Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia

Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia
Bab 44


__ADS_3

Liana dan Felix sampai di rumah Kevin, seperti nya mood Felix hari ini sedang tidak baik-baik saja. Bahkan ia tak membantu Liana membawa buah-buahan dan kue untuk di antarkan saja lah ke depan rumah, malah Felix diam menatap datar ke arah depan setelah mobil itu berhenti.


Liana tak memperdulikan nya ia ingin cepat-cepat bertemu sang Ayah dari pada memikirkan Felix yang tak menentu, setiap di tanya selalu melirik apa tidak kesal?


"Ayah! Aku datang!"


"Liana!" Kevin memeluk putri nya dengan rasa senang dan rindu.


"Akhirnya kau datang, Ayah juga memasak untuk mu loh,"


"Ah kenapa begitu? Ayah gak perlu repot-repot, aku mengabari Ayah cuma ingin tau apakah Ayah di rumah tidak bukan bermaksud apa-apa,"


"Hey, kamu ini putri Ayah yang sangat Ayah sayangi, untuk apa juga Ayah merasa repot pada putri sendiri? Di suruh beres-beres rumah juga mau kan?" jahil Kevin.


"Iih Ayah!" kesal Liana namun tetap saja merasa senang.


"Ini, Liana bawa banyak buah dan kue kesukaan Ayah,"


"Duh, kenapa repot-repot?" Kevin menerima nya.


"Tetap aja di terima," Liana membalikan fakta, kedua nya pun tertawa.


"Ya sudah, kita makan dulu sebelum makan buah,"


"Ayok!!" semangat Liana.


"Tunggu, kamu sendiri?"


"Emm, gak sih, di antar sama Tuan Felix,"


"Mana dia?"


"Mood nya sedang buruk jadi susah di ajak ngomong. Biarin aja, ayo aku gak sabar makan masakan Ayah!" Liana menarik-narik lengan Kevin.


"Duh, iya-iya sayang sebentar. Anak ini," decak Kevin.


Kevin dan Liana makan bersama, seperti biasa mereka makan kebanyakan mengobrol hingga lama menghabiskan makanan.


"Soal luka, apakah sudah membaik?" tanya Kevin mengambil pisau buah untuk mengupas kulit buah.


"Sudah Ayah, aku sudah tak merasakan sakit," senyum Liana menatap buah yang di kupas Kevin.


"Lalu, mereka memperlakukan mu dengan baik kan?"


"Iya, mereka sangat posesif dan sensitif pada ku jika menyangkut keselamatan. Bahkan aku juga tidak boleh tidur larut, padahal kan aku mengerjakan tugas dan membuat skripsi," cemberut Liana.


" 'Kan Ayah juga melarang kamu untuk tidur larut malam, gak baik buat kesehatan loh!"


"Iya, tapi kan aku ingin cepat selesai tugas nya. Semenjak kejadian itu aku tak masuk sampai setengah bulan loh, banyak sekali mata pelajaran yang terlewat hingga skripsi saja tidak cepat selesai."


"Kenapa tidak minta bantuan mereka saja buat mengerjakan tugas mu?" Kevin memberikan potongan buah pada Liana.


Liana menerima buah tersebut lalu berfikir.


"Memang mereka kuliah?" tanya nya dengan polos.


Kevin juga ikut terdiam, benar juga apakah seorang mafia lulusan universitas?

__ADS_1


"Ya gak tahu, di coba aja kali gak ada salah nya," kekeh Kevin setelah nya.


"Aku takut mereka tersinggung," pelan Liana menggigit buah.


"Tidak akan, asal nurut saja pasti apa pun yang kau tanyakan terjawab semua," senyum Kevin mengunyah buah.


Liana mengangguk-angguk kecil sambil mengunyah. Setelah selesai makan dan mengobrol, Liana berpamitan untuk pulang ke tempat para mafia itu, baru teringat di luar ia sedang di tunggu oleh Felix.


"Ayah, aku pulang yah. Nanti jika ada waktu lagi aku akan ke sini," senyum Liana memegang tangan Kevin.


"Iya, buka aja pintu nya jika mau ke sini Ayah gak mengunci nya kok," Kevin tersenyum mengusap rambut Liana.


"Nanti ada maling gimana?!" protes Liana.


"Bukan gitu konsep nya, kamu ini ...." Kevin terkekeh mencubit pipi Liana.


"Uuhh!" kesal Liana memegang pipi nya.


"Dah sana, kasian Tuan Felix nungguin sampai melihat ke arah sini dengan tatapan tajam nya," Kevin melirik pria di dalam mobil yang bombastic side eye.


"Biarin aja, salah sendiri juga tiba-tiba sikap nya kek gitu," malah Liana membenarkan tas nya.


"Ayah aku pulang yah, jaga diri Ayah di sini jangan sampai sakit,"


"Iya, kamu juga,"


"Pasti! Dah Ayah!" Liana melambaikan tangan nya berjalan menjauh.


"Dah, hati-hati!"


"Ah begitu, setelah lama ku tunggu 1 jam di mobil kau bersikap tak peduli pada ku?" sinis Felix.


Liana menghela nafas lalu menoleh dengan santai.


"Itu Tuan sendiri yang mulai, dari awal Tuan menjemput ku dengan keadaan bad mood!"


"Aku begini bukan karena mu!"


"Dan kemudian sasaran nya pada ku!" tak kalah kesal.


Felix dan Liana saling menatap sengit, ntah apa yang merasuki mereka hingga sampai mendapat momen seperti ini. Jarang sekali mereka bertingkah seperti ini, kecuali melanda kekesalan biasa tak sampai adu mulut.


Liana mengalihkan pandangan menatap depan seolah-olah tidak peduli, rasa nya Felix ingin memberi hukuman namun bukan saat nya. Hari ini adalah hari yang buruk bagi Felix.


Tak menunggu lama lagi Felix tancap gas meninggalkan halaman rumah Kevin.


Kevin melihat mobil bergerak sedikit bingung.


"Mereka bertengkar?" gumam Kevin menggaruk kepalanya.


•••


Sesampainya di rumah, Liana dan Felix keluar dari mobil. Pandangan pertama yang di lihat Liana adalah banyak nya pasukan di samping rumah luas, apakah ini ada latihan lagi?


"Jalan!" sentak Carlos menunjuk sebuah bara api yang masih menyala di depan nya menggunakan tongkat besi panjang di tangan nya.


4 orang itu sudah gemetar melihat tumpukan bara di hadapan bahkan layak nya jalan aspal.

__ADS_1


"Ini hukuman bagi seorang pengkhianat! Kalian masih beruntung bisa berjalan di atas bara api, belum berjalan di lahar gunung berapi!" tegas Carlos.


Liana terdiam melihat aksi itu, apakah mereka menyiksa orang-orang nya sendiri?


"Kau ingin lihat dari dekat? Sini!" Felix menarik tangan Liana.


"Eh! E–enggak!" tolak Liana menahan diri.


"Ini juga sebagai pelajaran agar kau tidak berani dan melawan ku!"


"A–aku tidak akan melawan, le–lepaskan aku!" Liana memberontak.


Arion mendengar suara ribut di belakang nya, ia pun menoleh ternyata seorang gadis tengah di tarik paksa oleh teman nya sendiri.


"Felix!"


Felix dan Liana menatap Arion secara bersamaan, Arion pun berjalan menghampiri ke duanya. Felix melepas cengkraman nya mengalihkan pandangan dengan kekesalan.


"Apa-apaan ini?!" menatap Felix.


Namun Felix tak menjawab ia masih dalam keadaan emosi. Tak menjawab, Felix malah pergi begitu saja. Liana menatap punggung Felix yang pergi menjauh dari nya bahkan bergabung dengan yang lain saja tidak malah masuk ke dalam rumah.


Arion menghela nafas kemudian menatap Liana yang memegang pergelangan tangan.


"Sakit?" tanya Arion memegang pergelangan tangan Liana.


"A–ah, enggak, enggak kok,"


"Maaf, dia terbawa emosi,"


"Emosi kenapa?"


"Akan aku ceritakan nanti, sekarang masuk ke dalam untuk mengganti pakaian dan istirahat. Kita akan ketemu malam nanti," Chris mengec*p b1bir Liana.


Liana sempat terdiam lalu mengangguk, ia pun pergi meninggalkan Arion dan masuk ke dalam.


Arion kembali ke tempat nya tadi di mana Carlos tengah menghukum orang-orang nya.


"Masih tidak jalan?!" Carlos tersulut emosi.


Siapa yang mau berjalan di atas batu panas? Terkena api r0kok saja sudah bisa membuat kulit meleleh apalagi bara api?


Batas kesabaran Carlos menipis, ia mengambil senjata api yang di letakan di meja samping nya kemudian mengarahkan pada 4 anak buah nya.


"2 pilihan, jalan atau temb4k?!" Carlos.


Namun mereka tidak menjawab karena semua pilihan nya sangat lah menyakitkan, tubuh mereka basah kuyup karena keringat. Bahkan yang menonton saja sudah merasa tegang mana ini di saksikan oleh mereka secara langsung, agar menjadi pelajaran bagi mereka yang berani berkhianat.


"JAWAB!!"


"TEMB4K!"


DOR!


DOR!


DOR!

__ADS_1


__ADS_2