Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia

Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia
Bab 45


__ADS_3

Namun mereka tidak menjawab karena semua pilihan nya sangat lah menyakitkan, tubuh mereka basah kuyup karena keringat. Bahkan yang menonton saja sudah merasa tegang mana ini di saksikan oleh mereka secara langsung, agar menjadi pelajaran bagi mereka yang berani berkhianat.


"JAWAB!!"


"TEMB4K!"


DOR!


DOR!


DOR!


Temb4kan Carlos tak hanya 3 kali melainkan berkali-kali hingga tubuh 4 orang itu seperti bekas di c4bik-c4bik menggunakan alat. D4rah pun bak hujan untung nya jarak nya sangat jauh dengan yang lain jadi tak ada satu pun yang terkena tetesan d4rah.


4 orang itu lah yang meminta di temb4k dari pada berjalan di atas bara.


Anak buah yang lain hanya bisa menutup mata nya ketika tuannya menembak nya bertubi-tubi tanpa rasa ampun ataupun kasihan. Wajar, mafia loh.


Carlos menurunkan senjata nya dengan nafas memburu karena emosi nya yang tak bisa di tahan. Ia tak suka dengan orang yang lamban dalam bekerja.


"Dia terlalu tergesa-gesa," kata Lucas yang berada di dekat Revan & Elvano.


•••


Makan malam tiba, mereka juga bersama Liana tengah duduk melingkar di meja persegi. Ujung ketemu ujung meja penuh dengan makanan, nama nya juga mafia bahkan orang kaya juga biasanya begini banyak macam-macam makanan.


"Menurut ku percuma sih dengan menghukum mereka," kata Edgar.


"Setidaknya bisa meredakan emosi!" kesal Carlos dan sedikit memukul meja.


"Itu kau, tidak dengan Felix," lirik Lucas pada Felix yang tengah fokus makan namun dari ekspresi juga sudah menggambarkan sedang berusaha menahan diri.

__ADS_1


"Diam lah!!" gertak Felix.


"Ayolah, setidak nya mereka sudah m4ti jadi untuk apa kita cari lagi?"


"Harus nya dia m4ti di tangan ku bukan orang lain meskipun di bunuh oleh tuan baru nya!" kesal Felix.


"Aku tau alur nya, musuh lah lebih pintar dari peran utama," ujar Revan.


Mereka pun kembali makan. Kalian tau? Ternyata Felix emosian itu karena sudah menemukan 2 pengkhianat namun dalam keadaan tak bernyawa. Itu sebab nya Felix terbawa emosi karena tak bisa membunuh atau mengintrogasi nya secara langsung. Walaupun dia tau siapa orang di balik semua ini.


Siang tadi Felix dan Yohanes berhasil menemukan 2 j4sad di suatu tempat lebih parah nya 2 m4yat itu terkapar begitu saja di belakang markas. Setelah menemukan pengkhianat Felix kembali dengan membawa 2 m4yat, setelah itu sore nya ia menjemput Liana karena yang lain tengah sibuk mengurus anak buah mereka.


Tapi sampai saat ini, Liana juga tak begitu penasaran masalah Felix apa hingga emosi nya di lampiaskan pada nya. Ya bodo amat, inti nya dia tak merasa bersalah pada Felix.


"Akibat emosi mu, kau sadar dengan apa yang kau lakukan tadi pada Liana?!" Arion bersandar di kursi menatap Felix.


Felix melirik Liana yang tengah makan namun di jahili oleh Lucas.


"Ya aku tau," alih Felix.


Felix menghela nafas, tadi ia tak sengaja menyakiti Liana jadi harus meminta maaf walaupun sebenarnya ia tak pernah mengucapkan kata itu bahkan pada teman nya sendiri.


"Tunggu, siapa tau Liana juga punya salah karena buat si bocah ini kesal?" kata Lucas membuat Liana kesal.


"Aku sama sekali tidak bersalah, dan tak punya salah. Apakah aku akan meminta maaf pada orang yang bersalah?" kesal Liana merebut garpu dari Lucas, karena Lucas tadi sempat mengambil peralatan makanan nya ketika mengambil makanan padahal Lucas juga punya sendiri.


"Ya gak iya juga," angguk Lucas.


Felix menetralkan diri untuk tidak menyeret Liana dalam kekesalan nya.


"Maaf, aku tidak sengaja memperlakukan mu seperti tadi," kata Felix.

__ADS_1


Liana melirik sembari mengunyah makanan, lagian sih percuma juga meminta maaf jika itu tidak tulus. Tadi saja ia hampir membuat trauma nya kembali, ingat dulu Liana juga pernah di seret paksa tak lupa kejadian-kejadian dia mana ia menjadi korban tembakan.


"Lupakan, aku juga tidak peduli," santai Liana dan kembali melanjutkan makanan nya.


Yang lain hanya diam saja melihat cara bicara Liana sedikit berbeda, namun beda dengan Arion dan Edgar yang tersenyum. Seperti nya sifat nya akan menjadi turun temurun ke pada Liana, seorang gadis yang santai dan tak peduli.


Felix membasahi bibir bawahnya menggunakan lidah, seperti nya Liana marah pada nya namun ia juga tidak tau mau bagaimana.


"Aku sudah selesai. Aku akan ke kamar untuk mengerjakan tugas," Liana turun dari kursi.


"Masih belum selesai?" tanya Revan.


"Belum," menggeleng.


"Mau di bantu?"


"Emang bisa?" tanya Liana menaikan alis nya.


"Kau meremehkan ku?" Revan terkekeh.


"Oh, apa kau lulusan universitas? Maksud ku kuliah?"


"Hah?"


"Apakah mafia juga lulusan kuliah?"


Yang lain malah terkekeh mendengar nya kecuali Felix, astaga gadis ini polos atau emang begini?


"Anggap saja begitu," senyum nya.


"Kau juga harus seperti kita, selesai kuliah kau bisa jadi mafia," timbal Lucas menjahili.

__ADS_1


"Aku tidak mau, aku mau jadi diri ku sendiri, sudah aku pergi dulu," Liana berlari kecil meninggalkan tempat.


"Gak usah lari-lari!"


__ADS_2