
Liana berusaha melepaskan ikatan di tangan nya. Saat ini ia di tahan oleh musuh Arion dan mafia yang lain nya, sudah 1 hari ia di kurung dan ditali menggunakan tali basah. Tak hanya tangan kaki pun diikat jadi Liana benar-benar tak bisa bergerak.
Di rumah ini tempat nya sama seperti di tempat sebelum nya ia ditahan dulu, tapi bagaimana mungkin? Rumah Arvin sudah di hancurkan oleh Arion bersama anak buah nya lalu ini rumah siapa?
Tapi Liana tidak peduli tentang itu, yang ia pikirkan adalah cara ia lepas dan keluar dari rumah ini. Saat waktu itu, bukan Arvin yang menculiknya melainkan adik nya yaitu Marvin. Alat komunikasi nya disita oleh mereka jadi Liana tak bisa menghubungi Ayah nya atau ... mafia itu.
Liana tidak mau menyerah dan terus berusaha, tapi jika dipikir lagi seperti nya sia-sia. Melepas tali saja tidak mungkin apalagi mencoba kabur? Liana berdecak kesal, ia sudah lelah berusaha melonggarkan ikatan tali hingga keringat nya bercucuran.
Ia melihat ke arah jendela transparan. Hari sudah gelap, itu arti nya ia akan tinggal lagi di sini. Apakah akan selama nya? Mereka sudah membawanya jauh dari kotanya, ia juga tidak tahu ini di mana saat mereka membawa Liana dalam keadaan tak sadarkan diri. Benar-benar licik!
Air mata lolos dari mata Liana, ia sangat takut, sangat merindukan sang Ayah, ia ingin kembali, di sini sangat mengerikan. Bukan hanya tempat melainkan orang-orang yang ada di sini, Liana lebih suka bersama 8 mafia itu dari pada 2 mafia yang mengerikan ini.
Ia teringat di mana mereka juga hampir menyentuh nya. Bagaimana jika mereka melakukan hal yang lebih? Jika ingin membunuh itu lebih baik dari pada di sentuh oleh pria-pria hidung belang.
Cklek!
Pintu terbuka, Liana mendongak melihat sepasang kaki berjalan ke arah nya. Mata Liana bergerak ke atas untuk melihat siapa pria itu.
__ADS_1
Marvin.
Liana sangat tidak menyukai pria ini, walaupun dia tampan namun dia lebih menyeramkan dari pada Arion. Marvin tersenyum lalu berjongkok di depan Liana yang menatap nya sinis.
"Kau menangis?" Marvin mengusap pipi basah Liana.
Liana menjauh kan wajah nya, tak ingin di sentuh oleh pria ini.
"Kau menangisi apa? Kau merindukan mereka?" tanya Marvin seolah-olah perihatin.
"Bukan urusan mu!" sinis Liana.
"Kau gadis bod0h, lebih memilih tinggal bersama mereka dari pada kabur," Marvin mengelap kening Liana menggunakan tissue.
"Setidak nya mereka tak seperti kau dan kakak mu itu!" sinis Liana menghindari tangan Marvin.
"Memang kenapa? Aku rasa aku tak melakukan apa pun hingga kau bisa membandingkan kita"
__ADS_1
"Sudah sangat jelas perbandingan nya, bahwa kalian pengecut yang hanya sembunyi di balik pohon!"
Marvin menatap Liana, ada rasa kesal dikit namun Marvin tidak mudah tersulut emosi seperti kakak nya. Mungkin hanya kesal saja tidak sampai murka, ia akan marah saat sudah benar melewati batas.
Marvin mencengkeram rahang Liana dan mendekatkan wajah mereka. Liana menatap tajam dengan menggertakan gigi nya.
"Kau tahu? Alasan ku sembunyi di pohon?"
"Kau tak memberitahu pun aku sudah tahu. Kau mengincar ku, kan?!" tekan Liana.
"Ternyata kau tak sebod0h yang ku kira. Apa kau tahu alasan ku menculik mu?" senyum Marvin.
Liana tak merespon, juga ia tidak tahu tujuan nya apa dan masalah nya apa? Lagian ia tidak merasa bahwa ia punya masalah dengan mereka, berhubungan saja tidak.
"Melemahkan mereka ...." pelan Marvin.
Liana belum mengerti maksud Marvin, melemah kan mereka? Mereka siapa?
__ADS_1
"Mereka dibutakan oleh cinta, sehingga mereka lupa posisi mereka saat.