Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia

Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia
Bab 26


__ADS_3

"David! Apakah semua anak buah mu sudah di arahkan?!" Carlos


"Sudah, Tuan. Sepertinya mereka semakin mengurang, bagaimana ini Tuan?" Tanya David mendesak, Carlos terdiam kemudian menatap 2 teman nya yang masih setia menembak. Jika terus menembak mereka akan cepat kehabisan peluru apalagi waktu yang singkat, tapi jika mundur... Bisa-bisa mereka akan lebih mudah memasuki markasnya.


"Apakah kita mundur saja? Yohan & Ravin pun belum datang membantu pasti mereka juga mendapat serangan yang sama seperti kita, dan sebentar lagi peluru Tuan Kenzo & Felix akan habis. Ini akan mengakibatkan Tuan dan yang lain terluka" Ujar David.


"Sepertinya begitu, tak ada cara lain" Carlos sudah tak bisa berfikir, ia tak peduli markas hingga isi nya di ambil mereka yang penting adalah nyawa!


"Kenzo! Felix! Kita mundur saja!" Teriak Carlos, kedua pria itu menoleh sekilas lalu kembali memfokuskan diri pada musuh.


"Apa maksud mu?!" Felix.


"Kita tinggal kan tempat! Tidak ada cara lain!"


Kenzo & Felix saling menatap mereka mengerti dalam situasi seperti ini Carlos berbicara dengan kebenaran, tidak mungkin bercanda. Terpaksa Kenzo, Felix, Carlos & David pergi menjauh dari musuhnya.


.


"Sial! Mereka bukannya mengurang malah bertambah!" Umpat Lucas bersembunyi di balik dinding rumah begitu pun Edgar dan pria yang di samping Lucas.


"Ravin! Kita tidak bisa menangani ini, apakah kau membawa semua anak buah mu?" Edgar.


"Tentu, tapi sama saja di sisi lain mereka juga sedang melawan. Jumlah musuh lebih banyak dari anak buah yang kita bawa!" Ujar pria yang bernama Ravin.


"Aaghkk! Kenapa mereka selalu menyerang dengan mendadak?!" Kesal Lucas.


"Jangan banyak bicara! Bagaimana pun kita harus mengalah kan mereka!!" Edgar menjalan kan aksi menembaknya dan di ikuti oleh 2 pria. Mereka tidak tau ini akan berhasil atau tidak, bisa mengalahkan musuhnya atau pun tidak, namun dengan berusaha siapa tau mereka bisa merubah yang tidak mungkin menjadi mungkin.


Para mafia itu melawan di sisi yang berbeda-beda, mereka saat ini sedang berjuang melawan musuh. Mereka tidak terlalu yakin melihat segerombolan orang selalu bertambah sedangkan anak buah mereka semakin mengurang, jika tau nya ini akan terjadi mereka pasti akan menyiapkan semua nya hingga senjata ataupun sekedar menyusun rencana walaupun kecil.


Kemungkinan besar mereka akan merelakan sebagian harta demi menyelamatkan jiwa, bukannya mereka menyerah namun keterbatasan anak buahnya sudah tak bisa di perkirakan. Sekarang yang menjadi masalah utama adalah senjata, seiring menembak semakin mengurang peluru.


"Aaghkk!!" Ringis Edgar mendapat tembakan tepat bagian lengannya, Lucas & Ravin yang melihat Edgar tertembak langsung menghampiri nya.


"Edgar!/Tuan!" ucap Lucas & Ravin bersamaan.


"Aku... Baik-baik saja, aghk!" Memegangi lengannya yang lemas dan menahan sakit.


"Sebaiknya kita mencari tempat yang aman!" Lucas memapah Edgar sedangkan Ravin berjaga-jaga dari belakang agar tak ada yang bisa menyakiti Tuan nya lagi.


Lucas membawa Edgar ke tempat belakang pagar gedung dan perlahan mendudukan Edgar di bawah.


"Ssshh" eram Edgar menyandarkan kepalanya di dinding pagar sambil menutup matanya menahan sakit.


"Sepertinya kali ini kita mundur saja, Tuan" saran Ravin.


"Apa?! Mundur?" Pertanyaan Lucas dengan sedikit menekan, mereka tak pernah mundur dari peperangan sebesar atau sekecil konflik ini mereka tak pernah mengatakan Mundur, bahkan berfikiran menyerah saja tidak. Ravin diam saat melihat ekspresi Lucas yang tak setuju.


"Tidak! Aku tak akan mundur, apapun yang terjadi tujuan kita ke sini adalah mengalahkan mereka!" Tegas Lucas, Ravin hanya diam ia juga bingung harus bertindak bagaimana. Ia merasa khawatir jika Tuan nya terluka lagi.


"Ravin benar... Kita, mundur saja.." setuju Edgar, Lucas menatap nya tak percaya.


"Yang benar saja kau ini!"


"Lucas! Kau mau tewas di tangan anak buah nya? Untuk saat ini aku belum siap mati! Situasi seperti ini tidak bisa dimanfaatkan, kita kalah jumlah, tak mempunyai rencana, jumlah mereka lebih besar 3 kali lipat di banding anak buah kita! Untuk kali ini saja kita mundur..." Jelas Edgar, Lucas masih belum menerima semua nya tapi jika di pikir-pikir benar juga untuk saat ini lebih baik mundur. Melihat Edgar yang terluka ia pun tak bisa memaksa untuk melawan.

__ADS_1


Setelah Lucas setuju dengan terpaksa, ia memapah Edgar lagi untuk pergi dari tempat sebelum para musuhnya mengetahui mereka di sini.


***


Setelah Revan dan Elvano berhasil mengalahkan para penyusup mereka menghela nafas kasar menatap mayat-mayat tergeletak di lantai rumah mereka.


"Bisa-bisa nya mereka datang" desah Revan menendang lengan salah satu mayat di depannya.


"Tunggu, kenapa mereka menyerang? Bukannya peperangan ada di AS?" Heran Elvano ia merasa ada hal yang mengganjal di pikiran nya, seharusnya mereka bergabung melawannya anak buahnya dan temannya, bukan malah menyerang di rumah.


Tiba-tiba suara helikopter terdengar di telinga Revan dan Elvano ,keduanya mendongak ke atas mencari sumber suara tersebut, mereka keheranan.


"Helikopter? Secepat itu kah mereka selesai menyerang?" Heran Revan.


"Ku rasa begitu,.."


"REVAN!!" Teriak seorang gadis membuat keduanya terkejut membulatkan mata hingga saling menatap.


"Liana?!" Revan dan Elvano bergegas menaiki lift agar cepat sampai di lantai atas.


Brakk!!


Revan mendobrak pintu kamar, mereka membulatkan mata melihat ke luar balkon di mana sebuah helikopter melayang di sana, dan terlihat seorang pria memegang tangan gadis di pintu helikopter.


"LIANA!!" Teriak Revan, ternyata orang yang mereka lihat adalah Marvin dan Liana. Marvin tersenyum tipis menatap 2 pria yang sedang berdiri di balkon apalagi tatapan tajam yang mereka berikan.


"Kembali kan gadis itu ber*ngs*k!! " Lantang Revan.


"Gadis ini? (Mengangkat tangan Liana) tenang lah, aku hanya akan membawa nya pergi setelah itu aku tetap akan mengembalikannya dengan keadaan yang tidak lengkap" menyeringai senyuman. Revan dan Elvano mengeraskan rahangnya.


"Boleh, aku akan menjatuhkan mu dari sini" jarak helikopter & balkon kamar hanya berjarak 5 meter jadi kemungkinan besar Revan juga tak bisa meraih atau meloncat ke helikopter itu. Jarak helikopter & tanah juga tinggi & jauh mungkin sekali jatuh sudah nyawa melayang.


Liana menatap sinis ke arah Marvin.


"Dia tak ada hubungan nya dengan masalah kita!!" Elvano.


Marvin tersenyum "Oh ya? Dengarkan aku! Alasan aku membawa nya itu karena kalian terlalu lalai dalam bekerja sebagai mafia. Karena gadis ini kalian menjadi tidak fokus, biasanya serangan yang di berikan oleh kakak ku kalian bisa mengalahkan nya dan siap akan ada penyerangan. Sekarang lihat lah, mereka mudah mengalahkan anak buah mu dan teman-teman kalian. Ck, sekarang kalian menjadi lemah akibat datangnya gadis polos ini " Remeh Jeno menoleh ke arah Liana " Jadi, aku harap dengan pergi nya gadis ini kalian bisa seperti dulu agar peperangan kita menjadi semakin seru dan menyenangkan. Tidak membosankan seperti malam ini... sampai jumpa di kemudian hari Hahahaha " tawa jahat Marvin.


Helikopter yang di tumpangi Marvin pun bergerak menjauhi balkon kamar dengan membawa Liana pergi.


"Lepas! Revan!!... Tolong aku!! REVAN!! " Teriakan Liana semakin mengecil karena helikopter terbang semakin jauh.


Liana mencengkeram kuat di palang pagar balkon dengan tatapan tajam ke arah helikopter itu, begitu pun dengan Elvano yang mengepalkan kedua tangannya.


𝘛𝘢𝘯𝘨!!


Revan memukul pagar balkon keras, emosinya melunjak mengusap gusar wajahnya. Sayang sekali ia tak bisa mengejar nya walaupun menggunakan mobil pun tak akan bisa, lihat lah gadis yang tak ada hubungan nya dengan masalah mereka pun di bawa pergi oleh adik dari musuhnya yaitu Arvin.


𝘉𝘳𝘢𝘬!


𝘗𝘳𝘢𝘯𝘨!


Benda yang ada di sekitar menjadi sasaran melampiaskan amarah Revan dan Elvano, mereka tidak mengetahui jika semua ini di rencanakan oleh pria ber*sgs*k itu. Rasa tak tenang setelah kepergian gadis itu di tambah jika teman lainnya pulang mengetahui kejadian ini, bagaimana bisa ini terjadi secara bersamaan? Bahkan kondisi di AS tidak lah baik.


"AAAGHKKK!!!!" Teriak Revan menjambak rambutnya sendiri, merasa menyesal bahwa tak bisa melindungi gadis nya.

__ADS_1


"Akan ku habisi kau sudah mengambil gadis ku!" Gumam Elvino menatap tajam ke arah langit.


****


Benar saja mereka mundur dari peperangan ini karena sudah tak bisa melawannya kembali, Arion memerintahkan semua sisa anak buahnya untuk mundur menuju posisi masing-masing untuk pergi dari tempat, begitu pun dengan Johnny, Ravin, David & Yohanes mereka pergi menggunakan sisa mobil yang awalnya di tumpangi anak buah mereka.


Sedangkan Arion & yang lain menaiki helikopter nya, di sini yang terluka hanya Edgar & Felix kerena terkena tembakan bagian lengan yang sama namun lebih parah Edgar.


Tak menunggu lama Arion mengambil alih untuk menerbangkan helikopter segera menjauh dari tempat, mereka tak peduli markas nya akan di ambil alih yang penting keselamatan!


Di sisi lain di mana seorang pria duduk santai di kap mobil sambil merok0k menatap helikopter yang terbang menjauh, ia tersenyum puas.


"Selemah itu? Membosankan" ternyata dia adalah Arvin musuh dari Arion dan yang lain, kemudian pria itu mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Kembali, mereka sudah melarikan diri" Perintah Arvin kemudian mematikan nya lagi, Ia tersenyum menggelengkan kepalanya lalu berjalan santai memasuki mobil hitam nya.


.


Sesampainya di rumah mereka, Arion mendaratkan helikopter di latar rumah dan di susul beberapa mobil lainnya berhenti di samping helikopter tersebut. Kenzo membantu Felix dan Lucas memapah Edgar, darah yang bercucuran membuat Edgar semakin melemas akibat terlalu banyak darah yang keluar.


Mereka masuk termasuk Ravin, David, Doyoung & Johnny.


Alangkah terkejutnya saat memasuki rumah, selain berantakan namun beberapa mayat tergeletak dan lantai di penuhi bercak darah. Mereka tau penyebab ini pasti mayat-mayat ini menyelusup masuk ke dalam. Tapi, dimana Revan dan Elvano?


"Apa-apaan ini?!" Carlos berdecak pinggang melihat isi rumah yang seperti kapal pecah.


"Mereka seperti nya menyerang di sini juga" timbal Kenzo yang masih memapah Felix.


"Tunggu, di mana Revan dan Vano? " Tanya Lucas.


"Revan! Vano!" Panggil keras dari Carlos namun tak ada sahutan, mereka kebingungan.


"Kemana mereka?" Gumam Carlos


"Pelayan!!" Panggil Arion dengan lantang, lalu 3 pelayan datang sambil menunduk.


"Di mana penghuni rumah ini?!"


"Tu–tuan,.. Tu–tuan Revan & Tuan Vano tadi... Se–sedang ada di lantai atas..." Ucap terbata-bata salah satunya.


"Apa Liana juga bersama mereka?" Tanya Carlos, namun para pelayan itu malah diam.


"Jawab!!" Bentak Carlos.


"No–nona Liana... Di bawa oleh musuh anda..." Seketika mereka melebarkan mata menatap ke arah pelayan-pelayan itu, kecuali Johnny, Ravin & David karena mereka bertiga tidak tau tentang gadis yang di maksud Tuan nya.


Tanpa pikir panjang Arion berlari menuju lantai atas dan di susul oleh yang lain.


"Ravin, David. Kalian bawa dulu Edgar ke kamarnya dan obati luka nya.." perintah Kenzo.


"Baiklah, Tuan" ucap Ravin dan David bersamaan.


"Ti–tidak... A–aku akan ikut de–ngan mu..." Ucap Edgar melemah.


"Kau jangan khawatir, kita akan menangani semua nya. Lengan mu harus di obati dulu, Ravin, David bantu aku" 2 pria itu langsung mengambil alih Kenzo memapah Edgar.

__ADS_1


"Segera obati! Aku akan kembali" Kenzo pun menyusul yang lain, dan 2 pria itu membawa Edgar ke kamar.


__ADS_2