi jadi semakin lama semakin menetes darah itu sampai ke baju nya.


Tak menunggu lama, Arion berlari menuju lantai atas.


Baru saja melewati beberapa tangga tiba-tiba 2 penjaga datang berlari kearahnya, yah itu kembali menyerang lagi untungnya Arion selalu siap cadangan pistol hingga peluru jadi ia tak kehabisan peluru.


2 pria itu tewas. Baru lah Arion kembali berlari menaiki tangga tak peduli jika tangga ini tanpa ujung, namun jika ini jalan satu-satunya bertemu sang gadis akan ia lakukan.


Sudah banyak tangga yang ia lalui usahanya membuahkan hasil, karena sosok gadis yang ia cari ternyata ada di tangga mungkin gadis itu juga ingin menuruni anak tangga.


Keduanya saling menatap walau jarak mereka terhalang 20 anak tangga, Arion berjalan biasa tak seperti tadi yang berlari hingga menimbulkan suara berisik. Liana terdiam mematung melihat sosok pria yang kejam berjalan ke arah nya, rasanya ia ingin mundur namun ntah kenapa kakinya seperti sulit di gerakan dan kaku.


Dan, kini keduanya sudah saling berhadapan namun pandangan mereka masih belum lepas selain kaki namun mata Liana pun sangat kaku untuk di alihkan. Luka dan darah di wajah Arion membuat pria ini semakin arogan kesan ketampanannya tak pernah pudar walau di lumuri lumpur pun seperti nya tetap tampan.


Arion melangkah kan kaki nya satu ke tangga yang di mana Liana berdiri dan keduanya berada setangga, beruntunglah bahwa gadis ini masih dalam keadaan baik-baik saja tak seperti pemikiran negatifnya.


Grep


Arion memeluk Liana erat membuat gadis itu tersadar dari lamunannya menatap Arion tadi, gadis itu diam membulatkan mata terkejut melihat perlakuan Arion yang tiba-tiba memeluk. Biasanya juga selalu marah-marah.


Liana tak membalas pelukan karena ia masih bingung apa yang harus ia lakukan, di satu sisi ia senang bahwa mereka menyelamatkan nya namun di sisi lain ia juga masih merasakan ketakutan dari pria yang memeluk nya.


"Aku senang kau selamat" ucap Arion, Liana masih terdiam.


Arion melepas pelukan lalu menatap Liana.


"Kita tak ada waktu lagi, aku akan membawa mu pergi dari sini!" Arion menarik tangan Liana tapi gadis itu bukannya melangkah malah diam membuat Arion menoleh.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Arion yang berusaha tidak kasar. Liana masih dalam keadaan diam menatap tangannya yang ia pegang oleh Arion.


"Kita tak ada waktu untuk memikirkan apapun. Denger, ayah mu bisa melihat mu sekarang" Ucap Arion, Liana menaikan pandangan menatap Arion.


Apa maksud nya?


Arion memegang kalung yang ia pakai serta bandul yang berbentuk kotak hitam yang ternyata kamera kecil atau bisa kalian tau adalah seperti penyadap. Liana menatap kalung itu ia teringat bahwa ayah nya pernah bilang, bahwa dia bisa melihatnya lewat kamera kalung salah satu dari mereka dan sudah di pastikan itu pasti Arion pemilik kalung itu, itu artinya ayah nya bisa melihatnya?


Liana menatap Arion yang mengangguk untuk mengikuti nya, gadis itu pun menurut baru lah Arion menarik tangan Liana untuk cepat segera pergi.


Di tempat Yohanes, Ravin & David.

__ADS_1


"Seperti nya mereka sudah tak ada lagi, sekarang kita beralih ke depan membatu Tuan Arion & yang lain!" Yohanes, Ravin & David mengangguk kemudian pergi bersama anak buah mereka yang tersisa.


Syukurlah mereka datang tepat waktu dan membantu tuan mereka yang sedang melawan tak habis-habisnya. Kenzo tadi membawa Revan ke helikopter tempat mereka mendarat, lalu kembali dengan meminta salah satu anak buahnya untuk menjaga Revan.


__ADS_2