Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia

Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia
Bab 35


__ADS_3

Arion kembali ke ruangan dengan wajah datar namun sebenarnya ia lesu, tadi Arion meminta Yohanes untuk menjemput Kevin sedangkan Ravin dan David kembali bersama anak buah mereka lagian peperangan ini sudah berakhir namun tak selamanya.


"Bagaimana?" Tanya Felix, namun tak di respon oleh Arion pria itu lebih memilih duduk di kursi samping brankar milik Liana .Felix memutar bola matanya, memang susah bicara pada orang yang lagi badmood.


Arion menatap tangan Liana yang di capit benda panjang putih berselang di jari telunjuknya, bahkan melihat benda itu tercapit rasanya ia tak tega bukannya lebay namun ia juga tidak tau perasaan apa yang sedang di alaminya.


Awalnya Arion ragu untuk meraihnya karena ia anti-romantic jadi sangat kaku bahkan memegang tangan pun, tapi ini kesempatan nya untuk melatih diri sebelum gadis itu bangun. Sampai Liana bangun Arion tak akan mendapat kesempatan untuk memegang tangan nya.


Arion mengusap punggung tangan Liana menggunakan dua jarinya lalu ia raih lengan itu menjadi genggaman, dia sudah berusaha.


Arion menatap wajah Liana sembari mengelus tangan, ia tiba-tiba teringat sosok wanita yang melahirkan dulu. Sama persis dengan Liana, dimana seorang wanita terbaring lemah di kasur rumah sakit dengan alat-alat medis menempel di tubuhnya.


Dulu ibunya sakit demam tinggi sebelum kasus pembunuhan itu terjadi, Arion & sang ayah selalu setia menemani ibu dan istri bahkan dulunya keluarga mereka sangat harmonis, Arion saja anaknya ceria. Tapi, semenjak usia nya 14 tahun orang tuanya telilit hutang dan tak mampu membayar, dengan sadisnya kasus pembunuhan terjadi terhadap dua orang tua Arion karena tak bisa membayar hutang.


Ekonomi Arion dulunya pas-pasan, orang tuanya terpaksa berhutang karena Arion harus membayar sekolah yang belum lunas, pekerjaan orang tuanya hanya seorang petani dan penghasilan nya tergantung cuaca.


Dan begitu lah, setelah Arion mengetahui orang tuanya sudah tiada ia menjadi anak pembalas dendam, menjadi anak keras kepala, egois dan pemarah ia juga berjanji untuk membalas dendam atas kematian orang tuanya.


Akhirnya pembalasan itu tercapai 8 tahun lalu, sekarang ia menjadi pria yang sadis jika dalam pembunuhan namun tegas setiap bertugas. Arion bertemu dengan teman lainnya saat di usia 17 dengan nasib yang sama, jadi mereka berusaha untuk membalas dendam dan kini menjadi mafia kejam.


Dari usia remaja mereka tak ada waktu untuk memikirkan cinta-cintaan karena sibuk di dunia gelap, wajar lah mereka belum ada keromantisan tapi jika bermain wanita mereka juga jago. Nama nya mafia n4fsu itu sudah lumrah, ya gak?


Kepala Arion ia tundukan dan menempelkan keningnya di lengan Liana dan berharap gadis itu cepat sadar, teman-temannya hanya bisa diam menatap Arion dan ini baru pertama melihat pria itu seperti rapuh kedua kalinya setelah peninggalan orangtuanya.


Braak!


Pintu terbuka ternyata Kevin sudah datang menghampiri sang putrinya terbaring lemah.


"Liana!" Kevin mengusap kening Liana dan mengecek seluruh tubuh putrinya dan melihat perban di perut sudah di pastikan ini letak luka tembakan itu.


Kevin mengeluarkan air mata menunduk merasa gagal menjadi seorang ayah yang tak bisa menjaga keluarga, apalagi Liana adalah keluarga satu-satunya yang ia miliki dan kini apakah harus kedua kalinya setelah istrinya yang terbaring lemah di tempat brankar pasien?


Kevin mengusap air matanya lalu melirik ke arah Arion yang masih di posisinya, sebenarnya ia tau bahwa Kevin sudah di sini.


"Saya akan menggantikan posisi putri saya sebagai bayar hutang, saya mohon biarkan dia merasakan hidup dan bebaskan dia." Kevin.


Arion yang tadinya menutup mata kini ia buka dan membenarkan posisi nya untuk menatap pria paruh baya di hadapannya.


"Tidak!" Tolak Arion, Kevin tak memberi reaksi terkejut malah menatap serius.


"Liana tetap bersama ku, apa pun yang terjadi!" Egois? Tentu, tidak egois bukan Arion nama nya.


"Tapi Tuan sudah membuatnya celaka! Apa itu tidak cukup?!"


"Aku tidak peduli! Yang aku mau gadis ini tetap bersama ku!" bantah Arion "Aku akan melakukan apapun jika dia bersama ku" lanjut nya dengan bergumam menatap Liana.


Kevin menggelengkan kepalanya pelan ia baru tau ternyata pria ini lebih dari kata egois, dia bilang tidak peduli akan keadaan putrinya yang penting Liana bersama nya? Sudah gila kali.


"Terserah! Saya ayah kandungnya, jadi saya lebih berhak menentukan pilihan untuk kebaikan nya! Sekarang pergilah!"


"Aku tak akan pergi meninggalkan ruangan ini!! Memang kau siapa?! Jika bukan karena ku, kau tak bisa bertemu dengan nya!!" bentak Arion, Kevin sekarang tidak peduli jika mereka seorang mafia prioritas utama nya adalah Liana.


"Jika kau tetap memaksa ku pergi, aku tak akan segan menyeret mu keluar walaupun kau adalah ayah gadis ini!" Arion menatap tajam.


"Anda benar-benar manusia tak berhati!" Tunjuk Kevin.

__ADS_1


"Kau keberatan?" Tanya Arion, Kevin menahan diri untuk tidak memukul wajah mafia di depannya saat ini ia belum siap nyawanya melayang karena belum berinteraksi dengan putrinya.


"HEY!" Suara seseorang membuat Kevin menoleh kecuali Arion yang malah menatap wajah Liana.


"Jay tadi sudah bilang, biarkan Liana istirahat! Jika kalian ingin beradu mulut silahkan keluar, aku tidak mau gadis ku terusik karena kalian!" tekan Carlos, Kevin sempat mengerutkan keningnya.


Gadis ku?


Tapi Kevin tak menghiraukan ucapan nya ia malah duduk di samping Liana berhadapan dengan Arion kedua tangan Liana di genggam oleh 2 pria itu.


Menunggu sadar Liana adalah tugas mereka.


\*\*\*


Malamnya mereka masih berada di ruangan Liana setia menunggu. Mereka di temani oleh ponsel ada juga yang tidur di sofa atau kursi, Kevin tak berhenti berdoa agar putrinya bisa sadar ia tahu bahwa Liana putri yang kuat sejauh ini Liana tumbuh tanpa seorang ibu dan kuat menghadapi situasi mereka.


"Aghk..." suara lenguhan membuat mereka menoleh, ternyata Revan terbangun dari tidur panjangnya. Han datang mendekat.


"Akhirnya sadar juga kau." Elvano.


Revan masih dalam setengah sadar lalu membuka matanya yang pertama ia lihat adalah Elvano, lalu menatap sekeliling tempat.


Revan sedikit meringis memegang perutnya.


"Gak usah banyak gerak, kau belum sembuh." Elvano menahan tubuh Revan. Revan beralih menoleh ke arah samping di mana seorang gadis juga ikut tertidur dan membuka matanya lebar.


"Liana... " Gumam Revan hendak duduk namun di tahan oleh Elvano.


"Di bilang jangan banyak gerak, kau diam saja di sini!" kesal Elvano.


"Liana... Bagaimana keadaannya?"


Revan menidurkan kepalanya kasar lalu menoleh melihat gadis tertidur dengan banyak nya alat tertempel, sedangkan dirinya hanya memakai infus.


β€œπΌπ‘‘π‘’ π‘π‘Žπ‘ π‘‘π‘– π‘ π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘‘ π‘šπ‘’π‘›π‘¦π‘Žπ‘˜π‘–π‘‘π‘– π‘šπ‘’β€ batin Revan menatap tak tega, lalu ia melihat seorang pria paruh baya di depan Arion.


β€œπΎπ‘Žπ‘’ β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘’π‘  π‘π‘Žπ‘›π‘”π‘’π‘›, π‘Žπ‘¦π‘Žβ„Ž π‘˜π‘’π‘ π‘Žπ‘¦π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘› π‘šπ‘’ π‘šπ‘’π‘›π‘’π‘›π‘”π‘”π‘’ π‘šπ‘’. π½π‘’π‘”π‘Ž π‘Žπ‘˜π‘’.”


Setelah Revan siuman mereka kembali hening seperti awal dan sibuk dunianya masing-masing.


Cklek


Pintu terbuka nampaklah seorang dokter yaitu Jay memasuki ruangan.


"Kau sudah siuman, Revan." kata Jay memeriksa tubuh Revan" Kau merasa baik-baik saja? Atau masih ada yang sakit?" tanya Jay.


Revan menggeleng.


"Baiklah, istirahat lah dan jangan banyak gerak takutnya luka mu tak akan kering akibat darah yang keluar"


Jay kembali berjalan ke tempat ranjang Liana.


"Permisi Tuan, saya akan memeriksa dan memberi vitamin untuk pasien," senyum Jay pada Kevin.


"Oh ya silahkan, Dokter." Kevin menyingkir membiarkan Jay melakukan pemeriksaan.

__ADS_1


Dari mengecek luka, alat hingga keadaan. Lalu Jay mengambil suntikan yang ia isi dengan cairan vitamin pada selang infus Liana, karena keadaan pasien belum siuman Jay akan memberikan obat itu sebagai pengganti nasi agar tubuh tetap sehat.


"Dokter, bagaimana keadaan putri saya?" khawatir Kevin.


"Apakah anda Ayah dari pasien?" Jay.


"Ya, saya Ayah kandungnya."


"Bagus lah. Keadaan putri anda baik-baik hanya saja ia tak sadarkan diri, ini semua tergantung diri pasien."


"Lalu? Soal luka nya?"


"Beruntung nya luka pasien tak melukai organ dalam tubuh nya, jadi masih aman tak akan terjadi sesuatu" senyum Jay.


Kevin menghela nafas pendek "Begitu, terimakasih dokter"


"Sama-sama. Kalau begitu, saya permisi."


"Silahkan"


Jay pun pergi, Kevin kembali duduk di kursinya dam menggenggam tangan Liana sambil mengusap kening.


"Ayah tau kau gadis kuat, cepat sadar ya sayang Ayah menunggu mu loh." Kevin mengecup punggung tangan Liana.


Arion hanya bisa diam menatap punggung tangan Liana dan terus ia usap lembut, ingin sekali ia mengatakan sesuatu seperti sang Ayah berbicara pada putrinya barusan namun ntah kenapa ia tak bisa melakukan nya, juga malu.


Kenzo melihat angka jam di layar ponselnya.


19:25.


Ia baru ingat bahwa mereka belum makan apapun sejak kemarin bahkan jarang semenjak hilangnya Liana, ia menatap teman-temannya yang sibuk memainkan ponsel juga tidur. Apakah mereka benar tak merasa lapar?


"Kalian ingin makan sesuatu?" tanya Kenzo membuat sebagian dari mereka menoleh.


"Kenapa?" tanya balik Lucas.


"Aku akan suruh Yohanes untuk cari makan"


"Gak usah, aku tidak lapar" jawab cepat Lucas dan di angguki oleh yang lain.


"Revan," Kenzo menoleh ke dah Revan, kan dia sedang sakit jadi harus makan sesuatu.


"Gak" singkatnya.


"Kau sedang sakit..."


"Biarin, sebelum Liana sadar aku tak akan makan apapun!" tegas Revan dan di setujui yang lain.


Kenzo menghela nafas padahal sebenarnya dia juga tak selera makan cuma yang ia takuti adalah di saat Liana sadar malah mereka nya yang giliran terbaring di rumah sakit karena tidak makan.


"Jika Liana sadar terus kalian nya yang lemah, bagaimana?..."


"Biarin!" serempak mereka kecuali Arion yang dari tadi diam sibuk mengusap tangan Liana dan menatapnya.


Ya sudah Kenzo tak bisa berbuat apa-apa jika sudah kayak gini, dia nya juga keras kepala apalagi teman-temannya.

__ADS_1


Kevin yang menyaksikan itu pun ia sedikit ragu jika mereka hanya bisa menyakiti putrinya, mereka rela tidak makan demi menunggu Liana sadar. Apa bisa di percaya lagi jika sudah begini? Melihat putrinya terbaring membuat mereka khawatir, dari sikap setia mereka ia menjadi berfikir dua kali siapa tau ini hanya kecelakaan kecil yang menimpa putrinya bukan takdir sial nya.


Bahkan ia melihat tatapan sendu dari pria di hadapannya yaitu Arion, ia tau sifat pria ini. Tegas, kasar dan terlihat tak punya hati namun saat ia melihat Liana tatapan tajamnya itu seakan di penuhi oleh ke senduan dan kesedihan. Apa ini artinya mereka benar-benar serius mempunyai perasaan pada putrinya?


__ADS_2