Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia

Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia
Bab 40


__ADS_3

Sebuah mobil mewah berwarna hitam memasuki halaman rumah dan berhenti di sana, lalu keluarlah seorang pria yang tak lain adalah Arion, seperti nya dia baru saja keluar sendiri, biasanya ia selalu membawa sopir untuk mengemudikan nya.


Ia berjalan santai memasuki rumah, terlihat wajahnya juga tampak kebingungan dan banyak pikiran, setelah masuk ke dalam ia terdiam kala melihat beberapa orang di ruang tengah namun pandangannya memfokuskan pada seorang gadis yang seperti terdiam mendengar ucapan yang lain.


"Liana?"


Suara Arion membuat mereka menoleh, Arion dan Liana saling menatap kemudian Arion berjalan mendekat. Kini pria itu berdiri di samping Liana dan Liana duduknya menghadap pada Arion.


Arion menurunkan dadanya menghembuskan nafas kecil lalu berjongkok di depan Liana gadis itu sedikit membulatkan matanya.


"Ja–jangan berjongkok di situ, ka–kau bisa duduk di sini," ucap Liana bergeser dan menepuk sofa di sampingnya.


"Ternyata kau di sini," ucap Arion.


"I–iya?" lirih Liana heran.


Arion menghela nafas lega kemudian berdiri dan duduk di samping Liana, gadis itu langsung mematung kala pria ini duduk di sampingnya. Bukannya dia sendiri yang menyuruh Arion untuk duduk di sampingnya?


"Aku baru saja ke rumah mu,"


"A–apa? Kenapa?"


"Tadi nya ingin menjenguk mu,"


Liana mengangguk kaku, saat di perjalanan tadi juga ia tak bertemu Arion. Kemudian Arion merasa situasi ini sedikit mencengkeram apalagi cara tatapan teman-teman nya, kemudian ia melirik pada Liana.


"Ada apa ini?" tanya Arion, Liana menoleh hingga pandangan keduanya bertemu.


"Emm, a–ah iya, aku ke sini ingin me–"


Seketika Liana ingat ucapan Lucas tadi, apakah jika mengatakan ini Arion akan marah? Ia tau betul cara pria ini marah begitu menakutkan, jangankan marah tatapan saja sudah membuat bulu kuduk merinding.


"Ada apa?" Arion.


"Ehh, i–itu, a–aku ...."


Kevin tak mungkin akan diam saja melihat ekspresi dan rasa ketakutan putrinya, "Tuan, saya menghantar putri saja ke sini karena dia ingin berterima kasih pada Tuan dan yang lain,"


"Soal apa?"


"Soal di mana Tuan dan yang lain menolong nya karena terkena tembakan sampai membiayai rumah sakit, sampai ia sembuh."


"Jadi?"


"Dia membuatkan makanan sebagai ucapan terima kasih,"


Arion menatap Liana yang menatapnya dengan mata memerah dan b1birnya yang di gigit seperti ingin menangis, tapi bagi Arion begitu lucu dan menggemaskan apalagi kedua tangan Liana lurus mencengkeram rok nya. Namun ia merasa tak terima dengan cara Liana terterima kasih, karena apa?


Karena Liana adalah milik nya, seharusnya cara berterima kasih bukan seperti ini sebagai gadis milik mafia. Bukan seperti tetangga yang berterima kasih dengan membawakan buah tangan, bukannya banyak cara untuk melakukan itu selain membawa kan makanan?


Arion memijat pelipisnya, itu semakin membuat Liana takut.


"Baiklah-baiklah, aku terima semuanya. Tapi, aku ingin meminta sesuatu pada mu sebagai ganti ucapan terima kasih mu, bisa?"


Liana mengangguk pelan.


"Tinggal di sini."


Berdetak kencang gak tuh jantung Liana? Bagaimana bisa ia tinggal di sini sedangkan dirinya takut dengan mereka setelah mengetahui bahwa mereka mafia, bagaimana jika ia di culik lagi? Di tembak lagi, masuk rumah sakit lagi dan mungkin begitu seterusnya. Musuh itu bisa datang kapan saja apalagi modelan mafia, bahkan dalam sekejap pun musuh datang memasuki rumah ini.


Liana juga tak mau sampai Kevin, ayahnya juga terlibat. Apalagi sampai berperang seperti waktu itu.


"Tidak mau?"


Liana tersadar dari lamunan, "Ta–tapi, a–aku,"


"Apa?"


Liana tak bisa berkata-kata lagi, juga bingung mau ngomong apa. Arion sudah melirik nya dengan lirikan yang dingin.


"Jika kau tak terima, artinya kau tidak menghargai bantuan ku,"


Liana membulatkan mata, "Bu–bukan begitu, ha–hanya saja, a–aku,"

__ADS_1


Arion terdiam mendengarkan, namun Liana tak mungkin mengatakan bahwa dirinya takut pada mereka nanti bagaimana mereka tersinggung?


"Saya setuju!" mata memandang teralihkan pada pria di samping Liana yaitu Kevin, Liana awalnya terdiam mematung sejenak lalu ikut menoleh menatap ayahnya.


"A–ayah,"


"Kenapa tidak? Asal kalian tak menyakiti putri saya,"


"Jika dia tinggal di sini hanya di sakiti lebih baik pergi saja dari pada membuang waktu," Edgar dengan kejujuran nya.


"Tidak akan," Arion.


"Ayah, apa yang ayah katakan?" bisik Liana.


"Terima saja, jika tidak, benar kata nya kau sama sekali tak menghargai bantuannya."


"Ta–tapi–"


"Tidak apa." Kevin mengusap rambut putrinya, Liana masih tak percaya dong dengan persetujuan dari sang ayah bukanya Kevin tau sekarang itu dia menahan ketakutannya.


"Kau mempercayai ku?" tanya Arion pada Kevin, Kevin menatap Arion lalu memalingkan wajahnya.


"Selagi anda benar berniat baik," Kevin.


Arion tersenyum samar lalu menatap Liana yang sedang menatap Kevin. Kemudian Arion mengambil kotak makanan yang di depan Liana dan membuka satu persatu untuk melihat isi dari semua tumpukan wadah.


"Mulai sekarang kau tinggal di sini," Arion menyuapkan tar buah ke dalam mulutnya, seketika Liana tersadar dan menoleh pada Arion yang sedang memakan kue buatan nya.


Terlihat Liana masih bingung untuk menjawab dan mencari alasan agar ia tak tinggal di sini.


"Ayah mu menyetujuinya,"


"Ayah tinggal sendiri, ja–jadi aku ingin menemaninya, aku tak bisa meninggalkan nya," Liana.


"Bisa juga Ayah mu tinggal di sini," sahut Kenzo.


"Tidak bisa, saya tidak akan mengosongkan rumah itu!" Kevin, rumahnya sangat berarti dan banyak kenangan dirinya dengan sang istri jadi ia tak akan mengubah rumah nya bahkan menjualnya apalagi sampai mengosongkan nya.


"Kenapa?" tanya Carlos


Mereka mengerti maksud Kevin, seketika Liana mengangguk cepat.


"Ya! Aku–"


"Kau tidak kemana-mana," potong Arion, tentu saja ia tau bahwa Liana pasti mengambil kesempatan untuk beralasan. Liana melirik lalu memajukan b1birnya kesal dan emosinya tercampur, Arion tau gadis ini sedang kesal namun ia hanya diam saja.


"Ya sudah, saya titip putri saya dan jaga dia baik-baik," ucap Kevin.


"Seorang mafia selalu menepati janji" Elvano.


"Saya percaya, kalau begitu saya pamit,"


"Ayah!" tahan Liana memegang lengan Kevin kala ingin berdiri.


Kevin tersenyum mengusap kepala Liana, "Lain kali Ayah akan mengunjungi mu lagian Ayah sibuk kerja dari pada kamu sendirian di rumah?"


"Kan sudah terbiasa, gk masalah kok aku sendiri di rumah!"


"Ayah gak tenang sayang jika kamu sendirian di rumah, nanti jika orang jahat masuk ke dalam rumah saat Ayah gak ada gimana? Di sini kan ada mereka yang jaga kamu,"


"Tapi Ayah–"


"Ssstt, gak apa kok. Ayah harus kembali karena sudah 1 minggu Ayah ambil cuti di kantor ini saja sudah dapat panggilan lagi oleh atasan Ayah," Kevin melepaskan genggaman Liana


"Tolong jaga putri saya yah," pinta Kevin, Arion dan yang lain mengangguk kemudian Kevin pergi. Beberapa saat Liana terdiam lalu berdiri untuk mengejar Kevin namun Arion menahan tangannya.


"Aku ingin bicara dengan Ayah, lepasin!" berontak Liana, mau tak mau Arion pun melepaskan tangan Liana baru lah gadis itu keluar sembari memegang perutnya yang terluka.


"Kenapa kau lepasin? Dia bisa saja kabur!" Carlos, namun Arion diam saja.


.


"Ayah!" teriak Liana dan Kevin berhenti lalu berbalik.

__ADS_1


"Kenapa kau keluar?" Kevin. Sekarang Liana berada di hadapan ayahnya.


"Ayah tidak sayang sama Liana?!"


"Apa maksud Liana bilang begitu?"


"Bagaimana bisa Ayah menyerahkan ku dan menyetujui syarat dia?! Ayah tau kan kalau Liana masih belum sepenuhnya percaya sama mereka? Bahkan jika aku tinggal di sini pasti musuhnya bisa datang kembali, seperti waktu itu mereka bisa masuk ke dalam rumah dan membawa ku pergi!"


"Liana, bukannya Ayah tak sayang pada mu tapi, justru sebaliknya. Musuh mereka sudah tau kalau Liana adalah kelemahan mereka, jadi jika Liana tinggal bersama Ayah bukannya akan lebih bahaya?"


"Ya–ya tapikan–"


"Liana dengerin Ayah," Kevin memegang pundak Liana, "Ayah sayang sama Liana, Liana adalah putri kesayangan Ayah mana mungkin Ayah menyerahkan pada orang yang salah? Ayah percaya pada mereka, mereka bisa menjaga mu seperti Ayah menjaga mu, menyayangi mu, dan mencintai mu. Jika Ayah tak percaya pada mereka, mana mungkin menyerahkan putri Ayah pada orang yang salah?"


Liana menatap ayahnya, tak bisa berkata-kata.


"Ayah juga sibuk kerja pulangnya juga lebih lambat dari mu, dan Ayah juga tidak bisa meninggalkan rumah ibumu, kenangan dulu," jujur saja Kevin juga sangat berat untuk pisah dengan putrinya, mana keluarga yang ia punya hanya lah Liana.


"Ayah pulang dulu yah, nanti kalo ada waktu Ayah akan mengunjungi mu," senyum nya.


"Aku akan menyuruh orang ku untuk menghantar mu pulang," ucap seseorang di belakang tak jauh dari mereka, ternyata Arion.


Arion berjalan mendekati Kevin dan Liana, "Naiklah ke mobil itu, aku sudah menyuruhnya untuk menghantar mu,"


Kevin mengangguk, "Terima kasih, kalau begitu saya permisi." sembari mengusap kepala Liana yang hanya diam termenung.


Kevin masuk ke dalam mobil lalu mobil itu bergerak menjauhi halaman rumah menuju gerbang, setelah gerbang terbuka mobil itu melaju di jalan.


Arion menghela nafas lalu menatap Liana yang masih terdiam.


"Ingin jalan sendiri atau di gendong?" tanya Arion membuat Liana tersadar lalu menggelengkan kepalanya.


"Ayo masuk, cuaca semakin panas," menarik lembut tangan Liana.


Liana dan Arion duduk di sofa, Liana hanya diam memegang rok nya sedangkan Arion malah makan kue yang di buat Liana, tak hanya Arion melainkan yang lain juga ikut menghabiskan karena Liana membuatnya banyak.


"Emm enak banget, boleh dong setelah ini kamu bisa membuat nya lagi," ucap Lucas, namun langsung dapat pukulan dari Edgar yang di sampingnya.


"Kalo kau terluka, mau gak ku suruh sana sini?!" lirik Edgar.


"Ogah banget!"


"Itu juga sama gobl*k, dia masih terluka dan kau mau dia gerak di dapur?!" ngegas Edgar.


"Maksud ku, setelah sembuh!" Kesal Lucas.


"Ucapan kau beda yah tadi!"


"Beda dikit,"


"Sama aja gobl*k!!"


"Cukup!!!" sentak Kenzo yang kesal mendengar keributan terus-menerus.


Liana hanya bisa menatap mereka tapi ia baru sadar bahwa Revan tak ada di sini, dan bukannya pria itu juga sama tertembak seperti dirinya? Liana melirik Arion yang sedang mengunyah menatap datar ke arah teman-temannya, jadi ragu buat bertanya.


Sadar bahwa dirinya di lirik, Arion kembali melirik dan membuat Liana langsung mengalihkan muka ke samping.


"Ada yang ingin kau katakan?" tanya Arion.


"Ah? E–emm, a–aku," gugup nya.


"Katakan saja, aku tak akan memakan mu,"


Liana menarik nafas lalu menghembuskan nya perlahan menetralkan kegugupan nya.


"A–aku, cuma ingin bertanya,"


"Tanyakan saja,"


"Di–di mana Revan?"


Hening, tidak ada salah satu dari mereka menjawab, bahkan Arion saja berhenti mengunyah dalam beberapa detik kemudian kembali mengunyah nya pelan.

__ADS_1


"Kau ingin menemui nya?" tanya Arion, Liana mengangguk. Arion menelan makanannya lalu berdiri dari duduknya.


"Ayo!"


__ADS_2