
Gadis itu menumpuk buku yang akan di bawa ke sekolah lebih tepatnya kuliah, Liana mengambil ponselnya dan tersenyum haru.
"Kau yang aku rindukan setelah Ayah, kau tau? Aku merindukan mu tanpa mu aku menjadi hampa dan bosan, serasa seperti orang bodoh tanpa tujuan. Kali ini, kau dan aku tak akan berpisah lagi" ucap Liana pada ponselnya dan mencium layar ponsel nya. Gadis itu menyalakan ponselnya seketika itu lah ekspresi Liana menjadi datar.
"Iiiihh! Baru aja senang bertemu dengan mu, tapi baterai hp nya membuat ku bad mood. Bisa-bisanya saat lagi senang kek gini baterai mu lowbet! Nyebelin banget sih, bagaimana ini nanti aku pakai untuk belajar lagi" Kesal Liana menatap layar ponselnya, biasanya cewek selalu gitu jika baterai ponselnya di bawah 50 pasti akan kesal secara tiba-tiba sama hal nya kek Liana apalagi ponsel nya akan di gunakan belajar.
Liana membawa buku nya dan keluar dari kamar dengan perasaan kesal.
2 pria sedang duduk di sofa dalam keadaan hening, sang ayah tak tau ingin memulai pembicaraan sedangkan Revan sudah terbiasa hening begini.
Liana pun datang menghampiri keduanya dan duduk di samping Ayah nya.
"Sayang, kau kenapa?" Tanya ayah Liana gadis itu pun tersenyum menggelengkan kepalanya.
"Tidak kok Ayah, sayang sekali waktu kita sudah selesai karena Liana mau berangkat kuliah" lesu Liana.
"Tidak apa, Ayah sudah lega melihat mu yang baik-baik saja" senyum nya.
"Tapi tenang kok, Liana akan sering-sering datang kesini menemui Ayah"
"Tentu saja, Liana harus datang ke sini jika bisa setiap hari" keduanya melempar senyum dan berpelukan, Revan melihat itu hanya tersenyum tipis, Liana melepas pelukannya.
"Kalo begitu Liana mau berangkat dulu"
"Hati-hati, belajar yang rajin yah?"
"Siap, Ayah" hormat Liana yang membuat yang ayah terkekeh gadis itu pun ikut tertawa.
"Liana berangkat, dah Ayah" mengecup pipi ayah nya,
"Iya, semangat!" Menggenggam tangan ke depan memberi semangat pada putrinya, Liana tertawa lalu mengangguk.
"Ayo!" ajak Liana pada Revan, pria itu pun membungkuk kecil pada ayahnya Liana membuat pria itu ikut membungkuk kaku, setelah itu keduanya pergi.
"Aku harap dia bisa menjaga putri ku" gumam ayah Liana.
****
__ADS_1
Di sela jalan Liana hanya diam berekspresi sedikit kesal karena ponselnya yang lowbet takutnya ia tak bisa belajar nanti, Revan yang melihat gadis di sampingnya terlihat kesal pun bertanya.
"Ada apa?" Liana menoleh kemudian menggelengkan kepalanya.
"Apa masih merindukan Ayah mu?"
"Emm, jika soal itu iya. Tapi ada masalah lain..."
"Apa itu?" Liana terdiam menatap ponsel yang ia pegang masa ia mengatakan yang sebenarnya pada pria ini, hanya masalah sepele tapi bagi Liana pastinya lebih dari kata masalah besar.
"Katakan ada apa?" Tanya Revan. Mungkin gak ada salahnya mengatakan yang sebenarnya siapa tau kan pria ini bisa membantunya?
"Ponselku lowbet, setiap belajar aku selalu menggunakan ponsel searching di internet tapi sekarang aku tidak tau bagaimana cara ku belajar" Ucap Liana mengusap layar ponselnya
Revan mengerti ia pun langsung mengeluarkan sebuah benda di saku jaket dalamnya kemudian menyerahkan pada Liana.
"Gunakan lah ponsel ku untuk sementara" ucap Revan, Liana menoleh menatap benda pipih hitam di tangan pria ini.
"A–apa?"
"Ambilah, untuk hari ini gunakan ponsel ku untuk mu belajar"
"Jika tidak mau juga tidak apa, kau bisa mikir sendiri tanpa bantuan ponsel..." Revan hendak memasukkan ponselnya kembali namun di tahan oleh Liana.
"Ehh tunggu...!" Cegah Liana, Revan melirik menahan senyuman.
"I–iya deh, a–aku pinjam ponsel mu... Hanya hari ini saja"
"Makanya gak usah gengsi," Revan memberikan ponselnya dan Liana menerimanya.
"Makasih udah mau minjemin" senyum Liana
"Kan sudah bilang, apapun yang kau mau kita turuti kok gak usah malu-malu"
"Ini ada kuotanya kan?" Menyalakan ponsel Revan.
" Tcih, selain memiliki rumah besar, mobil mewah dan uang banyak kau pikir tak punya kuota? "
__ADS_1
"Kan siapa tau..."
"Kau tenang saja, pulsa, kuota hingga bonus semua nya terisi Full tak pernah kurang"
"Ternyata enak juga yah jadi orang kaya?"
"Kenapa begitu?"
"Bisa membeli apapun yang kita mau, sedangkan diri ku dari keluarga sederhana beli kuota saja 1 minggu satu kali bahkan sampai lebih"
"Bukannya ponsel itu penting untuk kuliah mu? Jika tak di isi kuota bagaimana caranya kau belajar?"
"Hotspot temen" nyengir Liana, Revan menggelengkan kepalanya.
Sesampainya di sekolah universitas yaitu tempat Liana kuliah gadis itu melepas seatbelt.
"Makasih yah atas semuanya, hari ini kau sangat membantu ku selain mengizinkan ku bertemu Ayah namun sampai meminjamkan ponsel, maaf jika aku merepotkan mu"
"Tidak usah begitu, akan ku lakukan apapun demi kamu... Sayang" senyum Revan, tiba-tiba jantung Liana berdegup kencang rasanya di wajah Liana merasakan panas ia cemas jika sampai menunjukan wajah merahnya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Revan berpura-pura tidak tau, ia tau bahwa gadis nya sedang salting.
"A–ahh... I–iya, aku baik-baik saja. Emm, kalo begitu aku duluan" Liana membuka pintu mobil tentu saja saat ini Liana menjadi sorotan orang-orang yang ada di sekitar karena keluar dari mobil mewah, oh ya sebelum Liana pergi gadis itu menatap Revan dari kaca mobil.
"Oh ya aku belum tau nama mu.." ucap Liana, Revan terkekeh.
"Aku lupa, nama ku Revan"
"Ahh... Oke, makasih Tuan Revan"
"Jangan panggil Tuan! Panggil sayang saja" dih mafia mulai terkena virus buaya.
"Emm, Revan saja deh. Dah, makasih sekali lagi" Liana melambaikan tangan kemudian pergi, Revan melihat itu tersenyum menatap kepergian gadisnya.
"Sepertinya kau perlu pengawal, agar kau tetap baik-baik saja"
****
__ADS_1
Revan kembali ke rumah setelah mengantar Liana kuliah sebelum di tinggal ia meminta salah satu anak buahnya untuk memata-matai gadisnya ia khawatir jika ada orang yang menggangu gadisnya, Revan keluar dari mobil dan memasuki rumah besar nya.
Baru saja Revan masuk tiba-tiba seorang pria datang dan mencengkeram kaos hitam milik nya, pria yang mencengkram Revan adalah Carlos.