Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia

Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia
Bab 58


__ADS_3

"Mungkin saja sengaja biar kamu bisa masuk," Revan.


"Huh!" desus Liana.


Ia pun meletakan makanan di atas meja dan membuka tasnya untuk menulis surat. Setelah ia tulis, Liana melipat kertas tersebut dan di selipkan di bawah plastik.


"Udah, yuk pulang."


"Ku kira kau beli banyak cemilan untuk mu sendiri,"


"Enggak juga, aku beli banyak sisa nya di tas,"


"Kau mau mampir di toko?"


"Untuk apa?"


"Beli cemilan untuk mu,"


"Ah tidak usah, ayok pulang," Liana mendorong tubuh Revan untuk segera keluar.


***


Liana dan Revan sampai di rumah dan mendapati 4 pria yang berada di luar mengobrol depan rumah. Itu kan Arion, Edgar, Kenzo dan Lucas?


Arion tersenyum melihat seorang gadis tengah mengobrol bersama Revan.


"Hay sayang ... aku merindukan mu," Edgar memeluk Liana kala gadis ini berjalan mendekat.


Liana yang tadi nya sedang asik mengobrol terkejut karena tiba-tiba di peluk.


Cup


Lino mengecvp lยฃher Liana kemudian melepaskan pelukan nya, dan tersenyum.


"Bagaimana hari mu?"


"Seperti biasa,"


"Kau merindukanku?"


"Tidak,"


"Ck! Tidak apa kok, yang penting aku merindukan mu," senyum Edgar mengecup b1bir Liana berkali-kali.


"Hentikan!" menjauhkan b1bir Edgar.


"Gemas soal nya," kekeh Edgar, Liana melempar lirikan kesal, kemudian ia menatap 2 pria di samping Edgar dan depan nya. Arion dan Kenzo.


"Hanya Edgar saja?" Kenzo menatap mengg0da.


"Aku tidak melakukan apa pun," alih Liana.

__ADS_1


"Maksudnya yang boleh mencivm mu? Apa aku tidak boleh?" senyum Kenzo.


Liana melirik Edgar dan yang lain, ih pada kenapa sih menatap ku? Batin Liana.


Mereka pun terkekeh melihat tingkah Liana yang semakin lama semakin menggemaskan. Apalagi sekarang sudah berani melirik dengan bombastic.


Kenzo dengan enteng nya mengangkat tubuh Liana seperti menggendong anak kecil. Gadis itu membulatkan mata menunduk menatap pria yang menggendong nya.


"Hey, turunkan aku!"


"Sayang, seperti nya kau perlu banyak makan deh. Tubuh mu seperti kapuk, takut nya jika ada angin kau melayang," kata Kenzo sukses membuat Liana kesal.


"Apa maksud mu? Ini sudah ideal!" tak terima.


"Iya, kau ideal untuk ku," Kenzo berjalan masuk ke dalam sambil menggendong Liana hanya dengan satu tangan kekar nya.


"Hey! Turun kan aku!"


***


Malam nya Kevin kembali ke rumah ia berjalan ke arah ruang tamu untuk melepas sepatu nya namun ia melihat sebuah plastik berisi makanan di atas meja. Kevin terheran, sejak kapan ia menaruh makan dan membeli makanan?


Ia melihat sebuah lipatan kertas kala ia mengangkat plastik. Ia membuka lipatan tersebut.


โ€œ๐˜ˆ๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜›๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข-๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข. ๐˜’๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ˆ๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ. ๐˜”๐˜ข๐˜ข๐˜ง, ๐˜“๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ˆ๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜“๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ค๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข. ๐˜‹๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฉ!


๐˜š๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ˆ๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ถโ™ก


๐˜‹๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ต๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ค๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ(โœฟโ— โ€ฟโ— )โ€


"Dasar curut," Kevin menggelengkan kepalanya. Ia pun membawa plastik tersebut untuk di panaskan kebetulan ia juga lapar.


Sedangkan di sisi lain.


Liana duduk di atas pangkuan Arion sembari membaca buku dan bersandar ditubuh Arion, Arion memainkan ponsel sembari tangan satu nya memeluk perut Liana.


โ€œ๐˜›๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜›๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ. ๐˜—๐˜ฐ๐˜ด๐˜ช๐˜ด๐˜ช ๐˜ˆ๐˜ณ๐˜ท๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ด,โ€


"Terus pantau!"


โ€œ๐˜‰๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ, ๐˜›๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ!โ€


Isi chat dari Ravin, Arion tersenyum senang karena ia berhasil menemukan posisi musuh nya. Tinggal buat rencana lain nya saja, tapi harus berhati-hati karena musuh ada di kotanya sekarang.


Arion menunduk menatap Liana yang sedang sibuk membaca, semenjak Liana datang bukan ia tak pernah dekat dengan gadis ini, tapi sekarang ia akan bersenang-senang dengan nya.


Arion mengambil buku yang di pegang Liana, gadis itu membulatkan matanya.


"Eh? Apa yang kau lakukan?"


"Aku ingin waktu nya sebentar," Arion menaruh buku di meja kecil samping nya.

__ADS_1


"Ada apa?"


Arion menatap wajah Liana, suka saja memandang nya seperti tidak ada rasa bosan-bosannya ditambah wajahnya masih baby face pasti banyak yang mengira gadis ini masih anak SMA.


Tangan Arion mengusap pipi Liana.


"Apa kau benar-benar tak merindukan ku?"


"Biasa aja," Liana menatap arah lain.


"Ya karena aku pergi cuma 1 hari, pasti nya tidak kangen,"


"mau kau pergi 1 tahun pun aku biasa saja,"


"Kau yakin?"


"Ya!"


Arion tersenyum lalu ia mengubah posisi Liana dari duduk menjadi tidur dipangkuan nya, karena mereka berada di sofa tunggal jadi kedua kaki Liana tergantung di lengan sofa. Gadis itu membulatkan mata nya terkejut.


"Apa-apaan ini?"


Arion tak menjawab nya malah ia *****4* b1bir Liana. Liana sempat terdiam namun untuk apa memberontak toh ini sudah hal biasa juga jadi gak usah munafik deh. Liana menutup mata nya dan membalas *****4n Arion.


Arion senang bahwa gadis ini bisa membalas *****4n nya, dan tak memberontak walaupun masih ada perdebatan kecil sebelum memulai. Sekarang ia hanya menunggu Liana yang menerima semua nya, dari diri nya, yang lain hingga kedepannya.


Jika saja yang mencintai Liana hanya 1 sudah pasti mereka sudah menjalin hubungan dengan serius. Karena mencintai 8 orang sekaligus itu butuh waktu yang lama apalagi Liana tak pernah berhubungan dengan pria mana pun jadi masih sedikit sulit menaklukkan nya.


Arion melepaskan paut4n dan menatap Liana.


"Setelah kau lulus kuliah, kau bersedia menikah dengan ku?"


Liana terdiam. Menikah dengan nya? Tapi, bagaimana yang lain?


"Dengan mu? Yang lain?"


"Iya yang lain juga, kita akan menikahi mu,"


"Aku tidak tahu," mengalihkan pandangan.


"Cinta akan datang sendiri, jadi kau tak perlu memaksa kan diri untuk mencintai 8 pria," jedanya "Jujur saja, sebenarnya aku tidak mau berbagi wanita dengan teman sendiri. Tapi ya, kita jalani saja dahulu. Masalah itu kita pikirkan lagi dengan matang, anggap saja perjalanan cinta kita baru dimulai."


Gadis itu terdiam menatap b1bir Arion, sebenarnya banyak waktu untuk menerima semua nya. Namun jika begini ia seperti di desak dan HARUS mencintai mereka. Seandainya saja hanya Arion mungkin saat ini ia mulai mencintai nya.


Arion mengusap b1bir Liana kemudian mengecvp nya lembut.


"Tidak usah terburu-buru, aku selalu menunggu mu," senyum tipis.


Liana mengangguk kecil. Arion tersenyum tipis.


"Mau tidur?" tanya Arion.

__ADS_1


"Hmm,"


Arion mengangkat tubuh Liana dan berjalan ke kamar.


__ADS_2